Tradisi Sadranan atau Nyadran di Desa Pereng, Kecamatan Prambanan, Klaten, pada Jumat (14/2).(Foto Ist)

Tradisi Sadranan di Desa Pereng Klaten, Upaya Melestarikan Budaya Jawa

KLATEN[BahteraJateng] – Tradisi Sadranan atau Nyadran merupakan salah satu tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat Jawa, khususnya menjelang bulan Ramadan. Seperti halnya tradisi Sadranan di Desa Pereng, Kecamatan Prambanan, Klaten, yang digelar pada Jumat (14/2), bertepatan dengan tanggal 15 bulan Sya’ban atau Ruwah dalam penanggalan Jawa.

Setiap tahun, tradisi Sadranan di Desa Pereng dirayakan dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah pembuatan gunungan yang kemudian diarak keliling desa.


Pada perayaan tahun ini, terdapat enam gunungan yang dibuat oleh masing-masing RW dan diperebutkan oleh warga yang hadir.

Menurut Kepala Desa Pereng, Purwanto Hadi, tradisi ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki selama satu tahun terakhir.

Ia menjelaskan bahwa setiap desa memiliki waktu pelaksanaan Sadranan yang berbeda-beda.

“Pelaksanaan Sadranan di setiap desa berbeda, ada yang tanggal 20 atau 25 Ruwah, tetapi di Pereng selalu diadakan pada tanggal 15,” ujar Purwanto Hadi, yang akrab disapa Pak Pur.

Selain arak-arakan gunungan, tradisi Sadranan juga melibatkan kegiatan Besik atau Reresik, yaitu membersihkan makam leluhur. Kegiatan ini biasanya diikuti dengan pembacaan doa untuk arwah keluarga dan leluhur yang telah meninggal dunia.

Besik atau Reresik ini menjadi bagian penting dalam Sadranan, di mana warga bergotong-royong membersihkan makam leluhur dan mendoakannya,” imbuh Pak Pur.

Ia berharap bahwa melalui tradisi ini, masyarakat dapat semakin mempererat tali silaturahmi, menjaga semangat gotong royong, serta memperkuat toleransi antar umat beragama.

“Semoga tahun depan Sadranan di Desa Pereng semakin semarak dan semakin mempererat kebersamaan antar warga,” pungkasnya.

Dengan adanya tradisi seperti ini, budaya Jawa tetap lestari di tengah perkembangan zaman, sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda akan pentingnya menjaga warisan leluhur.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *