Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora, Bambang Sulistya (kanan), bersama anggota Club Sepeda Aryo Penangsang, mengunjungi rumah masa kecil Pramoedya Ananta Toer (23-24/1).(Foto Ist)

Peringatan Seabad Pramoedya Ananta Toer Akan Digelar di Blora

BLORA[BahteraJateng] – Perayaan seabad kelahiran sastrawan legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, akan dilaksanakan pada 6-8 Februari 2025 di Blora, Jawa Tengah.

Perayaan ini menjadi momen bersejarah yang membanggakan bagi masyarakat Blora, khususnya para pengagum karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan pencinta sastra Indonesia.


Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora, Bambang Sulistya, bersama anggota Club Sepeda Aryo Penangsang, mengunjungi rumah masa kecil Pramoedya Ananta Toer di Jalan Sumbawa No. 40, Blora, pada 23-24 Januari 2025.

Rumah tersebut kini menjadi Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa), dikelola oleh adik Pramoedya, Dr. Soesilo Toer.


Bambang mengungkapkan bahwa kunjungan itu memberikan wawasan mendalam mengenai kehidupan dan karya besar Pram.

“Kami belajar tentang nilai kejujuran, kegigihan, patriotisme, dan kemanusiaan dari karya-karyanya. Hal ini dapat menjadi teladan bagi generasi muda menghadapi tantangan kehidupan,” ujarnya, Sabtu (25/1).

Pramoedya, lahir pada 6 Februari 1925 dari pasangan Mastoer Imam Badjoeri dan Oemi Saidah, menghasilkan lebih dari 50 karya sastra yang telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa dunia. Karya-karyanya mencakup fiksi, nonfiksi, dan terjemahan, seperti Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, Perburuan, hingga Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

Tetralogi Bumi Manusia yang ditulis selama masa pembuangan di Pulau Buru menjadi mahakarya yang mengisahkan perjuangan seorang jurnalis pribumi, Minke, yang didasarkan pada sosok R.M. Tirto Adhi Soerjo.

Perjalanan hidup Pramoedya dipenuhi tantangan, termasuk pemenjaraan pada masa penjajahan Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru. Tuduhan keterlibatan dalam G30S 1965 mengakibatkan karyanya diberangus dan kebebasannya dirampas selama puluhan tahun. Namun, pada 1999, Pram menerima kembali hak-hak sipilnya.

Selain dinominasikan enam kali untuk Hadiah Nobel Sastra, Pramoedya meraih penghargaan Ramon Magsaysay pada 1995 atas kontribusinya dalam pencerahan masyarakat Indonesia. Karya-karyanya dinilai memupuk semangat keadilan, kemanusiaan, dan cinta tanah air.

Ketua Club Sepeda Aryo Penangsang, H. Soedadyo, berharap peringatan seabad kelahiran Pram dapat menggugah semangat generasi muda untuk mempelajari pemikiran dan karya sastrawan besar ini.

“Semoga acara ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat Pram dalam membangun bangsa,” ungkapnya.

Kegiatan ini diharapkan berjalan sukses dan menjadi inspirasi untuk meneruskan perjuangan Pramoedya Ananta Toer melalui sastra dan nilai-nilai kemanusiaan.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *