Kisah Inspiratif Wisudawan UIN Walisongo: Perjuangan Muhammad Amin Hambali, Tunanetra Penuh Semangat yang Hobi Menulis

SEMARANG[BahteraJateng] – Wisuda Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo kali ini menghadirkan kisah inspiratif wisudawan dari Muhammad Amin Hambali, penyandang disabilitas tunanetra yang berasal dari Desa Jlumpang, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang. Di tengah keterbatasan penglihatan, Amin tetap semangat meraih impiannya, menunjukkan bahwa hambatan fisik tak menghalangi prestasi.

Muhammad Amin Hambali menamatkan studinya di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo. Sejak awal kuliah, ia aktif menulis dan berhasil meraih beberapa penghargaan, termasuk juara lomba cerpen dan tulisan favorit pembaca. Karya-karyanya kerap diterbitkan di berbagai media, menunjukkan bahwa semangat menulisnya tak pernah padam.

Didukung beasiswa dari Sahabat Mata, Amin memilih jurusan KPI karena membuka peluang bagi mahasiswa difabel di UIN Walisongo. Ia sukses menyelesaikan skripsinya yang bertajuk “Website Kartunet.com sebagai Media Difabel Netra dalam Mengekspresikan Diri Lewat Karya Tulis Bermuatan Islam.” Lewat penelitian ini, ia ingin memberi inspirasi pada sesama difabel agar percaya diri dalam berkarya.

Awalnya, Amin tertarik dengan psikologi untuk memahami pola pikir manusia. Namun, ia kemudian menyadari bahwa komunikasi adalah kunci dalam berinteraksi dan menyampaikan gagasan. “Belajar tentang komunikasi memberi saya kemampuan untuk menyampaikan perasaan dan pikiran lebih efektif,” ujarnya.

Perjalanan Amin di kampus tak selalu mudah. Tugas akhir menjadi tantangan terbesar, terutama dalam mencari referensi. “Teknologi membantu, tapi kadang saya merasa terisolasi,” kenangnya. Meski begitu, dukungan teman-temannya saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) memberinya kekuatan, membuatnya merasa diterima seperti keluarga.

Setelah lulus, Amin berencana mendampingi orang tua yang sudah lanjut usia serta melanjutkan minatnya dalam menulis, termasuk menyelesaikan novel yang tertunda. Ia berpesan pada sesama mahasiswa untuk menemukan motivasi dalam diri sendiri dan selalu ingat akan orang-orang yang mendukung mereka. “Motivasi terbaik datang dari dalam diri. Ingatlah orang-orang yang selalu berharap dan berdoa untuk keberhasilan kita,” pungkas Amin.

Cerita inspiratif Amin menjadi pengingat bahwa semangat dan ketekunan adalah kunci utama untuk mencapai impian, tanpa memandang keterbatasan.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *