Mohamad Astiadi Maryono
Mohamad Astiadi Maryono, Kepala Desa sekaligus Pembina PKK Bumi Kartini Desa Ngampel, Blora.(Dok BahteraJateng/PI)

Desa Ngampel Merubah Sampah Menjadi Emas

BLORA[BahteraJateng] – Merubah sampah daur ulang menjadi emas merupakan strategi yang diterapkan oleh PKK BUMI KARTINI (Buah Manis Karya Wanita Tani) Desa Ngampel, Kecamatan Blora untuk memilah sampah mulai dari rumah tangga.

Hal tersebut disampaikan Mohamad Astiadi Maryono, Kepala Desa sekaligus Pembina PKK Bumi Kartini Desa Ngampel, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, dirumahnya pada hari Jum’at (2/1).

“Pengelolaan sampah yang memiliki nilai jual oleh ibu-ibu PKK Bumi Kartini melalui Unit Usaha Bank Sampah Ngampel Asri, bekerjasama dengan Pegadaian sejak tahun 2023, lewat tabungan investasi emas,” kata Astiadi kepada bahterajateng.

Atas gebrakannya itulah, Desa Ngampel memperoleh penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah sebagai Desa Mandiri Sampah Kategori Muda tahun 2023.

“Sampai saat ini, emas yang didapat secara akumulasi ya mas, kira-kira sekitar 27 gram. Padahal waktu kita MoU dengan Pegadaian, harga emas masih berkisar di sembilan ratusan ribu rupiah per gram. Sekarang nilai emas per gram sekitar dua jutaan,” ujar Astiadi, sambil tersenyum.

Lebih lanjut Astiadi menyampaikan bahwa selain mengelola sampah yang memiliki nilai jual, anggota PKK menanam tanaman sayur dipekarangan.

“Jadi program yang ada di PKK, salahsatunya menjalankan program P4L (Program Pemanfaatan Pekarangan & Pengembangan Pangan Lokal) dari Pabrik Semen Indonesia tahun 2020 sampai 2022 dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam aneka sayuran di pot, galon air, dan Polibag. Program itu selesai, kebiasaan itu masih berlanjut hingga sekarang dengan swadaya anggota PKK,” kenang Astiadi.

Menanam berbagai macam sayuran di pekarangan, selain sebagai bagian ketahanan pangan, juga sebagai penambah pendapatan keluarga.

“Jadi, kalau pas harga mahal, contohnya terong. Saat ini harganya per buah dua ribu, biasanya dijual langsung. Kalau murah, satu zak harga empat ribuan, kita olah lagi menjadi produk lain yang memiliki nilai jual lebih tinggi,” pungkas Astiadi.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *