Peran Media Dalam Melindungi Budaya Bangsa

SEMARANG[BahteraJateng] – Pusat Kajian Media dan Kebudayaan bekerja sama dengan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan diskusi bertema “Pemasyarakatan dan Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila: Peran Media Dalam Melindungi Budaya Bangsa” pada Jumat, 26 Juli 2024, di kantor Kesbangpol Provinsi Jateng, Jl. Ahmad Yani No.160 Semarang.

Diskusi ini diikuti oleh jurnalis, akademisi, mahasiswa, dan tokoh masyarakat. Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jateng, Haerudin, membuka acara dengan menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa tantangan dari kelompok ekstrem kiri dan kanan yang mempertentangkan Pancasila masih ada. Haerudin menyampaikan, “Dengan hadirnya media massa yang lebih mendidik, nilai-nilai Pancasila dan budaya bangsa bisa diperkuat.”


Salah satu pembicara utama, Teguh Hadi Prayitno, Ketua Pusat Kajian Media dan Kebudayaan, membahas pentingnya Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Menurutnya, undang-undang ini seharusnya mempercepat upaya pemerintah untuk menghidupkan, menggelorakan, melestarikan, serta mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia. Teguh juga menyoroti dampak negatif perkembangan media sosial dan globalisasi terhadap potensi budaya lokal. “Potensi budaya kita yang diwujudkan dalam ekspresi seni, tradisi, relasi sosial, dan berbagai simbol lainnya di masyarakat, sebagian tercerabut akibat media sosial,” ujar Teguh yang juga wartawan senior di Semarang. Oleh karena itu, media massa atau pers harus memberikan kontribusi agar kebudayaan dapat menyatu dengan agama dan Pancasila, serta memberi warna dalam kehidupan bersama untuk kemajuan bangsa dan negara.

Teguh mengajak jurnalis untuk lebih banyak mendorong nilai-nilai budaya melalui berita di media massa agar bangsa Indonesia semakin maju, bersatu, dan toleran. Hal ini sejalan dengan fungsi pers dalam Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999, yaitu sebagai media pendidikan, informasi, hiburan, dan kontrol sosial.

Pembicara lainnya dalam diskusi ini adalah Prof. Alamsyah (Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang), Muhammad Auliya Assahidin (Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Jateng), dan Iswidodo (wartawan Tribun Jateng). Diskusi dipandu oleh moderator l Sunu Andy Purwanto, seorang wartawan senior.

Pusat Kajian Media dan Kebudayaan, sebagai lembaga nirlaba, selain menyelenggarakan diskusi dan seminar, juga aktif dalam kegiatan riset dan berbagai kegiatan lainnya untuk memajukan kebudayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *