Ratusan Akademisi Internasional Meredefinisi Ulang Peran Agama Hadapi Krisis Global
JAKARTA[BahteraJateng] – Para akademisi Indonesia dan sejumlah negara akan bertemu di Semarang dalam agenda Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-23 yang dijadwalkan akan berlangsung di kampus UIN Walisongo Semarang 1 – 4 Februari mendatang.
Staf Khusus Menag bidang Media dan Komunikasi Publik Wibowo Prasetyo mengatakan selain akademisi, para tokoh agama dari sejumlah negara juga akan hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) RI ini.

“Mereka akan mendiskusikan beragam persoalan kontemporer dalam bingkai tema ‘Redefining The Roles of Religion in Addressing Human Crisis: Encountering Peace, Justice, and Human Rights Issues’. Pada tahap awal, panitia telah menyeleksi 1.957 artikel yang dikirim calon peserta konferensi, hingga terpilih 328 paper terbaik,” ujar Wibowo di Jakarta, Senin (29/1).
Menurutnya, penulis berasal dari 10 negara, yaitu Afghanistan, Armenia, Mesir, Indonesia, Irak, Malaysia, Moroko, Nigeria, Pakistan, dan Sri Lanka. Mereka terbagi dalam tiga kelompok, Invited Papers (80), Open Panel (100), dan Extended Panel (148).


AICIS kali ini, lanjutnya, bertujuan untuk mendefinisikan kembali peran agama, terutama Islam, dalam menghadapi tantangan kemanusiaan kontemporer di kancah global, termasuk peran dalam menguatkan persaudaraan kemanusiaan.
Dia menambahkan, gelaran AICIS bertepatan dengan momentum Hari Internasional Persaudaraan Manusia yang ditetapkan PBB sejak 2020 untuk diperingati setiap 4 Februari.
Peringatan Hari Persaudaraan Manusia Internasional ini didasarkan pada momentum ditandatanganinya Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan.
Dokumen itu, tutur Wibowo, ditandatangani pada 4 Februari 2019 oleh Grand Syekh Al Azhar Ahmed Al Tayeb dan Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus. Sebagai kelanjutan dari itu, didirikan Zayed Award for Human Fraternity.
Di menambahkan, AICIS 2024 mengangkat tujuh isu atau sub tema , mel3ioytu 1) Agama, Nasionalisme, dan Kewarganegaraan di Asia Tenggara, 2) Dampak Isu dan Ketegangan Keagamaan Internasional terhadap Nasionalisme, Kewarganegaraan, dan Hak Asasi Manusia, 3) Krisis Kesetaraan, Keadilan, dan Kemanusiaan, 4) Ketegangan Agama dan Kemanusiaan Global, 5) Isu Gender, Spiritualitas, dan Minoritas, 6) Fiqih Siyasah tentang Perang dan Damai: Pasca Kolonial; dan 7) Kebijakan berbasis Maslahah Mursalah, Kesetaraan, dan Pemberdayaan.
“Isu besarnya adalah peran agama dalam menguatkan nasionalisme, merespons krisis keadilan dan kesetaraan, masalah gender, serta kemaslahatan umat, termasuk yang berkenaan dengan krisis iklim,” tuturnya.
Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag, Ahmad Zainul Hamdi merinci, ada 25 sessi panel yang disiapkan panitia untuk mendiskusikan isu-isu yang menjadi sub tema. Sejumlah akademisi, dalam dan luar negeri, dijadwalkan hadir dan ikut sumbang pemikiran.
Mereka adalah Dr (HC) KH Yahya Cholil Staquf (Nadhlatul Ulama Central Board), Prof Dr Ismail Fajrie Alatas (New York University), Prof Rahimin Afandi bin Abdul Rahim (Universitas Malaya), Prof Dr Claudia Saise (Humboldt-Universität zu Berlin), Prof Dr Dora Marinova (Curtin University, Australia), Prof Dr Abdul Djamil MA (State Islamic University Walisongo Semarang, Indonesia), Prof Dr Kamaruzaman (Asian Muslim Action Network), Prof Dr Hassanein Al-Saeed Hassanein Ahmed (Suez Canal University, Egypt), Prof Madya Dr Kamaluddin Nurdin Marjuni (Universiti Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam), Assistant Professor Dr Jassim Mohammed Harjan (University of Baghdad, Iraq), Fazlur Rahman bin Kamsani (Middle East Institute National University of Singapore), dan Dr Fatma Mohamed Mansour (Suez Canal University).

