Dalang di Balik Kerusuhan Demo 2025: Antara Manipulasi Politik dan Represi Aparat
Oleh: Budi Anwari
Kerusuhan yang mewarnai demonstrasi Agustus 2025 bukanlah kejadian yang muncul secara spontan. Di balik kobaran api, lemparan batu, hingga gas air mata yang menyesakkan, selalu ada “tangan tak terlihat” yang merancang jalannya peristiwa. Narasi yang sempat berkembang menyebut adanya intervensi asing. Namun, analisis yang lebih mendalam justru mengarah pada keberadaan aktor lokal yang memiliki kepentingan besar dalam menggiring arah politik nasional.
Dalang Lokal: Kepentingan Politik yang Terselubung
Dalam sejarah politik Indonesia, kerusuhan kerap dijadikan “alat tawar-menawar.” Demonstrasi yang sejatinya lahir dari aspirasi rakyat sering ditunggangi oleh elite politik yang sedang mencari momentum. Elite ini biasanya:
1. Oposisi politik yang ingin menekan pemerintah agar posisinya melemah.
2. Kelompok bisnis oligarkis yang terdampak kebijakan dan berupaya menggoyang stabilitas.
3. Faksi internal dalam pemerintahan sendiri yang bermain dua kaki: mendukung di depan, namun mengacau di belakang untuk keuntungan jangka panjang.
Kita bisa menengok peristiwa Mei 1998, di mana kerusuhan menjadi jalan transisi politik. Begitu pula dalam beberapa demo besar 2019 dan 2020, muncul bukti bahwa sebagian massa dikerahkan secara terorganisir, bukan semata-mata ekspresi spontan rakyat. Pola ini kembali muncul dalam demo Agustus 2025.
Menariknya, dalam konteks terbaru, sejumlah analisis menyebut adanya oligarki yang sebelumnya dekat dengan Jokowi ikut terseret. Mereka merasa posisinya terancam oleh kebijakan Presiden Prabowo yang lebih menekankan penghematan anggaran, memperlambat pemindahan ASN ke IKN, dan meninjau ulang proyek-proyek besar yang sebelumnya digenjot pada era Jokowi. Ketidakpuasan ini mendorong sebagian oligarki mencoba memanfaatkan instabilitas sosial, termasuk demo, sebagai cara menekan pemerintah baru agar kebijakannya kembali menguntungkan mereka.
Tambahan penting datang dari Ferry Irwandi, yang menegaskan bahwa kerusuhan Agustus 2025 bukanlah rekayasa asing, melainkan ulah aktor lokal. Ia menyebut ada jaringan terorganisir yang memainkan narasi provokatif di media sosial hingga lapangan. Menurutnya, dalang sebenarnya ada “di dalam kekuasaan sendiri,” yakni kelompok yang pernah menikmati keuntungan politik dan ekonomi di era sebelumnya namun kini terancam oleh arah baru pemerintahan (NNC Netralnews).
Pola Rekayasa dan Manipulasi Massa
Dalang lokal biasanya menjalankan strategi yang halus:
1. Mobilisasi massa bayaran: mahasiswa, buruh, hingga preman kota digiring dengan imbalan tertentu.
2. Pengaburan isu: aspirasi asli ditunggangi agenda lain, seperti penciptaan citra chaos untuk mengguncang legitimasi.
3. Provokasi terencana: kelompok infiltrasi memicu kerusuhan dengan lemparan pertama, perusakan fasilitas publik, hingga pembakaran, agar aparat terpancing represif.
Di titik ini, rakyat biasa hanya menjadi “perisai manusia.” Mereka terdorong untuk berhadapan langsung dengan aparat, sementara aktor utamanya tetap bersembunyi di balik layar.
Represi Aparat Kepolisian: Bagian dari Skenario?
Tak bisa dipungkiri, tindakan represif aparat justru sering memperkeruh keadaan. Gas air mata, peluru karet, bahkan kekerasan fisik memicu eskalasi. Pertanyaannya: apakah aparat kepolisian memang gagap mengendalikan situasi, atau ada skenario di mana represi ini sengaja “dibiarkan” agar legitimasi rakyat terhadap aparat semakin terkikis?
Bila benar demikian, maka aparat justru telah masuk dalam jebakan skenario dalang lokal. Kekerasan negara akan menjadi legitimasi baru bagi oposisi politik maupun kelompok kepentingan untuk menyerang pemerintah secara lebih frontal.
Mengurai Jejak Dalang
Beberapa tanda yang bisa dijadikan jejak dalang lokal:
1. Pendanaan: dari mana logistik demo yang begitu besar berasal?
2. Pola komunikasi: seruan demo masif butuh jaringan medsos terstruktur, bahkan buzzer politik.
3. Kepentingan politik: siapa yang paling diuntungkan dari instabilitas ini? Salah satunya oligarki pendukung Jokowi yang dirugikan kebijakan baru Prabowo.
Rakyat Jadi Korban
Pada akhirnya, rakyatlah yang menjadi korban terbesar dari kerusuhan. Pedagang kecil kehilangan penghasilan, pekerja harian terganggu aktivitasnya, mahasiswa jadi sasaran gas air mata, dan fasilitas publik rusak parah.
Sementara itu, dalang lokal tetap aman dalam ruang nyaman, mungkin sedang menonton jalannya kerusuhan dari balik layar sambil menghitung keuntungan politik.
Kesimpulan
Kerusuhan demo Agustus 2025 bukan sekadar “ledakan emosi rakyat.” Ada indikasi kuat keterlibatan aktor lokal, termasuk oligarki pendukung Jokowi yang merasa kehilangan kendali atas kebijakan di era Prabowo.
Pernyataan Ferry Irwandi memperkuat analisis ini: bahwa dalang bukanlah intervensi asing, melainkan kekuatan dalam negeri yang lihai memainkan mobilisasi massa, provokasi digital, hingga memancing represi aparat.
Manipulasi politik ini berjalan seiring dengan represi negara, menjadikan rakyat hanya sebagai pion dalam catur kekuasaan.
(Budi Anwari adalah Pemerhati Politik & Hukum)
Referensi analisis:
1. Aspinall, Edward. Opposing Suharto: Compromise, Resistance, and Regime Change in Indonesia (2005).
2. Ariel Heryanto, State Terrorism and Political Identity in Indonesia (2006).
3. Laporan Komnas HAM tentang pola penanganan aksi massa 2019–2020.
4. RMOL, “Jokowi dan Oligarki Mulai Tekan Prabowo” (2025).
5. The Conversation, “Ancaman Terbesar Bagi Demokrasi Indonesia Bukan Prabowo, Melainkan Oligarki” (2024).
6. Tempo, “JATAM: Cengkeraman Oligarki Menguat dalam Pemilu 2024” (2024).
7. NNC Netralnews, Ferry Irwandi Ungkap Siapa Dalang Sebenarnya di Balik Kerusuhan Demo Agustus 2025 (2025)

