Pembuatan prasasti jejak kaki Pangeran Joyo Kusumo untuk melestarikan sejarah Banyuurip.(Foto Ist)

Prasasti Jejak Kaki Pangeran Joyo Kusumo: Mengingat Sejarah Banyuurip

PURWOREJO[BahteraJateng] – Karakter dan jati diri bangsa perlu terus diingatkan kepada generasi penerus di tengah arus budaya asing yang semakin kuat. Prihatin akan kondisi ini, Radityawan, warga Dukuh Kembaran, Desa Banyuurip, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, berinisiatif untuk melestarikan sejarah Banyuurip dengan membuat prasasti jejak kaki Pangeran Joyo Kusumo.

Menurut Radityawan, sejarah Banyuurip berawal dari perjalanan Pangeran Joyo Kusumo dan adiknya, Galuhwati atau Nyai Putri. Saat tiba di daerah yang kini bernama Banyuurip, mereka kehausan. Pangeran Joyo Kusumo lalu menancapkan wedung (pedang pendek) di tanah sekitar Sumur Mbeji, dan keluarlah air jernih.

“Peristiwa ini dicatat dalam Serat Babad Banyuurip dengan sengkalan “Cur Umijil Tirto Wening”, yang jika diartikan dalam penanggalan Saka menunjukkan tahun 1400 atau 1478 Masehi. Tahun ini bertepatan dengan runtuhnya Majapahit,” tuturnya.

Radityawan membuat prasasti dari batu andesit dengan pahatan jejak kaki kanan Pangeran Joyo Kusumo dan tulisan dalam huruf Kawi.

“Ini pengingat bagi generasi muda agar memahami jati diri dan sejarah leluhurnya,” ujarnya.

Sumur Mbeji sendiri hingga kini tidak pernah kering, bahkan saat musim kemarau panjang.

Sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya, jalan menuju Sumur Mbeji rencananya akan dibangun gapura bergaya Majapahit.

Selain itu, Paguyuban Macapatan Suryawasesa, yang dipimpin Witoyo, aktif menggelar latihan macapat setiap malam Minggu Kliwon, membacakan Serat Babad Banyuurip dengan tembang-tembang seperti Dandang Gulo, Asmarandana, dan Sinom.

Sabtu (15/2), warga Banyuurip bersama tokoh budaya dan seniman memasang prasasti di Sumur Mbeji.

“Kami ingin mengedukasi generasi muda tentang sejarah dan budaya lokal,” kata Radityawan.

Ia juga menyoroti hilangnya tradisi membatik khas Banyuurip, yang dahulu sempat eksis. Acara peresmian prasasti ditutup dengan jamuan khas Jawa di rumah Radityawan, yang mana menciptakan suasana tradisional yang kental.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *