KTH Sido Gede
Budidaya Cabai Jawa KTH Sido Gede, Desa Balongsari, Kecamatan Banjarejo.(Dok. BahteraJateng/PI)

Mengenal Lebih Dekat Budidaya Cabai Jawa KTH Sido Gede

BLORA[BahteraJateng] – Berawal dari undangan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah I Jawa Tengah kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) untuk menghadiri penyuluhan di Randublatung, anggota KTH Sido Gede mulai mengenal budidaya cabai Jawa (Piper retrofractum Vahl).

Hal tersebut disampaikan Ketua KTH Sido Gede, Desa Balongsari, Kecamatan Banjarejo, Saman, dirumahnya sekaligus sebagai sekretariat KTH pada Selasa (10/2).

“Awalnya mengenal cabai jamu (cabai Jawa, red.) saat dapat undangan dari Pak Jati, CDK Wilayah I Jawa Tengah untuk menghadiri penyuluhan kehutanan Provinsi di Randublatung, dan disana dikenalkan tanaman cabai jamu dan diberi bibit 15 polybag yang kami bagi pada tiga anggota kelompok yang minat,” kata Saman pada bahterajateng.

Saman menjelaskan bahwa awal budidaya yang dilakukan oleh anggotanya masih setengah hati karena bayang-bayang hasil yang sedikit.

“Yang saya suruh datang untuk hadir, Pak Sunoto ini. Karena dia sering merantau sebagai kuli proyek. Agar tidak merantau lagi dan mau kerja disini saja, tapi dia tanam dan belum dikelola dengan baik karena bayang-bayang nilai penjualannya,” lanjut Saman.

Ditempat yang berbeda, anggota KTH Sido Gede, Sunoto menyampaikan perjalanannya dalam budidaya cabai jawa.

“Tahun pertama saya tanam dan saya biarkan tumbuh apa adanya. Setelah mulai panen, kebetulan waktu itu harga cukup tinggi, panen cukup banyak, akhirnya saya mulai serius mengembangkannya,” kata Sunoto

Saat ini, Sunoto panen kering cabai Jawa rata-rata 12 kilogram per minggu, atau mencapai Rp. 4.000.000,- per bulan.

“Kalau sekarang, hasil dari budidaya cabai jamu ini setelah empat tahun menanam sekitar 130 tanaman, lebih tinggi dibandingkan hasil saya merantau sebagai pekerja proyek,” ujar Sunoto.

Lebih lanjut, Sunoto menyampaikan bahwa pendampingan yang dilakukan oleh Petugas Penyuluh Kehutanan dari CDK Wilayah I Jawa Tengah, sangat bermanfaat dan menambah wawasan terkait cabai jawa.

“Kami mulai belajar menyemaikan sendiri bibit cabai jamu didampingi petugas penyuluh kehutanan. Dulu kami diberi bibit oleh petugas, kami coba kembangkan dan kami bagi ke anggota yang lain. Kalau ditotal, ada ribuan tanaman cabai jamu di sini (Desa Balongsari-red),” imbuh Sunoto.

KTH Sido Gede yang beranggotakan 20 orang, mulai serius membudidayakan tanaman cabai Jawa di pekarangan rumah masing-masing.

“Sudah ada pedagang/pengepul cabai jamu yang masuk kesini. Berapapun hasil panennya, akan dibeli oleh dia. Karena menurut dia (pengepul, red.), masih kekurangan barang. Padahal, hanya melayani permintaan lokal Solo dan Jogja,” pungkas Sunoto.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *