Arief Ajie Pamungkas Emnoor
Arief Ajie Pamungkas Emnoor (kanan) menjadi doktor ke-452 UIN Walisongo, Senin (28/9).(Dok. UIN Walisongo)

Siang Mengajar, Malam Mengemudi, Arief Ajie Pamungkas Emnoor Raih Gelar Doktor UIN Walisongo

SEMARANG[BahteraJateng] — Siang hari mengajar, malam hari mencari penumpang. Rutinitas itu dijalani Arief Ajie Pamungkas Emnoor selama bertahun-tahun untuk membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan pendidikan.

Di tengah kesibukannya sebagai dosen dan mahasiswa doktoral, Arief juga bekerja sebagai pengemudi taksi online. Aktivitas tersebut dilakoninya saat merantau bersama istri dan anak di Kota Cirebon.

Bagi Arief, menjadi pengemudi taksi online bukan pekerjaan yang perlu disembunyikan. Justru dari kemudi kendaraan itulah ia berusaha memastikan kebutuhan keluarganya tetap terpenuhi ketika penghasilan sebagai dosen belum sepenuhnya mencukupi.

“Prinsip saya, keluarga adalah segala-galanya. Saya harus bertanggung jawab tanpa mengorbankan pihak mana pun, baik keluarga maupun tempat kerja,” ujar Arief pada Selasa (29/9).

Waktu luang di luar aktivitas mengajar dan menyelesaikan studi dimanfaatkannya untuk mencari penumpang. Tak jarang rasa lelah datang setelah seharian beraktivitas. Namun, tanggung jawab sebagai kepala keluarga membuatnya terus menjalani rutinitas tersebut.

“Capek sih iya, namun malu tidak, karena saya bekerja mencari nafkah dengan cara halal. Teman-teman justru mensupport,” katanya.

Pilihan itu membuat waktu bersama keluarga harus dibagi dengan pekerjaan dan studi. Sejumlah rencana pribadi maupun keluarga juga harus ditunda. Namun, Arief tetap menjalani proses tersebut hingga akhirnya sampai pada satu titik penting dalam perjalanan akademiknya.

Senin (28/9/2026), Arief berdiri di Ruang Promosi Doktor Lantai 3 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang. Di hadapan tim penguji, ia mempertahankan disertasinya berjudul Retorika Dakwah Digital: Studi Kasus Habib Jindan.

Sidang tersebut mengantarkannya menjadi doktor ke-452 UIN Walisongo. Disertasinya menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dengan sumber data berupa video ceramah Habib Jindan di kanal YouTube Al-Fachriyah periode 2016-2026 serta akun Instagram @alhabibjindan.

Penelitian itu mengkaji bagaimana dakwah Habib Jindan bertahan di tengah kontroversi nasab habaib, sekaligus menelaah strategi retorika yang digunakan dalam ruang digital.

Arief menemukan dakwah tersebut dibangun melalui integrasi ethos, pathos, dan logos. Ia juga mengidentifikasi lima kanon retorika klasik, yakni inventio, dispositio, elocutio, memoria, serta pronuntiatio/actio.

Temuan lainnya adalah dua bentuk otoritas yang dinilai melampaui kerangka retorika klasik, yakni otoritas sanadiyah dan barakah.

Otoritas sanadiyah berkaitan dengan legitimasi melalui kesinambungan sanad keilmuan, sedangkan otoritas barakah berkaitan dengan legitimasi spiritual yang tumbuh dari keyakinan jamaah.

Dari temuan tersebut, Arief merumuskan Model Retorika Dakwah Sanadiyah-Barakah sebagai pengembangan kajian retorika dakwah di era digital.

Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, Prof. Muhyar Fanani, menilai penelitian tersebut relevan dengan perkembangan dakwah kontemporer.

Menurut Muhyar, dakwah di era digital membutuhkan kreativitas dan kemampuan memanfaatkan teknologi, tetapi tetap harus menjaga akurasi pesan.

Bagi Arief, gelar doktor yang diraihnya bukan sekadar pencapaian akademik. Di balik toga dan gelar baru itu, ada perjalanan panjang seorang dosen yang tetap mengajar, seorang ayah yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, dan seorang pengemudi taksi online yang bekerja pada malam hari.

Dari siang hingga malam, dari ruang kelas hingga jalanan Kota Cirebon, seluruh peran itu akhirnya bermuara pada satu pencapaian: menuntaskan pendidikan doktoral tanpa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *