Menghidupkan Kembali Trans Semarang di Pasar Johar
Oleh: Djoko Setijowarno
Perlunya menghidupkan kembali Trans Semarang di Pasar Johar. Pasar Johar bukan sekadar pusat perdagangan tradisional. Kawasan ini merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan Kota Semarang sekaligus simpul transportasi yang pernah menjadi denyut mobilitas masyarakat. Pada era 1980-an, berbagai trayek Bus DAMRI maupun angkutan kota menjadikan Pasar Johar sebagai titik akhir perjalanan. Aktivitas ekonomi dan transportasi tumbuh secara bersamaan, saling menguatkan dan menciptakan kawasan yang hidup hampir sepanjang hari.
Kini kondisinya jauh berbeda. Setelah berbagai perubahan sistem transportasi perkotaan, pusat integrasi angkutan umum bergeser ke kawasan Simpang Lima dan Balaikota. Sementara itu, halte yang telah dibangun di kawasan Pasar Johar justru tidak lagi dimanfaatkan secara optimal. Padahal, keberadaan infrastruktur tersebut merupakan aset publik yang semestinya dapat mendukung kebangkitan kembali aktivitas perdagangan di kawasan bersejarah tersebut.
Sudah saatnya Pemerintah Kota Semarang mempertimbangkan pengalihan maupun perpanjangan beberapa koridor Trans Semarang agar masuk langsung ke kawasan Pasar Johar. Kebijakan ini bukan sekadar menambah rute, melainkan investasi jangka panjang untuk memperkuat konektivitas kota.
Dari sisi ekonomi, akses transportasi yang mudah akan meningkatkan jumlah pengunjung. Semakin mudah masyarakat menjangkau pasar menggunakan angkutan umum, semakin besar pula peluang meningkatnya transaksi pedagang. Biaya perjalanan yang lebih murah juga memberikan keuntungan bagi pedagang, pekerja pasar, maupun pembeli. Penghematan biaya transportasi pada akhirnya dapat berputar kembali menjadi aktivitas ekonomi di dalam pasar.
Dari sisi sosial, kehadiran Trans Semarang akan menghadirkan transportasi yang lebih inklusif. Lansia, perempuan, penyandang disabilitas, maupun pekerja sektor informal seperti buruh gendong akan memperoleh akses yang lebih nyaman apabila bus dapat berhenti langsung di kawasan pasar. Mobilitas masyarakat tidak lagi bergantung pada kendaraan pribadi atau harus berjalan cukup jauh dari halte di luar kawasan.
Manfaat lainnya adalah optimalisasi infrastruktur yang telah tersedia. Halte yang selama ini terbengkalai dapat difungsikan kembali sehingga investasi pemerintah tidak terbuang sia-sia. Kehadiran Pasar Johar sebagai titik singgah juga dapat membantu mengurangi kepadatan penumpang yang selama ini terkonsentrasi di Halte Simpang Lima dan Balaikota. Distribusi penumpang menjadi lebih merata sehingga pelayanan transportasi publik semakin efisien.
Selain itu, penguatan transportasi massal juga mendukung upaya mengurangi kemacetan dan emisi kendaraan bermotor di pusat kota. Semakin banyak masyarakat beralih menggunakan Trans Semarang, semakin kecil pula ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Kondisi ini sejalan dengan komitmen mewujudkan kota yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Yang tidak kalah penting, Pasar Johar merupakan bagian dari kawasan cagar budaya yang berdekatan dengan Kota Lama dan Masjid Agung Kauman. Integrasi transportasi publik akan memperkuat daya tarik kawasan sebagai destinasi wisata sejarah, religi, dan belanja. Wisatawan akan lebih mudah mengakses berbagai destinasi tersebut tanpa harus berganti moda transportasi berkali-kali.
Menghidupkan kembali rute Trans Semarang menuju Pasar Johar bukan hanya persoalan teknis transportasi. Kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk menghidupkan kembali pusat ekonomi rakyat, memanfaatkan aset publik secara optimal, sekaligus menjaga warisan sejarah Kota Semarang. Dengan perencanaan yang matang, rekayasa lalu lintas yang tepat, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan, Pasar Johar berpeluang kembali menjadi simpul mobilitas yang hidup sebagaimana kejayaannya pada masa lalu. Kota yang maju bukan hanya membangun infrastruktur baru, tetapi juga mampu mengoptimalkan ruang dan fasilitas yang telah dimiliki demi kesejahteraan masyarakat.
(Djoko Setijowarno adalah Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia)

