Krisis Ulama: Ketika Ilmu Tak Lagi Diam dalam Cahaya
Oleh: Gunoto Saparie
Setiap kali seorang ulama wafat, umat tak hanya kehilangan seorang tokoh, tapi juga kehilangan ketenangan, kedalaman, dan kebijaksanaan. Ulama bukan sekadar penyampai ilmu, tapi penjaga akhlak keilmuan. Ia bicara tanpa gaduh, berpikir tanpa reaksi berlebihan, dan menjadi cahaya redup yang cukup untuk menuntun umat di tikungan malam zaman.
Dalam kepergian mereka, muncul pertanyaan abadi: siapa pengganti beliau? Sayangnya, jawaban memuaskan jarang ditemukan. Regenerasi ulama seolah berjalan lambat. Meski banyak yang naik ke mimbar, tak semua punya kedalaman untuk menelaah kitab klasik dengan penuh kesabaran dan ketundukan ilmu.
Fenomena kini memperlihatkan dakwah yang berubah bentuk: renyah, cepat, dan viral. Pendakwah lahir dari studio dan algoritma, bukan dari pesantren dan sanad. Mereka lebih fasih bermain retorika ketimbang membuka lembar demi lembar Al-Muwatha’ atau Hasyiyah Dasuqi.
Dalam lanskap ini, ilmu bukan lagi hasil tafakur panjang, tapi potongan-potongan konten yang dikemas instan.
Yang hilang bukan hanya ilmu, tapi akhlak keilmuan: kesadaran akan batas tahu, dan keberanian untuk diam saat semua ingin bicara. Ulama sejati memimpin dengan keteladanan, bukan dengan sorotan.
Kini, ketika mereka pergi satu per satu, yang muncul justru panggung-panggung dakwah penuh tata cahaya—namun miskin keteduhan.
Kita tak hanya kehilangan ulama, tapi juga kehilangan waktu untuk menumbuhkan mereka. Sebab, ulama tak lahir dari gelar, melainkan dari perjalanan ilmu yang panjang, sunyi, dan penuh laku batin.
Inilah yang menggentarkan: bukan hanya wafatnya para ulama, tapi kekhawatiran bahwa kita tak lagi mampu melahirkan yang seperti mereka. Maka, regenerasi ulama adalah kerja peradaban—bukan sekadar pendidikan, tapi penumbuhan nilai, adab, dan kesabaran.
Di tengah ruang kosong itu, kita berdiri. Di atas sajadah yang semakin sunyi.
(Gunoto Saparie adalah Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah)

