SMP Muhammadiyah Kottabarat Surakarta Ikuti Uji Coba Progam Makan Bergizi Gratis
SOLO [BAHTERA JATENG] – Sekitar 373 siswa kelas 7, 8 dan 9 di SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta pada Rabu (18/9) mengikuti uji coba program makan bergizi gratis (MBG).
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo, Budi Murtono mengatakan, anggaran uji coba MBG berasal dari kolaborasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan swasta.

“Saya mengapresiasi uji coba hari ini di SMP Muhammadiyah PK. Semoga dapat memberi semangat anak-anak mau makan, terbiasa minum susu, dan makan buah. Cukup bagus pelaksanaannya,” kata Budi Murtono, Rabu (18/9).
Dia menjelaskan, harga makan bergizi gratis dibandrol Rp15 Ribu. Menu bergizi ditentukan terdiri dari nasi, ayam, sayur, buah dan susu.
Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo, Abdul Haris Alamsyah mengatakan, ada 23 sekolah dari jenjang SD/MI, SMP/Mts baik sekolah negeri maupun swasta menjadi tempat uji coba MBG tersebut.
Ia menambahkan, tidak ada kriteria khusus dalam memilih sekolah untuk uji coba tersebut.
“Yang jelas kami pilih berdasarkan sampling per kecamatan, akhirnya ketemu 23 sekolah itu,” kata dia.
Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Nevy Dwi Soesanto menjelaskan, target program MBG untuk memperbaiki kesehatan anak-anak agar menjadi lebih pintar dan menuju sumber daya unggul 2045.
“Selain Solo, uji coba MBG juga diterapkan di beberapa kota lain di Jawa Tengah seperti Salatiga, Kudus, dan Tegal. Hasil pantauan cukup bagus, anak-anak menikmati makanan enak dan minum susu,” jelasnya.
Wantimpres tersebut menjelaskan pemerintah mengacu pada indeks gizi nasional terkait menu siajikan. Setiap daerah memiliki kebutuhan gizi berbeda seperti Jawa Tengah dan Papua tentu berbeda. Dari situ diwujudkan dalam bentuk harga kemudian makanan yang siap dinikmati anak-anak.
“Di SMP Muhammadiyah PK program MBG terlaksana bagus dan anak-bilang senang. Makanan yang sudah ada di sekolah sebelumnya dan makanan dari BMG bisa dikreasi oleh sekolah,” terang Nevy Dwi Soesanto.

