Faisal Basri, INDEF, dan Suara Kritis

Oleh: Gunoto Saparie

Nama Faisal Basri, ekonom terkemuka yang meninggal dunia pada tanggal 5 September 2024, tak dapat dipisahkan dengan nama INDEF (Institut for Development of Economics and Finance) —sebuah lembaga riset independen otonom. Memang, Faisal adalah pendiri INDEF bersama Didik J. Rachbini, Didin Damanhuri, dan Fadhil Hasan pada tahun 1995. Kegiatan INDEF antara lain adalah melakukan riset dan kajian kebijakan publik, terutama dalam bidang ekonomi dan keuangan.


INDEF sendiri boleh dibilang merupakan lembaga riset ekonomi dan keuangan yang sangat diperhitungkan. Di dalamnya kemudian ada sejumlah ekonomi, seperti Nawir Messi, Bustanul Arifin, Dradjad Wibowo, Aviliani, dan Iman Sugema. Selain itu, ada ekonom yang lebih muda, seperti Erani Yustika, Enny Sri Hartati, Tauhid Ahmad, Esther Sri Astuti, dan Eko Listiyanto. Kajian INDEF diharapkan menciptakan debat kebijakan, meningkatkan partisipasi dan kepekaan publik pada proses pembuatan kebijakan publik. INDEF turut berkontribusi mencari solusi terbaik dari permasalahan ekonomi dan sosial di Indonesia.

INDEF memiliki visi mewujudkan kebijakan publik bidang ekonomi, keuangan dan pembangunan yang berkualitas untuk kesejahteraan masyarakat. Sedangkan misinya adalah melakukan penelitian dalam rangka menghasilkan kebijakan yang berbasis bukti. Selain itu, juga merespon dengan cepat berbagai isu strategis terkait kebijakan bidang ekonomi, keuangan dan pembangunan.

Misi INDEF lain adalah memperkuat kolaborasi dan partisipasi publik pada perumusan dan pelaksanaan kebijakan. Di samping itu juga melakukan pendidikan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan dan masyarakat. Termasuk juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berintegritas, kompeten, dan mampu mempengaruhi diskursus publik.

Suara kritis Faisal Basri boleh dikatakan representasi dari INDEF sendiri. Kajian-kajian INDEF, diskusi-diskusi yang diselenggarakannya, menunjukkan hal itu. Pada 9 September 2024, misalnya, INDEF mengadakan diskusi publik yang membahas penurunan kelas menengah di Indonesia. Tercatat selama 5 tahun terakhir, masyarakat kelas menengah mengalami penurunan sebesar 9,48 juta orang atau turun sebanyak 16,5%. Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Prof. Bustanul Arifin (Ekonom Senior INDEF), Eko Listiyanto (Direktur Pengembangan Big Data INDEF), dan Yorga Permana (Dosen SBM ITB) yang dipandu oleh moderator Muthia Salsabila (Asisten Peneliti INDEF). Diskusi ini membahas penyebab dan dampak penurunan kelas menengah serta implikasinya bagi perekonomian Indonesia.

Bustanul Arifin menekankan bahwa penurunan kelas menengah berdampak negatif pada ekonomi Indonesia, karena kelas ini berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi, tata kelola, dan reformasi kebijakan. Penurunan ini berkaitan dengan transformasi struktural dari sektor pertanian ke manufaktur, yang kontribusinya terhadap PDB terus menurun sejak 1995. Pentingnya penguatan industrialisasi, reformasi tata kelola kebijakan, dan digitalisasi diperlukan untuk mendukung kelas menengah.

Yorga Permana dari SBM ITB menyoroti bahwa kerja layak menjadi kunci untuk mencegah penurunan kelas menengah. Sayangnya, kontribusi sektor informal menjadi yang dominan saat ini, hal ini diperburuk oleh gig economy sejak 2014. Deindustrialisasi menyebabkan perpindahan pekerja ke sektor jasa berkeahlian rendah, sehingga diperlukan dorongan pada sektor jasa berkeahlian tinggi dan kebijakan berbasis klaster untuk meningkatkan lapangan kerja.

Eko Listiyanto mengungkapkan bahwa masyarakat semakin pesimis terhadap kondisi ekonomi, terlihat dari perlambatan konsumsi, penurunan PMI manufaktur, dan deflasi. Indeks ekspektasi konsumen juga turun terkait penghasilan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha. Eko menyarankan pemerintah untuk menunda kenaikan harga barang, meningkatkan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), melindungi industri padat karya, dan mengakhiri tren suku bunga tinggi guna mendorong sektor riil dan UMKM.

Sangat menarik pula diskusi publik yang diselenggarakan INDEF pada tanggal 12 September 2024 dengan tema “Moneter dan Fiskal Ketat, Daya Beli Melarat.” Diskusi publik ini membahas dampak dari kebijakan moneter dan fiskal yang ketat terhadap daya beli masyarakat Indonesia, yang mengalami tekanan signifikan pada tahun 2023. Pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,05%, lebih rendah dari target APBN sebesar 5,3%. Pengetatan kebijakan oleh Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan hingga 6,25% pada pertengahan 2024, serta peningkatan PPN dari 10% menjadi 11% pada tahun 2022, menjadi faktor utama dalam menurunnya daya beli masyarakat, terutama golongan menengah ke bawah.

Para pembicara yang hadir dalam acara ini antara lain adalah Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif INDEF; Eko Listiyanto, Direktur Pengembangan Big Data INDEF; dan Abdul Manap Pulungan, peneliti di Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF. Mereka memberikan analisis mendalam mengenai bagaimana kebijakan moneter dan fiskal ini memengaruhi perekonomian, serta memberikan rekomendasi kebijakan yang bisa diambil untuk mengatasi tantangan yang dihadapi.

INDEF, harus diakui, menunjukkan perannya sebagai lembaga yang berkomitmen untuk mengkaji isu-isu ekonomi terkini, menyediakan platform bagi para ahli untuk berbagi pandangan, serta merumuskan kebijakan yang relevan guna menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. Hal itu juga tercermin dalam buku-buku yang diterbitkannya. Misalnya, buku yang berjudul “Akselerasi Menuju Ekonomi Indonesia Yang Hijau, Inklusif, dan Unggul”, “Transformasi Ekonomi Indonesia Menuju Negara Maju Dan Berdaya Saing : Pemikiran 100 Ekonom Indonesia,” dan “Ekonomi Politik Hubungan Indonesia-Tongkok 2020.”

Faisal Basri dikenal sebagai sosok pemikir ekonomi yang mempunyai kepekaan terhadap lingkungan hidup dan kemanusiaan. Faisal sangat vokal ketika mengkritik penguasa yang mengeluarkan kebijakan yang dinilai memiliki risiko menyengsarakan rakyat. Faisal Basri yang tutup usia pada usia 65 tahun ini konsern bersuara kritis dan jernih ketika lingkungan hidup hancur lebur dan masyarakat menderita dampak dari investasi ekstraktif. Tak berlebihan ketika ada yang menyebutkan bahwa Faisal adalah seorang intelektual organik. Faisal juga dikenal sebagai sederhana.

Tak mengherankan ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani merasa sangat kehilangan atas kepergian Faisal Basri. Melalui unggahan di akun Instagram-nya, Sri Mulyani mengenang kedekatan dan pertemanannya dengan Faisal Basri. Menurutnya, almarhum sosok yang sangat mencintai Indonesia dan memiliki visi besar untuk melihat negara ini maju serta bebas dari korupsi. Faisal Basri merupakan sosok yang memiliki kecintaan besar kepada Indonesia, dan ingin melihat negara ini tumbuh besar dan bebas korupsi.

Faisal, demikian Sri Mulyani, selalu sangat passionate bekerja dan berbicara dengan hati, karena kecintaannya yang luar biasa kepada Indonesia. Bang Faisal ingin Indonesia maju dan bebas korupsi, dan selalu tergerak berjuang bila melihat ketidakadilan. Menteri Keuangan tersebut juga mengakui bahwa ia sering menerima kritik dari Faisal yang bertujuan untuk memperbaiki Indonesia. Pemikiran, peran, dan posisi Faisal dinilai tidak pernah berubah: konsisten, jujur, tegas, dan bekerja sepenuh hati. Sri Mulyani selalu menghargai pandangan dan kritikan Faisal, karena ia tahu Faisal selalu punva niat vang baik tulus dan jujur untuk memperbaiki Indonesia.

Faisal memang dinilai sebagai ekonom yang selalu kuat beropini dengan didukung data dan analisis yang masuk akal. Ia sering disebut sebagai “superberani”, lugas, dan tanpa tedeng aling-aling dalam menyampaikan kritik. Kritik itu disampaikan oleh Faisal sejak Soeharto, Habibie, SBY, sampai Joko Widodo. Bahkan meskipun awalnya bersahabat dengan Jokowi, kritik-kritiknya terus nyaring terdengar.

Faisal pernah aktif di dunia politik praktis di masa reformasi. Dia merupakan salah satu pendiri Majelis Amanah Rakyat (MARA) yang kemudian berkembang menjadi Partai Amanat Nasional (PAN). PAN resmi berdiri pada 23 Agustus 1998, dan Faisal menjabat sebagai sekretaris jenderal pertama partai itu hingga 2000. Namun, kemudian dia mundur dari PAN pada 2001 dan mendirikan organisasi politik baru bernama Pergerakan Indonesia (PI).

Faisal menerima banyak penghargaan, termasuk Pejuang Anti Korupsi 2003, FEUI Award 2005, dan Lifetime Achievement Kompasiana Award 2015. Sebagai akademisi, Faisal dikenal sebagai dosen ekonomi di Universitas Indonesia dan pernah meraih predikat Dosen Teladan III UI tahun 1996. Faisal meninggalkan warisan pemikiran dan kontribusi yang besar bagi Indonesia, terutama di bidang ekonomi dan pemberantasan korupsi. Pemikiran Faisal yang kritis dan visioner akan terus dikenang sebagai kontribusi penting bagi kebijakan ekonomi dan perpajakan Indonesia, sehingga menjadikannya sebagai salah satu tokoh ekonomi yang sangat berpengaruh di republik ini.

(Gunoto Saparie adalah Sekretaris I Bidang Humas dan Media ICMI Orwil Jawa Tengah)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *