Melihat Lebih Dekat Sentra Pembuatan Tempe Bungkus Daun Ploso
BLORA[BahteraJateng] – Dusun Ngetrep sudah cukup lama dikenal dengan sentra produksi tempe rumahan yang dibungkus daun ploso (Butea monosperma, red.) dan tetap mempertahankan proses produksinya secara tradisional.
Hal tersebut disampaikan Mbah Pardi (70), salahsatu pengrajin tempe bungkus daun ploso, dirumahnya yang sederhana di Dusun Ngetrep, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan pada Kamis (26/2).
“Kalau ada tempe di pasar berbungkus daun ploso, sudah bisa dipastikan hasil produksi sini (Dusun Ngetrep, red.),” kata Mbah Pardi pada BahteraJateng.
Usaha produksi yang digeluti Mbah Pardi selama seperempat abad lebih ini, atau tepatnya 28 tahun mengisahkan suka dukanya.
“Dulu bisa produksi dengan modal 30 kilogram kedelai. Sekarang sekitar 14 kilogram kedelai semenjak banyaknya pedagang tempe di pasar,” ujar Mbah Pardi.
Diusianya yang tidak lagi muda, Mbah Pardi masih aktif mencari daun ploso yang tumbuh menyebar di hutan jati milik Perum Perhutani, menggunakan kendaraan roda dua.
“Mencari daun ploso yang sesuai ukuran untuk membungkus tempe, bisa sampai jauh. Sampai Wonocolo, kurang lebih berjarak 60 kilometer dari rumah, juga pernah,” ucap Mbah Pardi.
Ketika disinggung terkait harga kedelai yang naik turun, istri Mbah Pardi menambahkan bahwa usaha produksi tempe masih ada hasilnya, meski tipis keuntungannya.
“Harga kedelai saat ini Rp. 10 ribu per kilogram, satu kilogram kedelai, bisa jadi 10 lebih bungkus tempe, harga tempe per bungkus antar Rp. 2 ribu – Rp. 3 ribu, tergantung permintaan bakul. Dan masak kedelainya pakai kayu bakar. Untuk menambah pendapatan, biasanya Mbah Kakung jual daun ploso, satu zak Rp. 35 ribu,” pungkas istri Mbah Pardi.(day)

