Pengurus Partai Buruh DIY Ramai-Ramai Mundur, Nilai Arah Perjuangan Tak Lagi Sejalan
YOGYAKARTA[BahteraJateng] – Sejumlah pengurus Partai Buruh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berasal dari berbagai organisasi serikat pekerja resmi mengundurkan diri sekaligus mencabut dukungan terhadap partai pada Minggu (5/7/2026).
Pertemuan yang digelar di Gedung Pertemuan AJB Bumiputera itu dihadiri puluhan anggota serikat buruh yang sebelumnya menjadi bagian dari Partai Buruh. Hadir pula Sekretaris Jenderal Organisasi Rakyat Indonesia (ORI), Ferri Nizarli.
Mantan Ketua Exco Partai Buruh DIY, Irsad Ade Irawan, mengatakan mayoritas pengurus yang memilih mundur merupakan anggota organisasi yang tergabung dalam Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) DIY. Menurutnya, kelompok tersebut selama ini menjadi kekuatan utama Partai Buruh di wilayah DIY.
“Misalnya saya dari serikat pekerja, kemudian ada KSPSI, Federasi TSK, dan sejumlah organisasi buruh lainnya. MPBI yang selama ini menjadi tulang punggung Partai Buruh kini secara resmi menyatakan berhenti dari kepengurusan partai,” ujar Irsad.
Ia menjelaskan surat pengunduran diri akan disampaikan secara resmi paling lambat Senin (6/7/2026). Dengan demikian, para pengurus yang mundur tidak lagi menjadi bagian dari struktur Partai Buruh DIY.
Menurut Irsad, keputusan tersebut dipicu oleh sejumlah persoalan yang berkembang di internal partai. Salah satunya adalah sikap pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Buruh yang dinilai semakin dekat dengan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ia juga menilai belum ada perubahan kebijakan pemerintah yang berpihak kepada kaum buruh, terutama terkait implementasi putusan Mahkamah Konstitusi mengenai mekanisme penetapan upah dan regulasi outsourcing.
“Kami belum melihat adanya perbaikan terhadap kebijakan pemerintah berdasarkan putusan MK terkait dua kali penetapan upah maupun aturan outsourcing,” katanya.
Selain itu, perubahan lokasi aksi Hari Buruh Internasional di Jakarta yang semula direncanakan di depan Gedung DPR RI kemudian dipindahkan ke Monas turut menjadi perhatian kelompok serikat pekerja tersebut.
“Ada hal yang kami anggap janggal ketika ORI dan KSPSI keluar dari Partai Buruh. Kami mempertanyakan bagaimana proses demokrasi berjalan di dalam partai. Karena itu kami di Yogyakarta memutuskan mencabut dukungan,” ujarnya.
Meski memutuskan hengkang, Irsad menegaskan pihaknya tidak mempermasalahkan apabila nantinya ada pihak lain yang melanjutkan kepengurusan Partai Buruh DIY. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan bentuk sikap politik yang diambil setelah melalui berbagai pertimbangan.
Sementara itu, Sekjen ORI Ferri Nizarli, menilai gelombang pengunduran diri tersebut merupakan buntut dari persoalan internal yang telah berlangsung cukup lama tanpa penyelesaian.
“Kami sudah bersama Partai Buruh selama lima tahun. Namun berbagai persoalan tidak kunjung selesai. Karena sudah tidak ada lagi kesamaan pandangan mengenai arah perjuangan, kami memutuskan untuk mencabut dukungan,” kata Ferri.
Ia mengajak seluruh serikat pekerja untuk tetap memperkuat gerakan buruh melalui ORI sebagai wadah politik yang dibentuk KSPSI guna mengawal kepentingan pekerja.
“Perjuangan kita tetap sama. Apa pun benderanya dan apa pun pilihan partainya, tujuan kita tetap memperjuangkan hak-hak buruh,” ujarnya.
Ferri menambahkan ORI akan terus diperkuat sebagai kendaraan politik bagi kalangan pekerja dalam mengawal berbagai isu ketenagakerjaan dan menghadapi kontestasi politik di masa mendatang. (day)

