Silaturahim Kebangsaan dan Penguatan Moderasi Beragama di Jateng 2026
Kepala Kanwil Kemenag Jateng Dr Saiful Mujab dan dosen UKSW Pdt Dr Gunawan YS menyampaikan paparan dalam Silaturahim Kebangsaan dan Penguatan Moderasi Beragama di Jateng 2026, di Gedung Museum PKK Jateng, Ungaran Kab Semarang, Kamis (23/4/2025).(Dok. BahteraJateng/SH)

Pemahaman dan Implementasi Moderasi Beragama Harus Ditanamkan Sejak Dini

SEMARANG[BahteraJateng] – Pemahaman dan implementasi moderasi beragama harus ditanamkan sejak dini di kalangan anak-anak usia sekolah tingkat dasar agar pondasi kerukunan antar umat beragama terpelihara dengan baik semakin kokoh.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Tengah Saiful Mujab, mengatakan anak-anak Indonesia saat ini hidup di dua alam, meliputi alam nyata dan alam maya yang didukung dengan berbagai kemudahan dalam mengakses informasi.


“Banjir informasi didunia maya tak dapat dibendung, karena itu anak-anak kita sejak dini perlu dibekali dengan kemampuan dan ketahanan diri melalui upaya pemahaman dan implementasi moderasi dalam beragama, gelombang ancaman kerukunan muncul di jagat maya,” kata Saiful saat menyampaikan paparan dalam Silaturahim Kebangsaan dan Penguatan Moderasi Beragama di Jawa Tengah Tahun 2026 di Gedung Monumen PKK Jateng, Ungaran Semarang pada Kamis (23/4/2026).

Dalam agenda silaturahim yang diselenggarakan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jateng dan diikuti 100 peserta utusan FKUB Kabupaten/kota se-Jateng itu Syaiful mengingatkan jika fondasi kokoh, daya tahan kerukunan tidak mudah goyah.

Menurutnya, keberhasilan bangsa Indonesia membangun kerukunan umat beragama ditengah keragaman itu, salah satunya didukung dengan keberhasilan masyarakat dalam mewujudkan moderasi beragama.

Atas capaian itu, lanjutnya menjadikan Indonesia dipandang oleh dunia internasional sebagai laboraturium kerukunan umat beragama. Warga mancanegara tertarik dengan Indonesia karena warganya mampu membangun komitmen kebangsaan.

Selain itu orang Indonesia ditengah keragaman yang ada dapat saling menghargai, kerjasama, bersama-sama mencegah kekerasan dan menerima tradisi yang ada meski sangat beragam.

“Prestasi ini harus terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya, kami sampaikan terima kasih FKUB yang terus mengawal modal sosial yang tak ternilai harganya ini,” katanya.

Dosen Fakultas Teologia Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Pdt. Gunawan Yuli Suprabowo, mengatakan pondasi kerukunan masyarakat Indonesia itu menjadi benteng ketahanan sosial yang kokoh.

“Jangan sampai modal sosial ini terganggu , karena itu menjadi tugas bersama kita semua untuk mencegah berkembangnya paham intoleransi, politik identitas,saling curiga,ujaran kebencian,” tuturnya.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *