Dyah Tunjung: Ekraf Jadi Motor Pertumbuhan Baru Kota Semarang
SEMARANG[BahteraJateng] — Potensi ekonomi kreatif (Ekraf) di Kota Semarang dinilai sangat besar dan mampu menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi di ibu kota Jawa Tengah.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Dyah Tunjung Pudyawati, dalam dialog interaktif di Aroem Resto & Cafe Semarang pada Rabu (12/11).
Menurut politikus Partai Gerindra tersebut, sektor kuliner, hiburan, kriya, dan fashion menjadi bidang paling menonjol di kota ini. “Potensinya luar biasa. Di Semarang yang paling kuat itu kuliner, lalu hiburan, kriya, dan fashion,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Semarang memiliki karakter ekonomi yang unik. Meski tidak bergerak secepat kota besar lain, justru ritme ini menjadi peluang tersendiri bagi pelaku usaha.
“Kalau di kota lain sesuatu sudah happening, di sini dua sampai tiga tahun kemudian baru ramai. Itu peluang agar pengusaha bisa bersiap lebih awal,” katanya.
Ia menilai daya tahan pelaku Ekraf di tengah menurunnya daya beli masyarakat sangat bergantung pada promosi dan kreativitas, serta pendampingan dari hulu ke hilir.
Contohnya tren bisnis kopi yang tumbuh pesat di berbagai sudut kota seperti Pekojan dan Gajah Mada. “Anak muda di sana mulai dari modal kecil, tapi pengunjungnya ramai,” imbuhnya.
Tunjung berharap Pemkot Semarang memberikan regulasi dan fasilitas yang berpihak pada pelaku usaha agar sektor ini berkelanjutan.
“Kalau bisa difasilitasi dengan baik, Semarang akan makin hidup,” tandasnya.
Sementara itu, Kabid Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang, Mohammad Waluyo, mengakui kuliner menjadi sektor dominan Ekraf.
“Saat event besar seperti Festival Wayang Semesta, produk UMKM selalu laku keras,” ungkapnya.
Ia menyebut, ada lebih dari 30 ribu pelaku usaha mikro di Semarang yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan tergabung dalam 60 komunitas. Kolaborasi antar-dinas, lanjutnya, menjadi kunci memperkuat ekosistem ekonomi kreatif kota ini.


