Festival Tonggeret #2
Komunitas Rembang Bergerak bersama Pemerintah Desa Rakitan, Kecamatan Sluke gelar Festival Tonggeret tahap 2 di Hutan Lindung Sandieng Selora Perhutani wilayah BKPH Gunung Lasem, KPH Kebonharjo, Minggu (21/12).(Dok Rembang Bergerak)
|

Festival Tonggeret #2 : Sebuah Ikhtiar Merawat Alam

REMBANG[BahteraJateng] – Komunitas Rembang Bergerak bersama Pemerintah Desa Rakitan, Kecamatan Sluke gelar Festival Tonggeret tahap 2 di Hutan Lindung Sandieng Selora Perhutani wilayah BKPH Gunung Lasem, KPH Kebonharjo pada Minggu (21/12).

Festival yang digelar saat pergantian musim atau awal musim hujan tahun 2025 ini bertemakan ‘Ksatria Sejati : Labuh Tohing Pati’, sedangkan tahun 2024 lalu, mengusung tema ‘Masa Labuh, Labuh Labeting Nagari’.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Achmad Rif’an dari Rembang Bergerak, Sabatin Agus Susilo dari Cabang Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah Wilayah I, Hasan “En Arthur” Efendi dari Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I), Asper/KBKPH Gunung Lasem, Faishol Thohiri, Forum Anak Desa, Karang Taruna Desa Rakitan, serta masyarakat dari luar Desa Rakitan.

Achmad Rif’an sekaligus sebagai Ketua Forum Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) Jawa Tengah menyampaikan makna yang tersirat dari tema Festival Tonggeret #2.

“Mengandung maksud bahwa saatnya masyarakat Indonesia untuk bela negara, kritis dalam menyikapi kebijakan yang mengarah pada kerusakan lingkungan. Ksatria harus tumbuh pada jiwa anak-anak muda. Seperti suara nyaring makhluk kecil si Tonggeret,” kata Rif’an.

Lebih lanjut Rif’an memaparkan latar belakang diselenggarakan event tersebut.

“Festival ini adalah pengenalan lingkungan pada anak-anak melalui budaya dan kearifan lokal, dan keberadaan Tonggeret adalah bioindikator kualitas tanah. Sebagaimana Capung merupakan bioindikator kualitas air dan Kunang-kunang merupakan bioindikator kualitas udara,” lanjut Rif’an.

Kepala Desa Rakitan, Jasnuri menyampaikan bahwa kegiatan rutin ini sudah menjadi kesepakatan dalam musyawarah desa (Musdes).

“Bahkan akan ditindaklanjuti dengan membuat Perdes Pelestarian Lingkungan Hidup. Semua elemen desa baik RT/RW dan kelembagaan masyarakat seperti TP PKK, Pokdarwis, BUMDes, Koperasi Desa, Poktan, Kelompok Tani Hutan, LMDH, KPAD, dan lain-lain, selalu dilibatkan dan berkontribusi dalam proses pembangunan desa yang berbasis lingkungan,” kata Jasnuri.

Pada kesempatan yang sama, Asper/KBKPH Gn. Lasem, Faishol Thohiri menyampaikan bahwa kegiatan menjaga kawasan hutan lindung menjadi prioritas karena menghindari bahaya kebakaran dan juga bencana alam lainnya.

Rangkaian kegiatan berupa Sekolah Alam dengan tiga narasumber, Achmad Rif’an menyampaikan Konservasi Tanah dan Air, Sabatin Agus Susilo menyampaikan materi Kemanfaatan Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, dan Hasan “En Arthur” Efendi menyampaikan terkait Konservasi Satwa dan Desa Ramah Burung.

Para pengunjung juga dihibur dengan Wayang Tonggeret yang digelar oleh Ki Dalang Supriyadi Wasiscarito dari Desa Woro, Kecamatan Kragan, sekaligus anggota Rembang Bergerak.

Wayang bercerita tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan merawat habitat satwa disampaikan dengan tokoh-tokoh serangga. Seperti Tonggeret, Walang, Gareng Pung, Gangsir, Kupu-kupu, Konangkling, Kinjeng, dan lain-lain.

Sehingga diharapkan inti pesan lebih mudah diterima oleh para pengunjung yang diiringi musik sederhana Sofyan Deer serta diselingi pembacaan puisi dan haiku serta nasihat ekologi.

Bagi para relawan lingkungan hidup, festival ini merupakan media edukasi yang sustainable dan menjadi bagian penting peran desa dalam membantu negara “ngrawat – ngrumat – ngruwat” bumi dengan hamemayu hayuning bawana.

Festival diakhiri dengan pelepasan burung perkutut, kutilang, jalak kebo, trucukan, dan kacer jawa ke alam liar.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *