Menuju Era Baru Trans Semarang: Hijau, Jalur Khusus, dan Berkeadilan
Oleh: Djoko Setijowarno
Trans Semarang kini berada di persimpangan penting dalam sejarah transportasi publik di Kota Semarang. Setelah lebih dari satu dekade melayani mobilitas warga, sistem Bus Rapid Transit (BRT) ini sedang bergerak menuju fase baru yang lebih modern, hijau, dan inklusif. Transformasi tersebut tidak hanya ditandai dengan rencana penggunaan bus listrik dan pembangunan jalur khusus, tetapi juga pembenahan tata kelola dan peningkatan kesejahteraan sumber daya manusianya.
Perjalanan Trans Semarang tidaklah singkat. Berawal dari bantuan 20 unit bus dari Kementerian Perhubungan pada 2008, layanan ini terus berkembang hingga kini memiliki delapan koridor dan empat jalur feeder yang menjangkau berbagai wilayah Kota Semarang. Kehadiran Trans Semarang telah menjadi alternatif transportasi yang terjangkau bagi masyarakat sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, berbagai tantangan masih membayangi. Salah satu persoalan mendasar adalah belum tersedianya jalur khusus secara menyeluruh. Sebagian besar armada Trans Semarang masih harus berbagi ruang jalan dengan kendaraan pribadi. Akibatnya, ketepatan waktu perjalanan kerap terganggu oleh kemacetan, terutama pada jam-jam sibuk.
Padahal, keunggulan utama sistem BRT di berbagai kota dunia terletak pada kecepatan, kepastian waktu tempuh, dan kenyamanan layanan. Tanpa jalur khusus, bus sulit memberikan pelayanan yang kompetitif dibandingkan kendaraan pribadi. Karena itu, rencana pembangunan dedicated lane melalui program Indonesia Mass Transit Project (MASTRAN) merupakan momentum yang harus dimanfaatkan secara optimal.
Program yang didukung Bank Dunia dan Agence Française de Développement (AFD) tersebut dapat menjadi titik balik bagi transportasi publik di Semarang. Jalur khusus akan meningkatkan keandalan layanan, mempercepat waktu tempuh, dan mendorong masyarakat beralih menggunakan angkutan umum. Ketika masyarakat mendapatkan layanan yang cepat, nyaman, dan tepat waktu, maka budaya menggunakan transportasi publik akan tumbuh secara alami.
Transformasi lainnya adalah rencana elektrifikasi armada. Penggantian bus diesel menjadi bus listrik di Koridor I menunjukkan komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam mendukung pembangunan rendah emisi. Bus listrik tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga menawarkan kenyamanan lebih baik melalui tingkat kebisingan yang lebih rendah dan kualitas udara yang lebih bersih.
Langkah menuju transportasi hijau tersebut perlu mendapat dukungan penuh karena sektor transportasi merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca di kawasan perkotaan. Semarang memiliki peluang besar menjadi pelopor kota dengan sistem transportasi publik yang berkelanjutan di Indonesia.
Di sisi lain, modernisasi infrastruktur dan armada tidak boleh mengabaikan aspek kesejahteraan pengemudi. Pengemudi merupakan garda terdepan pelayanan transportasi publik. Mereka bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kenyamanan ribuan penumpang setiap hari.
Karena itu, sistem remunerasi pengemudi Trans Semarang perlu dievaluasi. Penyamaan pendapatan bagi seluruh pengemudi tanpa mempertimbangkan jenis kendaraan yang dioperasikan kurang mencerminkan prinsip keadilan. Pengemudi bus besar memiliki tingkat tanggung jawab dan risiko yang berbeda dibandingkan pengemudi bus sedang maupun feeder.
Pemerintah Kota Semarang sebenarnya telah menunjukkan komitmen kuat melalui Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Perhubungan yang mengamanatkan alokasi subsidi transportasi publik minimal lima persen dari APBD. Regulasi progresif ini menjadi modal penting untuk menjamin keberlanjutan layanan sekaligus mendukung peningkatan kualitas pelayanan dan kesejahteraan para pelakunya.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi Trans Semarang tidak hanya diukur dari jumlah bus listrik yang beroperasi atau panjang jalur khusus yang dibangun. Keberhasilan sejati ditentukan oleh kemampuan menghadirkan sistem transportasi yang andal, ramah lingkungan, terjangkau, dan berkeadilan bagi seluruh pihak yang terlibat. Jika langkah ini dijalankan secara konsisten, Trans Semarang berpotensi menjadi model transportasi publik perkotaan yang modern dan manusiawi di Indonesia.
(Djoko Setijowarno adalah Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia/MTI Pusat)

