Zaman Tak Masuk Logika
KENDAL[BahteraJateng] — Suasana khidmat menyelimuti Lapangan Bakti, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal, Jumat pagi (6/6), saat ribuan jamaah mengikuti Salat Idul Adha yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gemuh.
Bertindak sebagai imam, Ustaz Muhammad Abdullah Azzam, sementara khutbah disampaikan dengan penuh penghayatan oleh Ustaz Azhar Arief Sulistyo, Direktur Utama PT Baitus Syifa.

Dalam khutbahnya yang bertajuk reflektif, Ustaz Azhar mengangkat tema “Kita Hidup di Zaman Tak Masuk Logika”. Ia menyoroti kondisi umat hari ini yang, menurutnya, berada dalam zaman yang serba canggih namun kehilangan arah spiritual.
“Zaman mobil tanpa sopir, zaman serba AI. Tapi hati kita beku, mati rasa,” ungkapnya.
Azhar mengajak jamaah merenung atas realita yang terjadi. Banyak orang menyebut nama Allah setiap hari, namun lupa untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Al-Qur’an ada di genggaman, tetapi tak sempat dibaca. Adzan terdengar di mana-mana, tapi salat sering diabaikan.
“Kita bisa bangun jam tiga pagi demi berburu diskon di Tokopedia atau Shopee. Tapi berat sekali untuk bangun tahajud demi cinta Ilahi,” katanya, mengkritik fenomena yang menurutnya menunjukkan pergeseran prioritas umat.
Ia juga menyinggung kebiasaan masyarakat yang lebih sibuk mempercantik feed Instagram dan status WhatsApp, namun lupa memperindah amal sebagai bekal akhirat.
Dalam suasana yang penuh haru, Azhar menyampaikan bahwa banyak dari kita begitu gelisah ketika sinyal internet hilang, tetapi tenang-tenang saja saat hubungan dengan Allah terputus.
“Kita tangisi kehilangan ponsel, tapi tak menangisi hilangnya iman. Kita rela habiskan jutaan rupiah untuk gadget terbaru, tapi enggan bersedekah atau berkurban karena merasa ‘sayang’,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa sering kali Allah baru dicari saat musibah datang, kegagalan menimpa, atau kehilangan dirasakan. Padahal, Allah seharusnya menjadi pusat dalam hidup, bukan sekadar pilihan cadangan.
Ustaz Azhar menegaskan bahwa esensi kurban bukan hanya pada jumlah hewan yang disembelih, tetapi pada kesungguhan hati dan keikhlasan dalam pengorbanan.
Ia mengajak jamaah untuk menjadikan Idul Adha sebagai momentum memperbaiki diri, mengikis hawa nafsu, ego, kemalasan, dan cinta dunia yang membelenggu.
“Jangan sampai gema takbir hanya jadi lantunan lisan, tapi hati tetap jauh dari Allah. Jangan sampai Idul Adha hanya jadi pesta makan daging, tanpa ada pengorbanan sejati dari kita untuk agama ini,” pesannya.
Salat Idul Adha ini turut dihadiri jajaran Pimpinan Cabang Aisyiyah, unsur Muspika Kecamatan Gemuh, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Kegiatan berlangsung lancar, penuh khidmat, dan menyentuh nurani para jamaah yang hadir.(sun)

