Sripah, petani hutan
Sripah, salahsatu petani hutan di Blora.(Dok BahteraJateng/Putut)

Peran Petani Hutan Terhadap Produksi Jagung Nasional

BLORA[BahteraJateng] – Produksi jagung nasional sepanjang tahun 2025 ini, diproyeksikan naik 9,34 % dibanding tahun lalu atau mencapai 16,55 juta ton. Kenaikan produksi tersebut, ada peran petani hutan yang sangat getol menanam jagung dilahan hutan.

Sripah, petani hutan asal Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora salahsatunya, yang menanam jagung di lima tempat berbeda dalam kawasan hutan.

“Saya menanam jagung dilima tempat berbeda, membutuhkan benih sekitar 120 kilogram, dengan biaya minimal Rp. 150 juta-an,” kata Sripah pada bahterajateng pada Senin (15/12).

Nenek lima cucu ini menyampaikan bahwa harga panen jagung selama tahun 2025 ini sangat bagus.

“Sejak bulan Januari, harga jagung pipilan kering panen cukup bagus. Harga berkisar antara Rp. 4.900,- sampai dengan Rp. 5.200,- per kilogram. Kalau dijemur dulu, dikurangi KA-nya (Kadar Air-), bisa diatas Rp. 6.000,-. Tapi kalau penggarap lahan hutan seperti saya ini, langsung jual (jagung pipil kering panen-red),” ucap Sripah.

Dari pengamatan bahterajateng dilapangan, langkah Sripah untuk menjual hasil panennya secara langsung karena jumlah panen jagungnya yang melimpah.

“Hasil panen dilokasi ini sedikit berkurang, benih 26 kilogram mendapat hasil 173 zak pipil kering panen atau kalau di rupiahkan sekitar Rp. 50 juta-an dengan modal sekitar Rp. 40 juta-an. Saya pernah benih 30 kilogram mendapat 20 ton. Tapi rata-rata antara 16-17 ton per 30 kilogram benih,” kata Sripah.

Sripah menuturkan banyaknya kendala tanam jagung dilahan hutan, terutama hama.

“Saat ini hama yang paling banyak tikus. Tidak lagi tikus pohon yang dadanya putih, tapi tikus rumahan. Kalau disela-sela teresan atau dekat grumbul (semak belukar-red), yang paling banyak jegidik (sejenis tupai berbadan kecil-red), ada juga babi hutan,” tuturnya.

Walau tantangan menanam jagung dilahan hutan cukup besar, Sripah tidak pernah merasa kapok untuk terus menanam jagung.

“Bagi saya yang penting badan ini selalu gerak, biar tidak gampang loyo diusia tua. Dan saya senang ketika panen tiba, setidaknya bisa memberi manfaat bagi orang lain, minimal bisa mempekerjakan 20 sampai dengan 25 orang saat panen,” pungkas Sripah.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *