FKUB Jateng
Sosialisasi Hasil Silatnas FKUB 2025 dan Laporan Problematika Kerukunan Umat Beragama Kabupaten/Kota se-wilayah eks karesidenan Semarang di aula Gedung KHM Hasyim Asy'ari UIN Salatiga, Senin (22/9).(BahteraJateng)
|

Kerukunan Umat Beragama Berpotensi Menjadi Sumber Pendapatan Daerah

SALATIGA[BahteraJateng] – Suasana rukun, damai dan toleran yang tercipta dalam kehidupan beragama ditengah – tengah masyarakat berpotensi menjadi sumber pendapatan yang dapat memperkuat keuangan daerah.

Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah, KH Dr Multazam Ahmad, mengatakan kondisi masyarakat di suatu daerah yang aman, tenteram, rukun dan damai serta penuh toleran dalam kehidupan beragama belakangan ini menjadi daya tarik yang kuat di mata berbagai pihak.

“Ditengah menghangatnya suhu politik pra maupun paska pesta demokrasi yang memunculkan silang pendapat dan kepentingan, warga masyarakat sangat merindukan suasana yang rukun, damai dan penuh toleran terutama dalam kehidupan beragama ,” kata kiai Multazam disela berlangsungnya Sosialisasi Hasil Silatnas FKUB 2025 dan Laporan Problematika Kerukunan Umat Beragama Kabupaten/Kota se-wilayah eks karesidenan Semarang di aula Gedung KHM Hasyim Asy’ari UIN Salatiga pada Senin (22/9).

Menurutnya, suasana yang diinginkan seperti itu dapat ditemui di beberapa daerah di wilayah Jawa Tengah, diantaranya wilayah kota Salatiga, Semarang dan Magelang.

Ketiga daerah itu masuk dalam peringkat 10 besar daerah paling toleran se Indonesia. Ini bukan berarti suasana yang sama tidak tercipta di 32 kabupaten/kota lainnya yang ada di Jateng.

Dari tiga daerah itu, lanjutnya, kota Salatiga yang menempati peringkat tertinggi sebagai kota paling toleran paling sering dikunjungi oleh berbagai pihak dari luar Jateng, tujuannya ingin menyaksikan suasana toleransi yang terjadi di Salatiga yang masyarakatnya sangat majemuk dan beragam agama yang dipeluknya.

Dia menambahkan, tingginya angka kunjungan ke Salatiga itu menjadikan pengurus FKUB Kota Salatiga kewalahan dalam melayani warga dari berbagai daerah yang ingin mengetahui dan menyaksikan suasana rukun, damai dan toleransi beragama di kota ini.

“Ini bisa dimenej menjadi sebuah potensi destinasi wisata yang pada akhirnya dapat mendatangkan pendapatan daerah dan menggerakkan sektor riil,” kata kiai Multazam yang juga sekretaris MUI Jateng.

Ketua FKUB Salatiga, KH Rofiq mengatakan keberhasilan Kota Salatiga dalam meraih penghargaan sebagai kota paling toleran berkat partisipasi seluruh masyarakat yang beragam latar belakang agama yang dipeluknya namun mampu hidup rukun dan bertoleransi.

“Semangat hidup rukun dan toleran meski kanan kirinya berbeda agama yang dipeluk sudah membumi di Salatiga, warga lain yang masuk ke Salatiga untuk bekerja maupun belajar di berbagai lembaga pendidikan akan mengikuti irama kehidupan yang penuh toleran itu ” ujarnya.

Rektor UIN Salatiga, Prof Dr Zakiudin Baidlowi, mengharapkan kepada otoritas di daerah ini agar mengoptimalkan potensi toleran yang mampu mendatangkan orang luar untuk masuk ke Salatiga meski hanya untuk studi tiru atau studi banding tentang toleransi.

“Sudah saatnya Salatiga melengkapi diri dengan sumberdaya manusia (SDM) yang mampu menjelaskan kepada publik bagaimana toleransi ini dibangun, toleransi di sini akan menjadi potensi destinasi wisata jika ditangani dengan baik dan sistematis,” tuturnya.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *