Dampak Serius Bullying
Oleh : Dewi Setyorini
Hari itu saya bertemu dengan seorang teman. Ia memperkenalkan seorang gadis muda di sampingnya yang ternyata putrinya. Putri semata wayangnya. Wajahnya cantik, kulitnya kuning langsat, tanpa pulasan make up, atau sekedar lipstick. Raut wajahnya flat, tatap matanya kosong, suaranya lirih dan nampak tidak berdaya. Ia seperti hidup enggan mati tak mau, dan tak ada sinar di bola matanya yang masih sangat muda. Usianya saat itu sekitar 20 tahun. Usia yang memasuki masa-masa riang gembira dengan semangat hidup menyala-nyala.
Jika teman sebayanya sedang asyik berjibaku dengan tugas kuliah, asyik nongkrong dengan teman-teman di kafe sambil menghadapi laptop, kuping bertengger earphone yang menyajikan music-musik genre muda khas usia mereka.
Sesekali bercanda dengan rekannya atau mungkin hanya asyik dengan tugas dan sesekali membuka gawainya. Ia justru sebaliknya. Hidupnya seperti laying-layang putus, seperti tak ada lagi harapan untuk hidup.
Ia sudah lama drop out dari kuliahnya di sebuah perguruan tinggi swasta di Semarang. Menurut ibunya, hal itu karena di kelas, ia lebih banyak melamun, kesulitan untuk berkonsentrasi, dan menyendiri sepanjang waktu.
Lebih lanjut ibunya bertutur, jika ia pernah kabur beberapa kali dari rumah. Beberapa kali pula pulang diantar oleh polisi. Berdasarkan informasi dari polisi yang membawanya pulang, saat ditanya dimana rumah dan siapa keluarganya, ia tidak dapat memberikan jawaban yang cukup jelas.
Jikalau pada akhirnya dapat diantarkan ke rumah, karena di dalam kantungnya ada secarik kertas yang selalu diselipkan ibunya, nomor handphone, dan alamat rumah.
Lebih lanjut teman saya bercerita, apa yang terjadi pada putri semata wayangnya. Dengan menerawang ia bercerita. Semua diawali saat putrinya duduk kelas sebelas di sebuah SMA Negeri terkenal di Semarang.
Sebagaimana umumnya remaja seusianya, ia juga memiliki circle yang notabene adalah teman-teman sekolahnya. Bersama-sama dengan teman satu circle ia dimasukkan dalam sebuah grup Whats App.
Awalnya ia tidak pernah tahu apa yang terjadi, hanya saja ia sering mendapati anaknya menangis diam-diam di kamar, nampak tertekan, dan tidak bersemangat sekolah. Namun tidak pernah terpikir olehnya bahwa semua itu adalah awal dari bencana yang mengubah putrinya. Rupanya putrinya menyimpan stress yang berat karena sering dibully teman-temannya.
Ia masuk dalam sebuah jaring laba-laba dan sulit untuk dapat keluar. Puncaknya di kelas tiga saat anaknya mendapat pelecehan secara seksual dari teman-temannya. Hal itulah yang membuatnya shock berat karena terlambat mengetahui.
Dampak Bullying
Semenjak kejadian itu, anaknya hanya tinggal di rumah. Tidak ada aktivitas yang dilakukan, beberapa kali dirujuk ke psikolog, bahkan terakhir dirumahsakitkan, namun belum ada perkembangan yang cukup berarti.
Ini hanya sebagian kecil dari kasus bullying yang berdampak serius pada perkembangan mental dan psikologis seseorang. Dampak yang lebih parah jauh lebih banyak. Bahkan hingga menghilangkan nyawa diri sendiri.
Bullying merupakan fenomena gunung es, data yang ada hanya menggambarkan sepersekian kecil dari kenyataan yang terjadi. Di balik semua kasus itu, dampak psikologis yang dirasakan oleh korban benar-benar tak pernah dapat dibayangkan banyak orang. Penurunan aspek mental dan psikologis yang secara signifikan terjadi.
Rasa tidak berdaya, tidak berharga, ditolak, dan dilecehkan memberikan tekanan psikologis yang besar. Tak semua korban mendapatkan pertolongan yang wajar dan tidak semua pihak mampu memberikan rasa keadilan yang selayaknya terutama bagi korban.
Beberapa kasus yang datang ke psikolog, adalah kasus-kasus yang sudah berpengaruh secara serius dan membutuhkan penanganan yang konsisten dan berkelanjutan. Acapkali yang terjadi, karena beberapa alasan terutama factor finansial untuk membayar jasa profesi psikolog, kadang hanya terhenti untuk satu dua kali sesi pertemuan, membuat proses penanganannya tidak pernah tuntas.
Factor lain adalah kurang sabarnya menjalani proses terapi yang bisa membutuhkan waktu lama bahkan berbulan-bulan. Kesemua itu karena kondisi psikologis yang tidak sama pada semua korban.
Bullying sendiri adalah sebuah tindakan atau perilaku negatif yang dilakukan oleh satu atau lebih orang terhadap orang lain (umumnya siswa), dimana tindakan tersebut mengandung unsur kekerasan yang dilakukan secara terus menerus dan berulang dari waktu ke waktu.
Tindakan ini terjadi karena adanya gap power atau kekuataan antara yang dibully dan yang membully, gap itu terjadi bisa karena perbedaan fisik, ras atau etnis, umur, dan bisa karena status social. Korban dalam hal ini mengalami ketidakberdayaan untuk menolak atau menghindar dari intimidasi kekerasan yang dilakukan oleh orang lain.
Dapat dibayangkan bagaimana hal ini berpengaruh pada korban. Tekanan mental yang terjadi tak semata kekerasan secara verbal, namun juga fisik bahkan seksual. Yang lebih menyedihkan, terjadi dalam kadar intensi yang terus menerus, berkelanjutan, bahkan dengan tingkat yang lebih parah.
Dampak bullying secara signifikan menimbulkan gangguan emosi seperti depresi dan kecemasan. Lebih banyak terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Menyedihkan lagi, perilaku ini terjadi di lingkungan yang semestinya memberikan aspek kenyamanan bagi anak-anak karena dilakukan di sekolah.
Lingkungan pendidikan acapkali menjadi lokasi pembantaian mental dan sekolah bisa jadi tidak mengetahui atau tidak segap memberikan tindakan preventif bagi anak-anak.
Ada banyak penyebab mengapa seseorang menjadi target bullying. Umumnya karena factor kepribadian yang kurang percaya diri, sulit bargaul, banyak menyendiri dan kurang memiliki teman.
Dalam riset psikologi, karena kurang memiliki kompetensi social yang membuatnya sulit membangun pertemanan yang berkualitas termasuk sulit memahami norma social, dan kurang trampil dalam mengekspresikan emosinya.
Factor penyebab lain dari lingkungan keluarga yakni orang tua yang memiliki sedikit bounding emosi atau kurangnya keterlibatan dan perhatian orang tua terhadap aktivitas anak.
Disamping itu juga dari pihak ayah yang jarang hadir dalam aktivitas-aktivitas anak di keseharian, menjadi potensi besar bagi anak untuk menjadi korban bullying.
Tulisan ini saya buat sebagai sebuah himbauan kepada semua pihak untuk lebih memberikan perhatian terhadap lingkungan dimana anak berada terutama lingkungan sekolah. Meski kasus-kasus bullying tidak semata terjadi di sekolah, namun bisa di banyak tempat.
Dampak serius terhadap bullying terhadap perkembangan psikologis anak membuat saya tergerak untuk memanggil semua pihak untuk lebih memperhatikan anak-anak di keseharian erutama di sekolah.Lingkungan sekolah yang idealnya adalah tempat anak belajar dengan senang dan bahagia jangan sampai menjadi tempat yang menakutkan bagi anak. Semoga menjadi perhatian bersama.
(Th. Dewi Setyorini adalah Dosen dan Psikolog tinggal di Semarang)

