Trans Manado: Menjemput Harapan Baru Transportasi Publik yang Nyaman
Oleh: Djoko Setijowarno
Tidak ada kota maju tanpa transportasi publik yang andal. Pernyataan Wali Kota Manado, Andrei Angouw, bahwa kemajuan kota bergantung pada angkutan massal yang layak dan tepat waktu, bukan sekadar retorika. Itu adalah prinsip dasar yang telah terbukti di banyak kota dunia. Kota yang memberikan ruang dan fasilitas paling luas bagi transportasi publik biasanya adalah kota yang paling manusiawi—lebih tertib, lebih produktif, dan lebih ramah lingkungan.
Kehadiran Trans Manado pada 19 November 2025 menjadi tonggak penting bagi masa depan mobilitas di ibu kota Sulawesi Utara ini. Setelah kegagalan Trans Kawanua pada 2009—akibat salah kelola dan ketidakjelasan model bisnis—Manado kembali diberi kesempatan untuk memperbaiki wajah transportasinya melalui skema Buy The Service (BTS) dari Kementerian Perhubungan. Skema ini bukan sekadar bantuan operasional, melainkan intervensi negara untuk memulihkan ekosistem transportasi yang rusak dan membangun kembali kepercayaan masyarakat.
Namun, pertanyaannya: apakah Trans Manado akan sukses, atau sekadar menjadi episode lain dari kegagalan transportasi publik di daerah? Jawabannya tidak hanya bergantung pada pemerintah atau operator. Faktor penentunya ada pada publik: kesediaan untuk berubah, keinginan untuk meninggalkan kenyamanan kendaraan pribadi, dan kemampuan menjaga fasilitas umum.
Transportasi Publik: Syarat Utama Kota Peradaban
Enrique Peñalosa, tokoh yang merevolusi sistem transportasi Bogotá, pernah mengatakan bahwa kota maju bukanlah kota tempat orang miskin bisa membeli mobil, melainkan kota tempat orang kaya mau menggunakan angkutan umum. Filosofi itu menegaskan bahwa transportasi publik adalah alat demokratisasi ruang kota. Ia memberi akses yang sama kepada semua orang.
Sayangnya, banyak kota di Indonesia, termasuk Manado, masih terperangkap dalam pola pikir sebaliknya. Jalan raya dipenuhi kendaraan pribadi, trotoar menyempit, ruang publik terpinggirkan. Warganya akhirnya dipaksa menggunakan kendaraan pribadi karena transportasi umum tak dapat diandalkan.
Skema BTS hadir sebagai solusi struktural. Pemerintah membeli layanan dari operator, memastikan standar pelayanan minimal terpenuhi, dan menanggung risiko operasional yang sebelumnya dibebankan sepenuhnya kepada operator. Model seperti ini juga dipakai di Eropa dan Asia Timur, yang terbukti menjaga keberlangsungan dan kualitas layanan angkutan publik.
Trans Manado adalah bagian dari upaya reformasi sektor angkutan umum nasional. Kota ini kini bergabung dengan Medan, Palembang, Bandung, Surakarta, Makassar, hingga Surabaya yang lebih dulu menjalankan program serupa. Pertanyaannya: bagaimana Manado memaksimalkan kesempatan ini?
Akar Masalah: Transportasi Bukan Sekadar Soal Armada
Kegagalan banyak sistem transportasi publik di Indonesia bukan karena kurangnya bus. Bus dapat dibeli, halte dapat dibangun, bahkan sistem pembayaran dapat disiapkan. Namun, ada tiga faktor fundamental yang sering diabaikan:
1. Governance yang Lemah
Trans Kawanua runtuh bukan karena masyarakat tidak butuh bus, tetapi karena pengelolaan yang tidak profesional. Tanpa tata kelola berbasis kinerja, uang publik hanya tersedot tanpa memberikan layanan memadai.
2. Perilaku Pengguna
Transportasi publik adalah kontrak sosial. Tanpa budaya antre, disiplin tap-in/tap-out, penggunaan kursi prioritas secara etis, dan kepedulian menjaga kebersihan, bus secanggih apa pun tidak akan bertahan lama.
3. Fragmentasi Kebijakan
Pembangunan trotoar tidak terhubung dengan halte. Kawasan perumahan tidak memiliki akses menuju jalur transportasi massal. Kebijakan transportasi sering terpisah dari tata ruang dan perumahan.
Keberhasilan Trans Manado bergantung pada sejauh mana tiga faktor ini dibenahi secara bersamaan.
Misi Trans Manado: Mengubah Perilaku dan Mengembalikan Kepercayaan
Trans Manado tidak sekadar menyediakan bus baru; ia membawa misi yang lebih besar: mengubah budaya mobilitas warga.
Dua koridor awal—Terminal Malalayang–Terminal Kalimas dan Terminal Kalimas–Bandara Sam Ratulangi—melayani jalur paling vital di Manado. Dengan 14 bus termasuk armada ramah disabilitas, layanan ini disiapkan untuk membangun kebiasaan baru: menunggu di halte, membayar dengan kartu uang elektronik, mendengarkan pengumuman halte, dan tertib di dalam bus.
Namun keberhasilan misi ini butuh waktu. Butuh edukasi, sosialisasi, bahkan kampanye publik berkelanjutan. Pemerintah tidak dapat bekerja sendirian. Komunitas, perguruan tinggi, media lokal, dan organisasi masyarakat sipil harus terlibat aktif. Mereka berperan menyampaikan kritik, memastikan layanan sesuai standar, dan menjadi kanal aspirasi.
Menggunakan transportasi publik bukan sekadar pilihan mobilitas, tetapi tindakan politik warga: memilih kota yang lebih sehat, lebih murah, lebih efisien, dan lebih inklusif.
Transportasi Publik dan Tanggung Jawab Keadilan Akses
Menurut BP Tapera (2024), Manado kini memiliki 35 kawasan perumahan. Pertanyaannya: apakah seluruh kawasan ini memiliki akses transportasi umum?
Jika tidak, warga perumahan akan terus bergantung pada kendaraan pribadi, dan subsidi BTS tidak akan berdampak besar. Akses ke perumahan penting bukan hanya untuk menekan biaya transportasi, tetapi juga untuk memastikan pekerjaan, pendidikan, dan layanan publik dapat dijangkau semua warga secara adil.
Transportasi publik adalah instrumen pemerataan ekonomi. Tanpa akses transportasi, tidak ada akses peluang.
Pengawasan Publik: Benteng Utama Keberlanjutan
Trans Manado harus diawasi. Masyarakat perlu terlibat dalam:
memberikan masukan rute dan fasilitas,
melaporkan ketidaktepatan waktu,
memantau kebersihan dan pelayanan pramudi,
mendorong perbaikan halte, pencahayaan, dan akses pejalan kaki.
Komunitas difabel, perempuan, dan lansia harus disertakan dalam evaluasi layanan. Kehadiran bus dengan fasilitas low deck, ramp, dan voice announcer harus benar-benar memudahkan kelompok rentan.
Trans Manado tidak boleh menjadi proyek simbolik. Ia harus menjadi layanan publik yang hidup, berkembang, dan dirawat bersama.
Kesimpulan: Trans Manado Adalah Ujian Kolektif Kita
Trans Manado memberi Manado harapan baru, tetapi juga tugas besar. Kota ini diberi kesempatan kedua untuk membangun sistem transportasi publik modern setelah kegagalan sebelumnya. Namun keberhasilan Trans Manado bukan hanya soal jumlah bus, panjang koridor, atau kecanggihan teknologi pembayaran.
Keberhasilannya ditentukan oleh:
1. keseriusan pemerintah dalam tata kelola dan integrasi layanan,
2. kedisiplinan dan budaya pengguna yang mau berubah,
3. keterlibatan aktif publik dan komunitas dalam pengawasan,
4. keberanian kota untuk membatasi dominasi kendaraan pribadi.
Jika semua faktor ini bergerak seirama, Trans Manado bukan hanya menjadi moda transportasi baru, tetapi tonggak peradaban urban Manado: kota yang inklusif, modern, dan manusiawi.
Transportasi publik yang baik selalu menjadi harapan publik. Kini, Trans Manado menjadi kesempatan bagi kita untuk membuktikan bahwa Manado bukan hanya membangun bus, tetapi membangun masa depan.
(Djoko Setijowarno adalah Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata)


