Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 2026–2030, di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Jalan Gambiran, Yogyakarta, Sabtu (4/7). [Foto: Istimewa]
| |

HUT Ke-23 BKPB Melayu & Peluncuran Buku Trilogi Haji dan Umroh

YOGYAKARTA[BahteraJateng] – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu berlangsung khidmat dan semarak di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Jalan Gambiran, Yogyakarta, Sabtu (4/7/2026).

Perayaan tahun ini dirangkai dengan Orasi Kebudayaan oleh Kepala Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Mahyudin Al Mudra, peluncuran Buku Trilogi Haji dan Umrah karya Mahyudin Al Mudra, serta Peresmian dan Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 2026–2030.

Rangkaian kegiatan tersebut dihadiri Dewan Pembina PB ISMI, Tun Dr. H. Rahmat Shah (Gelar Datuk Seri Duta Peduka Raja), Ketua Umum PB ISMI Nizhamul, S.E., M.M. (Gelar Datuk Seri Kesuma Setia Negeri), Sekretaris Jenderal PB ISMI Assoc. Prof. Yanhar Jamaluddin, M.AP. (Gelar Datuk Widyanata Arif), para akademisi, budayawan, tokoh masyarakat, serta para sarjana Melayu dari berbagai daerah.

Tampak hadir pula sejumlah kolega Mahyudin Al Mudra, antara lain Dr. Nur Marzuki, S.H., Staf Ahli Menteri Bappenas; GBPH Prabukusumo; H.M. Sukri Fadholi, S.H.; Puspo Wardoyo, pengusaha Wong Solo; Prof. Dr. Muhammad Chirzin, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; M. Charis Zubeir dari Dewan Kebudayaan Yogyakarta; Jabrohim dan Kelik M. Nugroho dari Komunitas Seni Budaya Profetik (Kosbatik), serta tamu undangan lainnya.

Dalam orasi bertajuk “Dari Iqra ke Indonesia Emas: Menghidupkan Tradisi Intelektual Melayu untuk Kemajuan Indonesia”, Mahyudin Al Mudra menegaskan bahwa kebangkitan suatu bangsa selalu diawali oleh kebangkitan ilmu pengetahuan.

“Perintah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Iqra’, merupakan fondasi utama lahirnya peradaban yang maju,” tutur Mahyudin.

Ia mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, bangsa Indonesia membutuhkan lebih banyak intelektual yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak, bijaksana, serta mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa. Gagasan tersebut menjadi benang merah orasi yang mengajak masyarakat menghidupkan kembali tradisi membaca, menulis, meneliti, berdiskusi, dan menerbitkan karya sebagai jalan membangun peradaban.

Mahyudin juga menekankan bahwa kekuatan terbesar peradaban Melayu sesungguhnya terletak pada penghormatannya terhadap ilmu pengetahuan. Tradisi intelektual yang diwariskan para ulama, pujangga, dan cendekiawan Melayu harus dihidupkan kembali, bukan sekadar sebagai romantisme sejarah, melainkan sebagai kekuatan untuk menjawab tantangan masa kini.

“Contoh keteladanan Raja Ali Haji yang membangun peradaban melalui karya tulis, penerbitan, dan pengembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi fondasi Bahasa Indonesia.” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama diluncurkan Buku Trilogi Haji dan Umrah karya Mahyudin Al Mudra. Kehadiran trilogi tersebut diharapkan memperkaya khazanah literasi keislaman sekaligus menjadi rujukan bagi masyarakat dalam memahami ibadah haji dan umrah secara komprehensif.

Momentum HUT ke-23 Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu juga dipadukan dengan Peresmian dan Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 2026–2030. Pelantikan ini menandai dimulainya kiprah ISMI DIY sebagai wadah berhimpunnya para sarjana Melayu untuk memperkuat tradisi intelektual, mengembangkan kebudayaan, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

“ISMI DIY akan menjalankan tiga agenda utama, yakni menjadi pusat pemikiran dan kajian strategis, mendorong tumbuhnya budaya literasi dan tradisi intelektual, serta menjadi pelaku perubahan sosial yang hadir di tengah masyarakat melalui pendidikan, pengembangan kebudayaan, dan pemberdayaan generasi muda,” katanya.

Peringatan HUT ke-23 Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu menjadi lebih dari sekadar seremoni. Perayaan ini menjadi penanda tekad untuk terus menjadikan Balai sebagai pusat kajian, pengembangan budaya Melayu, serta ruang lahirnya gagasan-gagasan yang berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu menegaskan komitmennya untuk terus menghidupkan tradisi intelektual, memperkuat jejaring sarjana Melayu, mengembangkan literasi, serta menghadirkan kebudayaan sebagai salah satu pilar penting menuju Indonesia Emas 2045. (sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *