Tetap Mengaspal Sambil Menggapai Asa, Kisah M Kanzul Fikri Wisudawan Magister Terbaik UIN Walisongo
SEMARANG[BahteraJateng] — Wisuda Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Tahun 2026 bukan sekadar seremoni akademik. Di balik toga dan senyum para lulusan, tersimpan kisah perjuangan inspiratif.
Salah satunya datang dari Muhammad Kanzul Fikri, wisudawan Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam yang membawa cerita keteguhan dan harapan.
Dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Program Doktor ke-41, Magister ke-66, dan Sarjana ke-99 di Aula II Kampus 3, Gedung Tgk. Ismail Yaqub pada Sabtu (7/2). Sebanyak 1.277 wisudawan dikukuhkan, terdiri atas 13 doktor, 80 magister, dan 1.186 sarjana.
Sidang senat dibuka Ketua Senat Akademik Prof. Abdul Djamil dan dipimpin Rektor UIN Walisongo Prof. Nizar.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan serta menegaskan bahwa wisuda merupakan titik temu perjuangan, doa, dan harapan masa depan.
Prof. Nizar juga berpesan agar para lulusan menjadi duta terbaik kampus melalui karya dan akhlak di tengah masyarakat.
“Promosi terbaik UIN Walisongo bukan lewat pamflet atau baliho, melainkan melalui prestasi dan akhlak para alumninya,” tegasnya.
Pesan itu seolah hidup dalam perjalanan Kanzul Fikri. Sejak menempuh pendidikan S1 hingga S2, ia harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja sebagai pengemudi ojek daring.
Jalanan kota menjadi saksi bagaimana ia mengumpulkan biaya pendidikan sekaligus mempertahankan mimpinya.
Lulusan Magister KPI ini menuntaskan studi hanya dalam tiga semester dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Namun, capaian itu tidak datang tanpa perjuangan dan air mata.
“Sepanjang perjalanan saya benar-benar menangis. Saya teringat liku-liku kuliah S2 yang penuh plot twist selama tiga semester ini. Awalnya target saya sederhana, hanya ingin segera lulus agar tidak membayar UKT lagi, tapi Allah justru memberi hadiah luar biasa ini,” kenangnya.
Kanzul berasal dari keluarga sederhana di pinggiran Rawa Pening, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Ayahnya seorang pengemudi ojek daring, sementara almarhumah ibunya adalah guru honorer RA.
“Bapak dan Ibu selalu berpesan, mereka tidak bisa mewariskan harta, hanya ilmu yang bisa diwariskan. Gelar ini adalah kado untuk mereka,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Secara akademik, Kanzul juga menunjukkan kualitas riset melalui tesis berjudul “Tradisi Sedekah Rawa Pening di Era Digital.” Penelitian itu mengungkap bagaimana masyarakat Desa Rowoboni mempertahankan nilai religius dan ekologis di tengah arus digitalisasi.
“Tradisi lokal ini tidak mati, tetapi bertransformasi menjadi lebih religius dan rasional berkat peran generasi muda yang memanfaatkan media digital sebagai ruang pelestarian baru,” jelasnya.
Kisah Kanzul Fikri menegaskan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya milik mereka yang serba berkecukupan. Dengan kerja keras, doa, dan keteguhan, jalan menuju mimpi tetap terbuka.
Di balik toga wisuda, selalu ada cerita tentang perjuangan panjang yang jarang terlihat. Dan dari jalanan yang ia lalui setiap hari sebagai pengemudi ojek daring, Kanzul membuktikan satu hal: mimpi tidak pernah berhenti bergerak, selama kita terus melangkah mengejarnya.


kerennnn