Kisah Sumiyatun, Lansia Sebatang Kara yang Bertahan Hidup dari Mengamen Kini Dapat Rumah Layak Huni
YOGYAKARTA[BahteraJateng] – Pemerintah Kota Yogyakarta kembali melaksanakan program bedah rumah bagi warga kurang mampu. Kali ini, dua rumah tidak layak huni di wilayah Kemantren Mergangsan mendapat bantuan perbaikan pada Minggu (21/6/2026), dengan dukungan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Yogyakarta.
Salah satu penerima manfaat adalah Sumiyatun, seorang lansia yang hidup seorang diri di rumah sederhana yang kondisinya memprihatinkan. Bangunan yang sebagian besar masih menggunakan dinding anyaman bambu itu sudah lapuk dan banyak mengalami kebocoran saat hujan turun.
Perempuan lanjut usia tersebut mengaku selama ini harus hidup dengan berbagai keterbatasan. Selain kondisi rumah yang tidak nyaman, ia juga kerap mendapati ular masuk ke area rumahnya, bahkan hingga ke bagian atap tempat ia beristirahat.
“Itu ada ularnya, hati-hati. Di atas saya tidur ada ularnya,” ungkap Sumiyatun.
Lokasi rumah yang berada di dekat area persawahan membuat kemunculan hewan liar seperti ular menjadi hal yang cukup sering ia temui.
Di balik kondisi hidupnya saat ini, Sumiyatun menyimpan kisah panjang perjuangan hidup. Ia mengaku pernah memiliki sejumlah perhiasan emas yang dikumpulkan sejak muda. Namun seluruh tabungan berupa emas tersebut akhirnya dijual untuk membangun rumah sederhana yang kini ditempatinya.
“Emasnya saya kumpulkan jadi gelang, cincin, dan kalung. Sekarang sudah habis untuk bikin rumah ini,” tuturnya.
Sumiyatun juga bercerita bahwa semasa kecil dirinya tinggal di Madiun sebelum mengikuti orang tuanya merantau ke Bandung. Ia kemudian kembali ke Madiun dan akhirnya pindah ke Yogyakarta ketika situasi perang memaksanya mencari tempat yang lebih aman.
Kini, di usia yang tidak lagi muda, Sumiyatun tidak mampu bekerja seperti dulu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan hasil mengamen dan belas kasih dari masyarakat.
“Sekarang sudah tidak bisa bekerja. Paling mengamen dan meminta kalau ada yang memberi,” katanya.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, mengatakan kondisi yang dialami Sumiyatun mencerminkan salah satu wajah kemiskinan yang masih ditemui di Kota Yogyakarta. Menurutnya, penghuni rumah tidak layak huni umumnya berasal dari kelompok rentan, seperti lansia yang hidup sendiri, orang tua tunggal, atau warga yang tidak memiliki sumber penghasilan tetap.
“Sebagian besar rumah tidak layak huni ditempati warga yang hidup sendiri, tidak memiliki pekerjaan, dan tidak mempunyai pendapatan yang pasti,” ujar Hasto.
Ia menilai kisah Sumiyatun menjadi gambaran nyata bagaimana sebagian warga lanjut usia harus menghadapi masa tua dalam kondisi ekonomi yang sulit setelah aset yang dimiliki habis untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Menurut Hasto, program bedah rumah tidak hanya bertujuan memperbaiki kondisi bangunan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup warga.
Pemkot Yogyakarta, lanjutnya, terus mengintensifkan penanganan rumah tidak layak huni melalui berbagai kolaborasi, termasuk bersama Baznas. Pada tahun ini, ratusan rumah ditargetkan mendapatkan bantuan perbaikan agar warga dapat tinggal di lingkungan yang lebih aman, sehat, dan nyaman.
“Kalau rumahnya sudah layak, lebih sehat dan aman untuk ditinggali. Ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekaligus mengurangi angka kemiskinan di Kota Yogyakarta,” pungkasnya.(day)

