100 Hari Kerja Luthfi–Yasin: 38 Program Sudah Jalan, 73 Siap Dijalankan Tahun 2025
SEMARANG[BahteraJateng] – Dalam 100 hari kerja pertama sejak dilantik pada 20 Februari 2025, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen (Luthfi-Yasin) menunjukkan langkah cepat dan terukur dalam menjalankan visi dan misi mereka.
Dari total 136 program kerja yang telah dirancang, sebanyak 38 program atau 28 persen sudah terlaksana, 73 program atau 54 persen telah masuk dalam anggaran dan siap dijalankan pada 2025, sementara sisanya akan dipercepat pelaksanaannya.
Sejak hari pertama menjabat, Luthfi langsung terjun ke 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah untuk berdialog dengan masyarakat dan menyerap kebutuhan riil warga.
Hal itu dilakukan guna memastikan bahwa program-program yang dilaksanakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, terutama terkait layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, ketersediaan pangan, serta kesejahteraan sosial.
“Turun langsung ke masyarakat, ketahui akar persoalannya dan segera eksekusi,” ujar Luthfi.
Beberapa program prioritas telah dijalankan dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah satunya adalah asuransi kesehatan gratis bagi warga miskin, yang menjadi bagian dari upaya pemerintah provinsi memastikan akses layanan kesehatan merata.
Tak hanya itu, program Speling (Spesialis Keliling) juga diluncurkan untuk mempermudah masyarakat di pedesaan mendapatkan layanan dokter spesialis secara gratis. Hingga saat ini, program ini telah menjangkau lebih dari 2,3 juta warga.
Di sektor pendidikan, Pemprov Jateng telah merealisasikan program sekolah gratis untuk SMA/SMK swasta. Sebanyak 5.004 siswa dari keluarga kurang mampu menerima bantuan pendidikan senilai Rp2 juta per siswa per tahun. Ini merupakan wujud keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan inklusif dan merata, tidak hanya bagi sekolah negeri tetapi juga swasta.
Untuk mengatasi persoalan air bersih, terutama di daerah pesisir, Pemprov Jateng telah memasang alat desalinasi air payau di Rusun Slamaran, Pekalongan. Program ini memberikan manfaat langsung kepada sekitar 1.000 warga yang sebelumnya kesulitan mendapatkan air layak konsumsi.
Pemerintah juga mendorong pemberdayaan lembaga pendidikan berbasis agama melalui program Pesantren Obah. Program ini mengintegrasikan penguatan karakter dan pengembangan ekonomi pesantren, agar mandiri dan mampu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat.
Di bidang transportasi, Pemprov menurunkan tarif Trans Jateng sebesar Rp1.000 bagi pelajar, buruh, penyandang disabilitas, dan lansia, demi meringankan beban transportasi kelompok rentan dan produktif.
Kebijakan lain yang menyentuh kalangan buruh adalah pembentukan koperasi buruh, yang memungkinkan pekerja membeli kebutuhan pokok langsung dari produsen dengan harga lebih murah. Upaya ini bertujuan menjaga daya beli buruh dan menekan disparitas harga.
Untuk kalangan muda, diluncurkan Kartu Zilenial bagi pemuda usia 16–30 tahun. Kartu ini menjadi akses untuk pelatihan vokasi, wirausaha, pengembangan minat dan bakat, serta koneksi antar komunitas.
Pemprov juga menggulirkan program Kecamatan Berdaya dengan membentuk creative hub di 573 kecamatan di Jawa Tengah sebagai pusat inovasi, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat berbasis lokalitas.
Pemerintah juga membentuk berbagai forum kolaborasi strategis seperti Forum Rektor, Forum Senayan, dan Forum Berlian. Forum-forum ini diharapkan mempercepat pelaksanaan program pembangunan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, legislatif, dan pelaku industri.
Capaian lainnya adalah pengembalian status internasional dua bandara di Jawa Tengah. Bandara Ahmad Yani di Semarang kembali melayani rute internasional untuk penumpang umum, sedangkan Bandara Adi Soemarmo di Solo ditetapkan sebagai bandara internasional khusus haji dan umrah.
Selain itu, Pemprov juga telah menandatangani kerja sama dengan 44 perguruan tinggi untuk menjalankan 29 program strategis hingga 2029. Program ini mencakup pendampingan UMKM, desa wisata, pendidikan kebangsaan, dan pengembangan ekonomi lokal.
Beberapa program lain yang sudah berjalan termasuk: jambanisasi untuk memperbaiki sanitasi keluarga kurang mampu, peningkatan kualitas jalan provinsi guna mendukung konektivitas antarwilayah, normalisasi muara kapal tradisional untuk mendukung sektor perikanan dan kelancaran distribusi hasil tangkap, pelatihan UMKM milenial untuk mendorong kewirausahaan anak muda dan penerapan digitalisasi layanan publik di berbagai sektor.
Untuk 2025, beberapa program besar sudah dianggarkan dan siap dijalankan, antara lain: pengembangan SMA/SMK unggulan di tiap kecamatan, peningkatan kesejahteraan atlet dan pelatih olahraga berprestasi, penanganan bullying dan kekerasan anak di sekolah secara sistemik, pembangunan Giant Sea Wall untuk mengatasi abrasi dan banjir rob di kawasan pesisir utara Jateng, reaktivasi ekonomi desa melalui program BUMDes plus dan digitalisasi desa wisata untuk menarik wisatawan dan investasi.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Luthfi–Yasin juga menjamin bahwa semua program disiapkan dengan perencanaan matang, penganggaran terukur, dan mekanisme evaluasi berkala.
Luthfi menyampaikan bahwa pihaknya mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam setiap kebijakan publik.
“Kami tidak ingin sekadar janji. Yang kami lakukan sekarang adalah kerja nyata untuk masyarakat. Target kami, hingga 2029, seluruh program terselesaikan dan masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung,” tegas Gubernur Ahmad Luthfi.(sun)

