Pawai Ta’aruf Ponpes Sunan Giri Salatiga Syiarkan Budaya Nusantara
SALATIGA[BahteraJateng] – Pondok Pesantren Sunan Giri, Desa Krasak Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, menggelar pawai ta’aruf dalam rangka akhirus sanah atau akhir tahun pembelajaran pada Minggu (18/1).
Tahun ini, pawai mengusung tema Merawat Keberagaman Budaya di Kota Toleransi dengan menampilkan ragam budaya Nusantara.
Ratusan santri tampak berbaris dalam rombongan dengan kostum beragam. Salah satu rombongan mengenakan seragam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) lengkap dengan bendera Merah Putih.
Rombongan lain tampil dengan busana adat Jawa membawa gunungan layaknya upacara panen, serta kostum barongan dan berbagai pakaian tradisional lainnya.
Meski digelar di bawah terik matahari pagi, semangat para santri tidak surut. Warga sekitar pun antusias menyaksikan pawai, terlebih setelah beberapa hari sebelumnya Kota Salatiga diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
Setiap rombongan diiringi alat musik tradisional yang berbeda, sehingga suasana pawai terasa seperti perhelatan upacara adat. Iringan musik membuat kegiatan tersebut semakin semarak dan menarik perhatian masyarakat.
Ketua Panitia, Muhammad Khoirul Umam, mengatakan tema pawai diangkat sebagai respons terhadap derasnya arus globalisasi yang dinilai mulai menggerus kecintaan generasi muda terhadap budaya bangsa.
“Generasi Z sekarang lebih akrab dengan budaya luar yang hadir lewat gawai dan musik modern. Santri punya tanggung jawab moral untuk memperkenalkan dan menjaga kebudayaan bangsa ini,” ujarnya.
Menurut Umam, pesantren memiliki peran strategis sebagai penyaring budaya luar sekaligus penjaga nilai-nilai luhur warisan leluhur. Budaya, katanya, tidak untuk ditolak mentah-mentah, tetapi disaring dan dirawat agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Ia juga menyinggung posisi Salatiga sebagai Kota Toleransi yang menjadi miniatur Indonesia dengan keberagaman agama, suku, dan budaya di wilayah seluas 54,98 kilometer persegi tersebut.
Selain mengangkat tema budaya, pawai ta’aruf juga memuat kampanye kepedulian lingkungan. Salah satunya melalui penampilan drumblek, yaitu musik yang dimainkan menggunakan alat dari barang bekas.
Para santri menabuh alat musik hasil daur ulang tersebut sebagai edukasi kepada masyarakat bahwa sampah tidak harus dibuang, tetapi dapat dimanfaatkan menjadi karya seni yang bernilai.
“Melalui drumblek, kami ingin menunjukkan bahwa kreativitas tidak dibatasi oleh keterbatasan alat. Santri juga bisa berkarya di bidang seni, meskipun fokus utama mereka adalah belajar ilmu agama,” kata Umam.
Pondok Pesantren Sunan Giri yang diasuh KH Maslihuddin Yazid, tokoh Jam’iyyah Ahlut Thariqah Mu’tabarah an Nahdliyyah (Jatman), awalnya hanya menyelenggarakan pendidikan madrasah diniyah. Seiring perkembangan, pesantren ini kini memiliki jenjang pendidikan formal dan menampung ribuan santri.
Melalui pawai ta’aruf, pesantren ingin menegaskan bahwa seni dan agama dapat berjalan beriringan. Kesenian dipandang sebagai bagian dari dakwah untuk menyampaikan pesan kebaikan secara lembut dan membumi.
“Pawai akhirus sanah ini mengajak masyarakat peduli terhadap budaya Nusantara dan lingkungan yang berkelanjutan,” pungkas Umam.

