Satupena Semarang Luncurkan Antologi “Anakku Harapanku”, Tegaskan Pentingnya Sastra Keluarga yang Reflektif
SEMARANG[BahteraJateng] – Komunitas sastra Satupena Kota Semarang meluncurkan antologi puisi bertajuk “Anakku Harapanku” dalam sebuah acara peluncuran dan diskusi buku yang digelar di Ruang Audio-Visual Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Jalan Prof. Soedarto, S.H., pada Rabu (23/7).
Acara tersebut dihadiri para penyair, pegiat literasi, seniman, serta masyarakat umum, dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Muhammad Ahsan.

Ketua Satupena Kota Semarang, Fadjar Setiyo Anggraeni, dalam sambutannya menyampaikan bahwa sastra anak dan keluarga saat ini dinilai masih minim ruang reflektif.
Menurutnya, hal itu menjadi alasan penting diterbitkannya antologi “Anakku Harapanku” sebagai wadah jujur bagi para penulis untuk menyampaikan harapan, doa, dan nilai-nilai keluarga melalui puisi.

“Satupena ingin menjadi ruang bagi suara batin yang jujur. Kami menjaring penulis secara terbuka, tanpa batasan bentuk maupun latar belakang. Ada ibu rumah tangga, dosen, pelajar, hingga mahasiswa. Yang kami prioritaskan adalah kejujuran isi dan batin dari setiap puisi yang ditulis,” ujar Fadjar, yang juga menjadi penyunting buku.
Ia menambahkan bahwa dalam buku ini, setiap puisi diberikan ulasan reflektif oleh penyunting, bukan sebagai bentuk kritik, tetapi sebagai penghormatan dan bentuk apresiasi terhadap karya penyair.
Dalam diskusi buku yang dipandu Linda Mutiara Lumbang Tobing, Fadjar menjelaskan bahwa tema besar dalam buku ini adalah anak sebagai lentera dan keluarga sebagai akar kehidupan.
Puisi-puisi yang terangkum di dalamnya merekam berbagai suasana—doa, tawa, keheningan, dan pertumbuhan—yang mencerminkan kehidupan keluarga. Nuansa lokal Semarang juga sengaja dihadirkan sebagai identitas kultural.
“Rumah, kampung, dan kota menjadi ruang batin dalam puisi-puisi ini. Tradisi, nilai budaya, dan kearifan lokal hadir dalam tiap bait,” imbuhnya.
Sastrawan Gunoto Saparie yang turut hadir dalam diskusi menyebut puisi-puisi dalam buku ini sebagai puisi diafan, yakni puisi yang terang dan mudah dipahami.
Menurutnya, karena tema telah ditentukan, para penyair cenderung menulis secara komunikatif dan langsung, tanpa banyak menggunakan simbol-simbol yang rumit.
Namun Gunoto juga mengingatkan bahwa puisi yang baik tetap memerlukan pengolahan stilistik.
“Bahasa puisi harus dipoles, menggunakan gaya bahasa, pencitraan, pengulangan bunyi, dan sebagainya. Sayangnya, sebagian penyair dalam buku ini tampaknya mengabaikan itu,” jelasnya.
Diskusi buku ini juga diisi tanggapan dari Ketua Bengkel Sastra Taman Maluku Sulis Bambang, jurnalis Warsit, dan pengurus Satupena Dewi Tri Nugrahini.
Mereka menegaskan pentingnya semangat menulis dan literasi keluarga. Sulis mendorong generasi muda untuk tetap menulis, terlepas dari apakah tulisannya dibaca orang atau tidak.
Sementara Warsit mengutip pernyataan sastrawan Pramoedya Ananta Toer bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi jika tak menulis, ia akan hilang dari sejarah.”
Acara ditutup dengan penampilan pembacaan puisi oleh Yusri Yusuf, Agung Wibowo, dan Siti Fatimah, serta pertunjukan musik dari Kwartet Coustik yang dipimpin vokalis Henny.
Suasana makin meriah ketika sejumlah peserta seperti Susi Kapas, Maya Dewi, dan Mohammad Agung Ridlo ikut bernyanyi dan membacakan puisi secara spontan.(sun)

