Jenama Fashion BIASA Rayakan 30 Tahun Melalui Koleksi Rhapsody
JAKARTA [BAHTERA JATENG]- Jenama fashion BIASA menghadifkan koleksi ekslusif Rhapsody di Jakarta Fashion Week 2025.
Desainer sekaligus pemilik galeri seni, Susanna Perini mengungkapkan, BIASA didirikan tahun 1994 memiliki kombinasi
unik antara visi artistik, keahlian, dan koneksi budaya yang telah membuatnya bertumbuh dari tahun ke tahun.
“Memadukan kerajinan lokal dengan gaya minimalis Italia dan sentuhan modern, jenama ini telah menciptakan gaya unik menarik bagi audiens lokal dan internasional,” terang dia, Jumat (1/11).
Kali ini menampilkan koleksi ‘Rhapsody‘ menggambarkan visi Pendiri dan Direktur Kreatif, Susanna Perini, di balik jenama ini.
“Sebuah karya berupa satu gerakan bersifat episodik namun terintegrasi, mengalir bebas dalam struktur, menyajikan berbagai suasana hati, warna, dan nada suara sangat kontras; kebebasan dalam bentuk dengan suasana inspirasi spontan dan rasa improvisasi,” terang dia.
Mencerminkan esensi musikal dan puitis ini, ‘Rhapsody‘ BIASA ditampilkan melalui tiga cerita saling berhubungan: Harmony, Nature, dan ‘Sangha’ (komunitas).
Setiap narasi dijalin dengan indah dan rumit untuk menghadirkan koleksi mengedepankan prinsip-prinsip utama dari jenama ini, sejalan dengan filosofi, warisan, dan gaya khas BIASA, yaitu ‘Extraordinary Simplicity.’
Harmoni ditampilkan melalui ‘Saput Poleng’ asal Bali. Sebuah motif kotak-kotak suci melambangkan filosofi dualisme timbal balik terang dan gelap, suka dan duka, baik dan jahat.
Disajikan dalam warna hitam dan putih mewakili sejarah BIASA, warna-warna kontras ini merupakan simbol keseimbangan dan harmoni.
Dikenal dengan fokusnya pada seni buatan tangan, setiap koleksi ini menampilkan hasil karya tangan rumit. Mulai dari bordir dan appliqué hingga macramé serta sentuhan akhir dijahit dengan tangan.
Koleksi BIASA khas dihidupkan kembali dengan memadukan unsur baru tetap menyanjung nilai penting di masa lalu, rok dalam berlapis dan memiliki banyak fungsi menjadi aksesori tambahan untuk mengubah busana resor digemari menjadi nuansa malam glamor.
Dibuat dengan lapisan transparan dan jaring dari bahan katun organdi, linen, dan chiffon, siluet ini terlihat romantis, memikat, dan edgy.
Bustier dari pita dijahit tangan dipadukan dengan rok, celana, dan sarung bermotif polkadot. Gaun berbahan katun organdi dengan rok dalam berlapis dihiasi dengan koin dari bahan linen dipotong dan dijahit tangan.
Gaun dan atasan berjaring terbuat dari pita buatan tangan serta bralette dan rok berumbai macramé tenunan tangan digabungkan dengan atasan dan rok linen.
Kaftan khas dengan detail appliqué dipasangkan dengan sandal fisherman pita. Aksesoris dihadirkan berupa kalung dan gelang resin tebal, serta tas monokrom dan origami dengan warna kontras.
Unsur Alam ditampilkan melalui karakter, kualitas, dan simbolisme alam diinterpretasikan lewat warna indigo. Berawal dari keinginan dasar manusia untuk belajar dan berkembang, hingga keindahan dan keselarasan lingkungan alami. Koleksi ini merayakan komitmen BIASA terhadap slow fashion dan praktik ramah lingkungan sebagai bagian penting dari visi dan filosofinya.
Dengan menggunakan pewarna dan bahan alami, siluet oversized anggun dan nyaman dari atasan tanpa lengan, kemeja, celana longgar, dan rok yang dicelup warna indigo dan putih, disajikan dalam bahan katun, linen, dan sutra.
Kaftan dan gaun longgar memiliki potongan asimetris dengan warna indigo tua dipadankan dengan gelang kayu besar, kalung rantai, dan fisherman sandal bermotif indigo.
Syal katun dan sutra, sarung dan kemeja dihiasi dengan motif garis dijahit dengan tangan dan motif polkadot disulam, dipadukan dengan bucket bag berbahan denim dan kulit tembakau.
Sedangkan, ‘Sangha’ berasal bahasa Sansekerta dari ’komunitas’ dan ajaran utama agama Buddha. Mengambil inspirasi dari filosofi praktik ini, ‘Sangha’ dalam BIASA merepresentasikan keindahan komunitas didedikasikan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai sama yaitu kesadaran, pengertian, penerimaan, cinta, dan harmoni.
Nuansa kaya dengan warna-warna bumi pekat terlihat pada siluet oversized berlapis. Mulai dari Indian red hingga nuansa oranye seperti; marigold, tangerine, dan tango, serta warna alami bumi dalam sabia (pasir) dan tanah (cokelat).
Kaftan oversized, kemeja, dan mantel dipadukan dengan celana dengan siluet balon. Gaun bervolume dengan rok dalam besar menunjukkan tampilan memberikan kebebasan bergerak tanpa batas dan effortless. Aksesoris termasuk sandal feminin dengan detail marigold, sepatu ballerina berbahan suede berwarna-warni, serta gelang dan kalung kayu.
Secara keseluruhan, ‘Rhapsody‘ adalah koleksi unik mencerminkan masa lalu, masa kini, dan masa depan BIASA seiring perayaan hari jadinya yang ke-30.
Koleksi ini menghormati perjalanan BIASA selama bertahun-tahun sambil tetap setia kepada filosofi dan visinya.
“Saya sangat senang melihat rencana kami terwujud saat kami mempersembahkan ‘Rhapsody’ di Jakarta Fashion Week dalam kesempatan istimewa ini,” kata Susanna Perini.
Dia menilai, kematangan dalam koleksi ini terasa effortless; sederhana secara konseptual, namun kerajinan tangan rumit, kain ringan, dan karakter artis mewakili BIASA.
“Koleksi ini adalah penghargaan kepada kota yang gemerlap ini dan selalu berubah, serta semangat luar biasa dari komunitas terhubung dengan kami di sini,” tegas dia.

