Kemanfaatan Reaktivasi Jalur KA Kedungjati–Tuntang
Oleh: Djoko Setijowarno
Rencana reaktivasi jalur kereta api Kedungjati–Tuntang bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Ia adalah simbol bagaimana masa lalu, masa kini, dan masa depan bisa bertemu dalam satu rel yang sama. Di tengah kebutuhan akan transportasi yang efisien, ramah lingkungan, dan terintegrasi, langkah PT Kereta Api Indonesia ini layak dipandang sebagai strategi besar, bukan sekadar proyek teknis.

Jalur ini menyimpan nilai historis tinggi. Dibangun sejak era kolonial oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), rel Kedungjati–Tuntang pernah menjadi urat nadi distribusi logistik dan mobilitas militer. Kini, jejak sejarah itu masih bisa dirasakan di Museum Kereta Api Ambarawa yang menjadi saksi bisu kejayaan transportasi rel di masa lalu. Namun, sejarah tidak seharusnya berhenti sebagai nostalgia. Ia perlu dihidupkan kembali dalam bentuk yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Reaktivasi jalur ini menawarkan peluang besar bagi pengembangan ekonomi kawasan. Wilayah Kabupaten Semarang hingga Salatiga selama ini memiliki potensi wisata dan ekonomi lokal yang belum sepenuhnya terhubung secara optimal. Dengan hadirnya jalur kereta, aksesibilitas meningkat, biaya logistik bisa ditekan, dan mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar, tetapi juga UMKM, sektor pariwisata, hingga masyarakat desa yang selama ini terpinggirkan oleh keterbatasan akses.

Lebih jauh, jalur ini berpotensi menjadi tulang punggung transportasi wisata berbasis rel di Jawa Tengah. Bayangkan sebuah perjalanan yang menghubungkan Semarang dengan kawasan Rawa Pening, Ambarawa, hingga pegunungan di sekitarnya. Wisatawan tidak hanya menikmati destinasi, tetapi juga perjalanan itu sendiri. Dalam konteks ini, kereta api bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari pengalaman wisata yang bernilai.
Dari sisi keselamatan dan lingkungan, reaktivasi jalur ini juga menjawab persoalan klasik transportasi darat. Jalur Bawen yang kerap disebut “jalur tengkorak” menjadi bukti nyata tingginya risiko kecelakaan akibat kepadatan kendaraan. Kehadiran kereta api sebagai moda alternatif dapat mengurangi beban lalu lintas, menekan angka kecelakaan, sekaligus menurunkan emisi karbon. Ini adalah langkah konkret menuju sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.
Namun demikian, optimisme terhadap reaktivasi ini tidak boleh mengabaikan tantangan nyata. Proyek serupa di masa lalu sempat terhenti akibat kendala pendanaan dan teknis. Oleh karena itu, diperlukan komitmen kuat dari pemerintah pusat dan daerah, serta skema pembiayaan yang inovatif dan berkelanjutan. Transparansi, perencanaan matang, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar proyek ini tidak kembali mangkrak.
Selain itu, pendekatan sosial juga penting. Reaktivasi jalur harus melibatkan masyarakat sekitar sebagai bagian dari ekosistem, bukan sekadar objek pembangunan. Keberadaan stasiun-stasiun lama seperti Bringin dan Gogodalem bisa dihidupkan kembali sebagai pusat aktivitas ekonomi lokal, bukan hanya titik transit.
Pada akhirnya, reaktivasi Kedungjati–Tuntang adalah tentang pilihan arah pembangunan. Apakah kita ingin terus bergantung pada transportasi jalan yang semakin padat dan tidak efisien, atau mulai beralih ke sistem yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan? Jalur ini menawarkan jawaban. Tinggal bagaimana komitmen semua pihak untuk benar-benar mewujudkannya.
Menghidupkan kembali rel tua bukan sekadar membangun kembali infrastruktur, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan yang lebih terkoneksi, inklusif, dan berdaya saing.
(Djoko Setijowarno adalah Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat)

