Menteri Wihaji Dorong Mahasiswa Baru UB Jadi SDM Unggul Hadapi Bonus Demografi
MALANG[BahteraJateng] – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, mendorong mahasiswa baru Universitas Brawijaya (UB) untuk memanfaatkan momentum bonus demografi guna membangun Indonesia Emas 2045.
Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara utama Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UB 2025 di Gedung Samantha Krida, Kota Malang pada Selasa (12/8).
Dengan tema “SDM Unggul Indonesia Menghadapi Tantangan Nasional dan Global”, Wihaji menjelaskan bonus demografi sebagai periode krusial ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dari non-produktif.
“Negara hadir untuk menjawab bonus demografi. Mahasiswa harus produktif dengan skill yang ditunjukkan melalui magang,” ujarnya.
Ia memaparkan intervensi pembangunan SDM berbasis siklus hidup, mulai dari pemenuhan gizi balita, jaminan pendidikan usia sekolah, pembekalan keterampilan remaja dan mahasiswa, hingga pelatihan produktivitas usia kerja. Untuk lansia, intervensi meliputi layanan kesehatan, persiapan pensiun, dan perlindungan sosial.
Wihaji juga memaparkan lima quick wins Kemendukbangga/BKKBN, antara lain Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), program Lansia Berdaya (SIDAYA), dan AI SuperApps layanan keluarga.
Dalam sesi terpisah, Wihaji membahas penurunan stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama pimpinan UB. Ia menyoroti prevalensi stunting di provinsi itu yang masih tertinggi di Indonesia, mencapai 37% pada 2024. Menurutnya, selain masalah gizi, perilaku masyarakat seperti pernikahan dini turut menjadi faktor.
“Mereka lebih mendengar tokoh agama daripada pemerintah,” kata Wihaji.
Ia mengapresiasi dukungan UB melalui riset pangan dan peternakan di NTT. “Saya titip dua hal: pengembangan SDM dan pengentasan kemiskinan,” ujarnya.
Koordinator Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat UB, Prof. Luchman Hakim, menyampaikan lima rencana aksi strategis untuk NTT dan NTB, meliputi inovasi sosial, kesehatan, pengelolaan pangan bergizi, produksi pangan bergizi, dan pengembangan kapasitas daerah.
Dengan kerja sama pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat, Wihaji optimistis Indonesia dapat mengubah bonus demografi menjadi kekuatan untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

