Screenshot
| |

Trend Meningkatnya Solo Travel di Indonesia

JAKARTA [BahteraJateng]- Scoot, maskapai penerbangan bertarif rendah  merupakan anak perusahaan Singapore Airlines (SIA) mengumumkan temuan dari survei terkait tren solo travel.

Director of Marketing, Communications & Loyalty Scoot, Agatha Yap mengatakan,


hasil survei ini tidak menggambarkan berkurangnya minat terhadap wisata kelompok atau keluarga.

“Cara kita bepergian kini mencerminkan ekspresi individualitas dan memungkinkan proses penemuan diri,” kata dia.


Dia melanjutkan, hasil survei Scoot memberikan gambaran tentang perilaku, motivasi, preferensi dan harapan segmen wisatawan solo travel sedang berkembang saat ini.

 

“Dengan jaringan luas Scoot, khususnya di kawasan Asia-Pasifik, kami sangat antusias berperan membuka akses ke destinasi paling diminati maupun yang belum banyak dijelajah wisatawan,” kata dia.

Selain itu, memberdayakan lebih banyak wisatawan, baik individu maupun grup, agar dapat menjelajahi dunia dengan lebih percaya diri dan penuh semangat.

 

Pelaksana survei YouGov didukung oleh Scoot dan dilakukan terhadap lebih darip5.000 responden di lima negara di kawasan Asia-Pasifik (APAC). Lebih dari 1.000 responden dari Indonesia untuk mengungkap tren solo travel sedang berkembang di seluruh wilayah ini.

Hasil survei Scoot memberikan wawasan tentang pola pikir para wisatawan independen masa kini. Meliputi mengeksplorasi demografi parawisatawan, motivasi dan pertimbangan melakukan perjalanan, perilaku dalam merencanakan liburan serta sikap budaya.

 

Dari berwisata dalam grup besar  diorganisir agen perjalanan hingga berwisata dalam grup kecil seperti bersama keluarga dan teman. Cara masyarakat bepergian telah banyak berubah selama bertahun-tahun.

Dulu dianggap sebagai kegiatan eksklusif, kini solo travel semakin menjadi gaya hidup umum bagi wisatawan Indonesia, terutama di kalangan generasi muda.

Hampir tujuh dari 10 orang Indonesia (68 persen responden dari Indonesia) telah melakukan solo traveldalam setahun terakhir. Mayoritas responden (92 persen) berencana melakukannya dalam 12 bulan ke depan.

Kelompok milenial berada di garis depan perubahan ini dengan proporsi 41 persen dari para wisatawan solo travel saat ini maupun berencana melakukan solo travel. Angka ini sedikit dibanding rata-rata negara di kawasan Asia-Pasifik (40 persen).

 

Solo travel sangat direkomendasikan oleh mereka telah mencobanya. Di Indonesia, 94 persen responden menyatakan akan merekomendasilan solo travel kepada orang lain. Tren ini berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup lebih luas. Mulai dari meningkatnya tekanan dalam pekerjaan dan di rumah hingga semakin besarnya perhatian terhadapkesejahteraan pribadi.

Sebanyak 49 persen para wisatawan solo travel dari Indonesia menyebut kebebasan dan fleksibilitas dalam menyusun rencana perjalanan sebagai motivasi utama mereka.

Sementara, 46 persen responden berpandangan solo travel merupakan kesempatan untuk beristirahat dan fokus pada diri sendiri. Sebanyak 43 persen responden juga mengapresiasi kemandirian dalam menjelajah tempat-tempat baru sesuai ritme mereka sendiri.

 

Kecenderungan ini mencerminkan tren perilaku terkini dalam masyarakat Indonesia sangat terhubung dan bergerak cepat. Bagi banyak orang di Indonesia, solo travel menjadi cara ampuh untuk melepaskan diri dari kesibukan, terhubung kembali dengan diri mereka sendiri dan memprioritaskan kesehatan mental.

 

Temuan Scoot sejalan dengan meningkatnya mindfulness, kesehatan, dan kebugaran dalam beberapa tahun terakhir.

Hasil survei ini menyoroti perjalanan, khususnya solo travel, telah berevolusi dari sekadar aktivitas liburan menjadi sarana refleksi dan pencarian jati diri.

 

Survei Scoot mengungkapkan wisatawan solo travel sangat intensional dalam pendekatannya. Sebanyak 96 persen responden menyatakan mereka melakukan perencanaan sebelum berangkat.

Di luar pemesanan tiket pesawat, prioritas utama bagi lebih dari separuh wisatawansolo travel ini mencakup pengelolaan anggaran (52 persen), pemilihan akomodasi (51 persen) dan pertimbangan keamanan (50 persen).

Mereka sangat mengandalkan agensi-agensi perjalanan daring (OTA) untuk membantu mereka mengambil keputusan terkait penerbangan, akomodasi, dan transportasi darat. Untuk rekomendasi kuliner dan aktivitas, media sosial menjadikan pencarian.

Walaupun eksplorasi destinasi dalam negeri tetap menjadi pilihan populer bagi para wisatawan solo travel Indonesia dalam 12 bulan ke depan, survei ini juga mengungkap bahwaJepang (42 persen), Singapura (26 persen), Korea Selatan (21 persen), dan Australia (21 persen) dianggap sebagai destinasi internasional teratas solo travel tahun depan.


Pilihan ini mencerminkan minat terhadap budaya dinamis, pelarian ke alam, dan kenyamanan  familiar, tergambar dalam jenis solo travel paling populer. Meliputi retret alam (43 persen), liburan pantai (42 persen), pengalaman budaya dan sejarah (41 persen), serta liburan singkat untuk menjelajahi kota (39 persen) dan wisata belanja (39 persen). 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *