International Grand Imams Conference (IGIC) 2026
Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Musahadi, saat menghadiri International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta.(Dok. UIN Walisongo)

UIN Walisongo Dorong Jakarta Understanding Jadi Agenda Riset dan Kemanusiaan

SEMARANG[BahteraJateng] — UIN Walisongo Semarang mendorong Jakarta Understanding: On Mosque Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace tidak berhenti sebagai dokumen moral, tetapi diterjemahkan menjadi agenda akademik dan gerakan kemanusiaan melalui pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Jakarta Understanding disepakati dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta pada 27 September 2026. Kesepahaman tersebut menempatkan masjid dan imam sebagai bagian penting dalam upaya membangun perdamaian, memperkuat diplomasi keagamaan, menjaga keadilan sosial, melindungi kelompok rentan, hingga meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Rektor UIN Walisongo Semarang menilai perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam kerja akademik yang konkret.

“Jakarta Understanding harus kita baca bukan hanya sebagai deklarasi moral, tetapi sebagai agenda peradaban. Perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab untuk menerjemahkan pesan tersebut melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Rektor UIN Walisongo pada Senin (28/9).

Sebagai universitas Islam riset, UIN Walisongo akan mengembangkan isu-isu dalam Jakarta Understanding sebagai bagian dari kajian akademik lintas disiplin. Sejumlah isu yang dapat dikembangkan antara lain perdamaian, diplomasi keagamaan, moderasi, toleransi, perlindungan kelompok rentan, ketahanan keluarga, literasi digital, dan ekoteologi.

Menurut Rektor, persoalan kemanusiaan dan peradaban tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu disiplin ilmu. Karena itu, pengembangan riset perlu mempertemukan ilmu-ilmu keislaman, sosial, humaniora, sains, teknologi, dan disiplin lainnya.

“UIN Walisongo ingin menempatkan riset bukan hanya sebagai aktivitas akademik, tetapi sebagai instrumen untuk menjawab persoalan kemanusiaan dan peradaban,” jelasnya.

Nilai-nilai Jakarta Understanding juga didorong masuk dalam proses pendidikan. UIN Walisongo menilai pendidikan Islam perlu membentuk lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan profesional, tetapi juga mampu berdialog, menghargai perbedaan, menjaga lingkungan, serta berkontribusi dalam penyelesaian persoalan masyarakat.

Literasi digital menjadi salah satu perhatian, terutama di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial. Literasi tersebut dinilai perlu mencakup kemampuan teknis sekaligus tanggung jawab etis dalam menggunakan informasi dan teknologi.

Di bidang pengabdian, UIN Walisongo membuka peluang kolaborasi dengan masjid, pesantren, sekolah, komunitas, dan lembaga sosial. Program yang dapat dikembangkan antara lain pendidikan perdamaian, penguatan ketahanan keluarga, pemberdayaan ekonomi masyarakat, perlindungan anak dan perempuan, inklusi penyandang disabilitas, literasi digital, serta gerakan masjid ramah lingkungan.

“Pengabdian kepada masyarakat merupakan ruang untuk memastikan bahwa gagasan akademik benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Jakarta Understanding memberi kita arah bahwa ilmu harus hadir untuk membangun masyarakat yang lebih adil, inklusif, damai, dan berkeadaban,” ungkapnya.

UIN Walisongo juga melihat Jakarta Understanding sebagai peluang memperkuat internasionalisasi kampus. Forum IGIC 2026 yang mempertemukan imam besar, mufti, akademisi, intelektual, dan pemimpin agama dari lebih dari 42 negara dinilai membuka peluang kerja sama penelitian, pertukaran akademik, publikasi bersama, konferensi internasional, hingga pengabdian lintas negara.

“Internasionalisasi kampus bagi UIN Walisongo bukan hanya membawa nama kampus ke luar negeri. Internasionalisasi berarti membawa nilai, ilmu pengetahuan, dan kontribusi UIN Walisongo ke dalam percakapan global tentang kemanusiaan dan peradaban,” tegasnya.

Jakarta Understanding sendiri memuat tujuh agenda utama, antara lain penguatan peran imam dan masjid dalam perdamaian, perlindungan hak-hak kemanusiaan, diplomasi keagamaan dan dialog lintas iman, kesadaran ekoteologis, serta kolaborasi global.

Bagi UIN Walisongo, rangkaian agenda tersebut menjadi ruang untuk menghubungkan nilai keagamaan dengan persoalan nyata masyarakat. Dengan demikian, Jakarta Understanding diharapkan dapat diterjemahkan dari sebuah kesepahaman menjadi kerja akademik dan gerakan kemanusiaan yang berdampak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *