Trans Metro Deli
Layanan Trans Metro Deli, transportasi publik di Kota Medan.(Dok. Dishub Medan)
|

Transformasi Transportasi Publik Medan Menuju Mobilitas Berkelanjutan

Oleh: Djoko Setijowarno

Kota Medan merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi terbesar di Pulau Sumatera. Aktivitas perdagangan, jasa, pendidikan, dan industri terus berkembang sehingga mendorong mobilitas masyarakat semakin tinggi dari tahun ke tahun. Namun, pertumbuhan tersebut juga membawa konsekuensi berupa meningkatnya kemacetan, konsumsi bahan bakar fosil, dan pencemaran udara akibat dominasi penggunaan kendaraan pribadi sehingga adanya transportasi publik di Medan sangat dibutuhkan.

Data Dinas Perhubungan Kota Medan menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat mencapai sekitar 4,5 juta perjalanan internal setiap hari, ditambah lebih dari 600 ribu perjalanan komuter dari wilayah penyangga. Sayangnya, sekitar 95 persen perjalanan masih menggunakan kendaraan pribadi, sementara angkutan umum hanya melayani kurang dari lima persen perjalanan. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap kendaraan pribadi masih sangat tinggi dan menjadi tantangan besar bagi pembangunan kota yang berkelanjutan.

Kemacetan bukan sekadar persoalan waktu tempuh yang semakin panjang. Dampaknya jauh lebih luas, mulai dari meningkatnya konsumsi energi, tingginya emisi karbon, penurunan kualitas udara, hingga berkurangnya produktivitas masyarakat. Jika kondisi ini terus dibiarkan, biaya sosial dan ekonomi yang harus ditanggung kota akan semakin besar.

Karena itu, transformasi transportasi publik bukan lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Kota Medan memerlukan sistem transportasi yang mampu menjadi alternatif utama bagi masyarakat, bukan sekadar pelengkap. Angkutan umum harus hadir dengan pelayanan yang aman, nyaman, tepat waktu, mudah diakses, serta terintegrasi dengan berbagai moda transportasi lainnya.

Salah satu langkah strategis yang telah ditempuh Pemerintah Kota Medan adalah pengembangan layanan bus listrik. Kehadiran armada berbasis energi bersih ini menjadi tonggak penting dalam pembangunan transportasi perkotaan yang lebih ramah lingkungan. Berbeda dengan kendaraan berbahan bakar fosil, bus listrik tidak menghasilkan emisi gas buang langsung sehingga mampu membantu menekan pencemaran udara dan mengurangi kebisingan di kawasan perkotaan. Selain itu, efisiensi energi yang dimiliki bus listrik juga jauh lebih baik sehingga mendukung upaya transisi menuju penggunaan energi yang lebih berkelanjutan.

Lebih dari sekadar menghadirkan kendaraan baru, penggunaan bus listrik mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendukung target nasional penurunan emisi karbon sekaligus mempercepat pembangunan ekosistem transportasi hijau. Upaya ini sejalan dengan visi Kota Medan sebagai kota metropolitan modern yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kualitas lingkungan dan kenyamanan warganya.

Respons masyarakat terhadap layanan ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sepanjang tahun 2025, layanan Trans Metro Deli berhasil mengangkut lebih dari 2,7 juta penumpang dengan rata-rata sekitar 7.500 penumpang setiap hari. Pada semester pertama 2026, jumlah pengguna kembali meningkat dengan rata-rata harian mencapai lebih dari 8.300 penumpang. Tren tersebut membuktikan bahwa masyarakat mulai memberikan kepercayaan kepada transportasi publik yang memiliki pelayanan lebih baik.

Peningkatan jumlah pengguna tidak terlepas dari berbagai pembenahan yang terus dilakukan. Pemerintah memperluas titik pemberhentian, meningkatkan kualitas halte, memperkuat sistem pembayaran elektronik, serta menghadirkan layanan yang lebih ramah bagi pelajar, lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas. Berbagai inovasi tersebut menjadi faktor penting dalam meningkatkan kenyamanan sekaligus membangun budaya baru menggunakan angkutan umum.

Meski demikian, tantangan ke depan masih cukup besar. Peningkatan jumlah armada saja tidak cukup apabila tidak diikuti integrasi antarmoda yang baik. Transportasi publik harus mampu menghubungkan kawasan permukiman, pusat pendidikan, kawasan perdagangan, perkantoran, hingga simpul transportasi lainnya. Konsep Transit Oriented Development (TOD) perlu terus dikembangkan agar masyarakat dapat berjalan kaki dengan nyaman menuju halte maupun berpindah moda secara mudah dan efisien.

Digitalisasi juga harus menjadi bagian penting dalam transformasi transportasi. Informasi jadwal secara real time, pembayaran non-tunai, hingga sistem manajemen perjalanan berbasis teknologi akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan angkutan umum. Semakin mudah layanan diakses, semakin besar pula peluang terjadinya modal shift, yaitu perpindahan masyarakat dari kendaraan pribadi menuju transportasi publik.

Dalam lima tahun mendatang, pengembangan sistem Bus Rapid Transit (BRT) yang terintegrasi di kawasan Mebidangro menjadi langkah strategis yang patut didukung. Kehadiran jaringan transportasi massal yang terhubung dengan kawasan permukiman dan pusat kegiatan ekonomi akan memperluas akses masyarakat sekaligus mengurangi tekanan lalu lintas di pusat kota.

Keberhasilan transformasi transportasi tidak hanya bergantung pada pemerintah. Partisipasi masyarakat memegang peranan yang sama pentingnya. Setiap warga yang memilih menggunakan transportasi publik sesungguhnya telah berkontribusi mengurangi kemacetan, menghemat energi, menekan emisi karbon, serta menciptakan kualitas udara yang lebih baik bagi generasi mendatang. Perubahan kebiasaan memang membutuhkan waktu, tetapi harus dimulai dari sekarang.

Transformasi transportasi publik di Kota Medan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan kota. Dengan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, Medan memiliki peluang besar menjadi contoh metropolitan yang mampu memadukan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan. Kota yang maju bukanlah kota yang dipenuhi kendaraan pribadi, melainkan kota yang mampu menyediakan transportasi publik yang andal, inklusif, dan ramah lingkungan bagi seluruh warganya.

(Djoko Setijowarno adalah Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *