Menyikapi Nilai Budaya dalam Buku Pelajaran
BANTUL[BahteraJateng] — Padepokan Santri An ‘Amta di Karanggayam, Bantul kembali menjadi ruang dialog kultural dalam kegiatan Kajian dan Apresiasi Seni Budaya Sabtu Pon Malam Ahad Wage (SAMAWA) edisi ke-21. Kegiatan rutin pada Sabtu (31/5) ini mengusung tema penting: “Menyikapi Nilai Budaya dalam Buku Pelajaran”, yang mengundang perhatian para seniman, budayawan, akademisi, guru, dan pegiat literasi.
Dua narasumber utama hadir untuk membedah tema tersebut. Jabrohim, pensiunan dosen Universitas Ahmad Dahlan sekaligus pegiat seni budaya, menyoroti bahwa buku pelajaran bukan hanya alat transfer ilmu, tetapi juga sarana penanaman nilai budaya.

Ia menilai buku pelajaran Bahasa Inggris di tingkat SLTA terlalu banyak memuat budaya Barat, seperti individualisme dan otonomi pribadi, yang bisa bertentangan dengan nilai kekeluargaan dan gotong royong dalam budaya Indonesia.
“Nilai budaya dalam buku Bahasa Inggris seringkali muncul bukan hanya pada makanan atau pakaian Barat, tapi juga pada pandangan hidup seperti individualisme dan otonomi pribadi yang tidak sepenuhnya sejalan dengan nilai kekeluargaan dalam budaya Indonesia,” ujar Jabrohim.

Jabrohim menekankan pentingnya peran guru sebagai mediator budaya, mengutip teori Edward T. Hall tentang surface culture dan deep culture, serta lima dimensi budaya menurut Patrick Moran: products, practices, perspectives, persons, dan communities.
Ia mendorong agar buku pelajaran juga menyertakan konten lokal, seperti tokoh daerah, cerita rakyat, atau upacara adat yang ditulis dalam Bahasa Inggris.

Sementara itu, narasumber kedua, Sucipto, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Ahmad Dahlan, mengulas aspek hidden curriculum—yakni muatan nilai budaya yang tersembunyi dalam teks, narasi, maupun karakter dalam buku pelajaran.
“Buku pelajaran kerap menjadi medan representasi yang memihak pada budaya negara penutur asli Bahasa Inggris, tanpa memperhatikan keberagaman budaya siswa di Indonesia,” jelas Sucipto.
Berdasarkan disertasinya di Central China Normal University, Wuhan, ia menyoroti dominasi budaya penutur asli yang seringkali tak relevan dengan latar budaya siswa Indonesia.
Ia mengajak para guru untuk membekali diri dengan kemampuan membaca teks ajar secara kritis dan reflektif.
Dalam sesi diskusi, para guru dan pegiat budaya menyuarakan perlunya pelatihan literasi budaya bagi guru Bahasa Inggris.
Mereka sepakat bahwa guru tidak cukup hanya menguasai struktur bahasa, tetapi juga perlu memahami konteks nilai budaya di balik teks yang diajarkan.
Kegiatan SAMAWA #21 ini menegaskan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris tidak harus mengorbankan kearifan lokal. Sebaliknya, ia bisa menjadi media memperkaya identitas budaya dan memperkuat semangat keberagaman.
Padepokan Santri An ‘Amta pun kembali meneguhkan perannya sebagai ruang perjumpaan antara tradisi dan refleksi kebudayaan kontemporer.(sun)


Topiknya sangat penting dan pembahasannya sangat berbobot oleh narasumber yang hebat. Saya sarankan ini diangkat ke level nasional karena ini untuk kepentingan nasional. Semoga dengan memperhatikan apa yang disampaikan para narasumber, permasalahan dekadensi moral yang semakin meresahkan dapat diminimalisir.