Pembangunan Kawasan Terpadu Pakuwon Semarang Gunakan Teknologi Souldier Pile
SEMARANG[BahteraJateng] – Manajemen proyek pengembangan kawasan terpadu Pakuwon membeberkan sejumlah upaya yang dilakukan dalam proses pembangunan kawasan yang di dalamnya akan berdiri Mal Pakuwon Semarang di kawasan Gombel Lama.
General Manager Project High Rise Pakuwon, Paulus Louw, mengatakan saat ini proyek masih berada pada tahap awal berupa pematangan lahan dan belum memasuki pembangunan fisik gedung utama.
Menurutnya, proses pematangan lahan menjadi tahapan yang sangat penting karena lokasi proyek berada di area patahan aktif dan memiliki karakter tanah gerak.
“Kami masih fokus pada tahap persiapan lahan. Karena ini area patahan aktif, maka proses pematangan lahan menjadi sangat penting,” kata Paulus, seusai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi C DPRD Kota Semarang pada Rabu (17/6).
Ia menjelaskan, pihaknya telah melakukan berbagai kajian bersama para ahli untuk menentukan metode penanganan yang tepat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penggunaan teknologi souldier pile pada proses pematangan lahan.
Teknologi tersebut dinilai mampu menjaga kestabilan lereng melalui pemasangan tujuh lapis souldier pile dengan diameter 1-2 meter dan panjang tiang mencapai 20-40 meter.
“Setiap project pasti ada dampak positif dan negatif. Dampak positifnya jika pembangunan sudah jadi maka akan bisa menyerap puluhan ribu lapangan kerja bahkan ada kenaikan nilai sosial di sekitar proyek,” ujarnya.
Di sisi lain, Paulus mengakui proses pembangunan juga menimbulkan dampak negatif, salah satunya keretakan pada 14 rumah warga di sekitar proyek. Menurutnya, pihak perusahaan telah melakukan sosialisasi, membuka layanan pengaduan melalui call center, serta melakukan verifikasi terhadap rumah yang terdampak.
“Ini ada 14 rumah yang mengalami retak dan kami sudah verifikasi ke warga dan akan kami lakukan perbaikan,” katanya.
Paulus menambahkan, souldier pile bukan merupakan pondasi bangunan, melainkan tiang penahan tanah untuk mengurangi pergerakan tanah di sekitar proyek.
Pematangan lahan ditargetkan selesai pada akhir 2026, sementara kawasan terpadu Pakuwon ditargetkan mulai beroperasi pada 2030-2031.
Sementara itu, HR NGA Pakuwon, Iful Novianto, mengatakan Gombel Lama dipilih sebagai lokasi proyek karena memiliki karakter yang unik, yakni berada di kawasan perbukitan dengan pemandangan laut dan udara sejuk.
“Jadi pengunjung yang datang ke mal itu bisa melihat view laut dan merasakan sejuk di area ketinggian Kota Semarang. Ini yang belum ada mal di Semarang,” ujarnya.

