Siti Lailiyah
Siti Lailiyah (kanan), dosen UNSIQ Wonosobo dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Studi Islam UIN Walisongo Semarang, Senin (28/9).(Dok. UIN Walisongo)

Kuliah Sambil Rawat Bayi, Siti Lailiyah Raih Gelar Doktor UIN Walisongo

SEMARANG[BahteraJateng] — Gelar doktor yang diraih Siti Lailiyah pada Senin (28/9), bukan sekadar pencapaian akademik. Di balik toga yang dikenakannya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Studi Islam UIN Walisongo Semarang, tersimpan cerita tentang perjuangan membagi waktu antara bangku kuliah, pekerjaan, dan keluarga.

Lailiyah harus menjalani pendidikan doktoral ketika masih memiliki bayi. Di saat tuntutan akademik mengharuskannya mengikuti perkuliahan, melakukan penelitian, dan menyelesaikan disertasi, ia juga tetap menjalankan perannya sebagai dosen, istri, dan ibu dari tiga anak.

“Kuliah doktor ketika punya bayi perlu perjuangan lebih, terutama saat harus meninggalkan bayi saat kuliah, kuliah sambil pumping ASI. Belum lagi saat harus menginap karena masuk pagi, mau tidak mau anak bayi diajak serta,” ungkapnya.

Lailiyah merupakan dosen tetap Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo. Aktivitas mengajar harus berjalan beriringan dengan kewajiban akademik sebagai mahasiswa doktoral. Di rumah, tiga anaknya yang masih kecil juga membutuhkan perhatian.

“Mengerjakan disertasi dengan dobel peran, mahasiswi S-3, wanita karier yang mengajar di UNSIQ, menjadi istri, dan seorang ibu dari tiga anak yang masih kecil-kecil,” katanya.

Ia berusaha memastikan proses menyelesaikan disertasi tidak membuatnya kehilangan momen mendampingi tumbuh kembang anak. Anak pertamanya, yang kini berusia sembilan tahun dan duduk di kelas 4 SD, bahkan telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz.

Bagi Lailiyah, capaian itu sekaligus menjadi tanggung jawab untuk terus mendampingi anak menjaga hafalannya.

Menariknya, perempuan penghafal Al-Qur’an itu mengaku tidak memasang target tinggi ketika memulai pendidikan S-3. Padahal, pada jenjang sebelumnya ia memiliki prestasi akademik yang membanggakan.

Saat S-1, Lailiyah menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3,95 dan menulis skripsi menggunakan bahasa Arab meski kuliah di program studi Pendidikan Agama Islam. Pada jenjang S-2, ia kembali menjadi wisudawan terbaik.

“Saat kuliah S-3 tidak berharap lebih selain menyelesaikan kuliah dan mendapatkan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat,” tuturnya.

Target sederhana itu akhirnya membawanya menjadi doktor ke-453 yang diluluskan UIN Walisongo.

Dalam sidang promosi, Lailiyah mempertahankan disertasi berjudul “Penerapan Eco-Sosio-Pedagogis dalam Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Melalui Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Wonosobo.”

Penelitian tersebut mengkaji bagaimana nilai-nilai moderasi beragama ditanamkan kepada peserta didik melalui Pendidikan Agama Islam. Hasilnya menunjukkan bahwa karakter moderat tidak hanya dibentuk melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pembiasaan, keteladanan guru, budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Dari penelitian itu, Lailiyah menghasilkan Model Eco-Sosio-Pedagogis Internalisasi Moderasi Beragama melalui Pendidikan Agama Islam (ESPIMB-PAI).

Ketua sidang, Prof. Musahadi, menyatakan Lailiyah lulus dan berhak memperoleh gelar doktor bidang Studi Islam.

Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, Prof. Muhyar Fanani, turut mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, menyelesaikan pendidikan doktoral sambil menjalankan peran sebagai dosen dan ibu bukan perkara mudah.

Bagi Lailiyah, gelar doktor menjadi penanda bahwa perjalanan panjang itu telah sampai pada satu titik. Namun, setelah toga dilepas, tanggung jawabnya tetap sama: mengajar, mengembangkan ilmu, menjaga hafalan, dan mendampingi tiga anaknya tumbuh.

Di situlah makna lain dari gelar yang diraihnya: pendidikan tinggi bukan alasan untuk meninggalkan keluarga, melainkan perjalanan yang dapat dijalani bersama tanggung jawab sebagai seorang ibu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *