Warga Kelurahan Wonoplumbon, Kecamatan Mijen, Kota Semarang dalam perayaan tradisi Merti Desa, Sabtu (17/5).(Foto Ist)
Warga Kelurahan Wonoplumbon, Kecamatan Mijen, Kota Semarang dalam perayaan tradisi Merti Desa, Sabtu (17/5).(Foto Ist)

Semarak Merti Desa Wonoplumbon, Lestarikan Tradisi dan Pererat Kebersamaan

SEMARANG[BahteraJateng] – Suasana pagi yang cerah menyambut antusiasme warga Kelurahan Wonoplumbon, Kecamatan Mijen, Kota Semarang dalam merayakan tradisi Merti Desa pada Sabtu (17/5).

Tradisi turun-temurun ini merupakan bentuk ungkapan syukur atas limpahan rezeki dan keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus menjadi ajang silaturahmi serta pelestarian budaya lokal.

Kegiatan dipusatkan di Lapangan Voli 3, RT 01 RW 01 Kelurahan Wonoplumbon. Setelah sempat vakum selama beberapa tahun akibat pandemi Covid-19, perayaan tahun ini kembali digelar dengan meriah dan penuh semangat.

Puncak acara berlangsung pada malam hari dengan pagelaran wayang kulit yang menampilkan dalang Ki Tantut Sutanto dari Klaten dengan lakon “Wisanggeni Krida”, serta diiringi oleh sinden Tatin dan Uncek.

Kirab budaya yang menjadi bagian utama perayaan diikuti sekitar 800 peserta dari berbagai RT dan RW. Mereka menyuguhkan ragam kesenian tradisional seperti reog dan jaran kepang, serta membawa gunungan berisi hasil bumi berupa buah dan sayur.

Kirab menyusuri jalan-jalan kampung di wilayah Desa Sapen, membawa semangat gotong royong dan kebersamaan.

“Hari ini kami warga Wonoplumbon Krajan menggelar tasyakuran sedekah bumi yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Tahun ini sangat spesial karena akhirnya bisa kembali diadakan setelah sempat vakum,” ungkap Gunawan, panitia kirab budaya.

Ia menambahkan, antusiasme warga dalam menyiapkan atraksi seni dan menghias gunungan sungguh luar biasa.

“Harapannya, dengan terselenggaranya merti desa ini, warga semakin bersyukur, dan kehidupan masyarakat menjadi lebih makmur, aman, dan damai dalam kebersamaan,” ujarnya.

Tokoh masyarakat sekaligus Ketua Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Edi Purnomo, turut memberikan apresiasi atas semangat warga dalam melestarikan tradisi.

“Sebagai bagian dari Permadani, kami merasa bangga atas inisiatif warga yang terus menjaga budaya Jawa. Ini menjadi contoh baik, terutama dalam hal pendanaan dan pelaksanaan yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat,” katanya.

Menurut Edi, kegiatan budaya di Kecamatan Mijen kini menjadi andalan Kota Semarang. Permadani Cabang Mijen juga terus mendorong generasi muda untuk mencintai dan melestarikan budaya lokal.

Ia berharap, kelurahan lain dapat terinspirasi untuk menggali potensi adat dan budaya masing-masing demi memperkuat identitas budaya bangsa.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *