Ketika Kepercayaan Terhadap Berita Turun, tetapi Merek Media Masih Dipercaya
Oleh: Satrio Arismunandar
Ada paradoks menarik dalam wajah media Indonesia pada 2026. Kepercayaan masyarakat terhadap berita secara umum menurun, tetapi sejumlah merek media masih memiliki modal kepercayaan yang relatif kuat.
Data Digital News Report 2026 dari Reuters Institute for the Study of Journalism menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan di Indonesia turun menjadi 32 persen, dari 36 persen pada tahun sebelumnya. Artinya, hanya sekitar sepertiga responden yang menyatakan percaya terhadap berita secara umum.
Namun ketika pertanyaannya diarahkan kepada merek media tertentu, gambarnya berbeda. CNN Indonesia dan Kompas sama-sama memperoleh tingkat kepercayaan 61 persen. Diikuti SCTV/Liputan6 sebesar 59 persen, TVOne dan TVRI 58 persen, serta Detik.com 57 persen.
Angka tersebut tentu menarik, tetapi tidak tepat jika langsung dibaca sebagai peringkat media paling kredibel. Reuters Institute menegaskan bahwa angka itu merupakan persepsi subjektif responden terhadap merek media yang mereka kenal, bukan pengukuran objektif kualitas jurnalistik.
Justru di sinilah persoalan pentingnya. Publik tampaknya masih dapat mempercayai merek media tertentu, sementara kepercayaan terhadap lingkungan berita secara keseluruhan melemah.
Perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi ikut menjelaskan fenomena tersebut. Media sosial dan jaringan video semakin menjadi tempat utama publik menemukan berita. Di Indonesia, penggunaan media sosial sebagai sumber berita sangat tinggi, sementara WhatsApp juga menjadi salah satu saluran penting untuk memperoleh informasi.
Kini orang tidak selalu mendatangi situs media untuk membaca berita. Mereka menemukan berita melalui TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, WhatsApp, atau platform lainnya. Berita kemudian hadir dalam bentuk potongan video, tautan, tangkapan layar, komentar, bahkan konten yang telah diberi interpretasi oleh pengguna.
Akibatnya, batas antara berita jurnalistik, opini, komentar, propaganda, dan informasi yang belum terverifikasi semakin kabur.
Dalam situasi seperti ini, merek media justru menjadi penting. Nama media dapat berfungsi sebagai penanda asal informasi sekaligus menjadi salah satu dasar bagi publik untuk menilai apakah sebuah berita layak dipercaya.
Tetapi modal kepercayaan tersebut bukan sesuatu yang permanen. Media tidak cukup hanya menghasilkan banyak konten. Mereka harus menjaga akurasi, transparansi, independensi, dan konsistensi dalam menjalankan standar jurnalistik.
Persoalannya menjadi semakin kompleks dengan munculnya konten yang diproduksi atau dimodifikasi menggunakan kecerdasan buatan. Publik menghadapi arus informasi yang semakin cepat, sementara kemampuan membedakan informasi yang benar dan keliru tidak selalu tumbuh secepat teknologi.
Karena itu, angka kepercayaan terhadap merek media seharusnya tidak hanya dibaca sebagai pencapaian. Ia merupakan tanggung jawab.
Ketika kepercayaan terhadap berita secara umum menurun, media yang masih dipercaya memiliki modal penting untuk menjaga kualitas ruang publik. Tantangannya bukan sekadar bagaimana mendapatkan pembaca atau penonton sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana mempertahankan keyakinan publik bahwa informasi yang disajikan memang layak dipercaya.
Pada akhirnya, di tengah banjir informasi yang tidak pernah berhenti, kepercayaan menjadi aset paling mahal bagi media. Sekali hilang, tidak mudah untuk mendapatkannya kembali.
(Satrio Arismunandar adalah jurnalis di Harian Pelita (1986-1988), Harian Kompas (1988-1995), Majalah D&R (1997-2000), Harian Media Indonesia (2000-2001), Executive Producer di Divisi News Trans TV (2002-2012), dan beberapa media lain)

