Fadli Ananda Rizky.(BahteraJateng)
Fadli Ananda Rizky.(BahteraJateng)
| |

Tongkol Jagung, Solusi Tak Terduga untuk Energi Hijau di Masa Depan

Oleh: Fadli Ananda Rizky

Di tengah ancaman krisis iklim global yang semakin parah dan kebutuhan energi yang terus meningkat, dunia kini sedang berlomba untuk mencari sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Selama ini, perhatian lebih banyak tertuju pada ketergantungan akan energi yang dihasilkan dari fosil seperti batu bara dan minyak bumi yang menyebabkan cadangan alam akan terus menipis dan dapat mempercepat laju kerusakan lingkungan akibat emisi karbon yang tinggi.

Di tengah upaya untuk mencari berbagai solusi, perhatian kita seringkali hanya terfokus terhadap teknologi besar seperti tenaga surya dan angin. Namun, ada satu potensi besar yang selama ini terabaikan oleh sebagian besar kalangan masyarakat yaitu tongkol jagung.

Negara Indonesia menjadi salah satu produsen jagung terbesar di dunia, menghasilkan jutaan ton limbah pertanian setiap tahunnya, termasuk tongkol jagung. Beberapa negara seperti Tiongkok dan India mulai memanfaatkan limbah pertanian sebagai energi lokal, termasuk tongkol jagung.

Namun, di Indonesia selama ini tongkol jagung hanya dijadikan sebagai limbah dengan dibakar dan dibuang sehingga tidak dimanfaatkan secara optimal yang dapat menghilangkan potensi nilai secara ekonomi dan pencemaran lingkungan melalui emisi karbon dan partikel yang berbahaya.

Padahal jika diolah dengan teknologi yang tepat dan benar, limbah tongkol jagung bisa menjadi bahan baku utama dalam produksi energi terbarukan seperti briket biomassa dan bioetanol.

Secara ilmiah, tongkol jagung memiliki kandungan seperti selulosa, hemselulosa dan lignin yang tinggi sehingga cocok untuk diolah menjadi bioetanol.

Menurut penelitian, satu ton tongkol jagung dapat menghasilkan sekitar 142,2 liter bioetanol sehingga dapat dijadikan sebagai bahan bakar alternatif yang dapat digunakan untuk kendaraan bermotor.

Selain itu, tongkol jagung juga dapat dipadatkan dan dikeringkan untuk menjadi briket yang memiliki nilai kalor tinggi yaitu sekitar 4.000 – 4.500 Kkal/Kg yang memenuhi standar SNI untuk bahan bakar padat dan bisa dijadikan sebagai pengganti kayu bakar atau batu bara dalam skala industri kecil ataupun rumah tangga.

Menurut data dari Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Energi dan Ketenagalistrikan (BPPT), satu ton tongkol jagung dapat menghasilkan energi sebesar 15 – 18 GJ (gigajoule) atau setara dengan 4.166,7 – 5.000,0 kWh (kilowatt-jam), yang cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga selama beberapa minggu sehingga dengan jumlah limbah tongkol jagung yang besar dan ketersediaan yang merata di wilayah sentra pertanian menjadikan tongkol jagung sebagai solusi energi lokal yang murah, mudah, efisien dan berkelanjutan.

Pemanfaatan tongkol jagung sebagai sumber energi tidak hanya membantu untuk mengurangi limbah pertanian, tetapi sebagai aset energi di masa depan karena telah memberikan solusi teknis terhadap krisis energi dan lingkungan.

Dalam hal ini, tongkol jagung tidak hanya berperan sebagai bahan baku alternatif, tetapi juga sebagai solusi dan manfaat atas permasalahan sosial dan ekonomi di tingkat lokal.

Pertama, membuka peluang baru bagi petani untuk memperoleh nilai tambah dari limbah yang selama ini dianggap tidak berguna. Tongkol jagung biasanya dijadikan limbah saja, kini bisa diolah atau dijual ke industri bioenergi sehingga menciptakan lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan nilai ekonomi hasil panen.

Kedua, ketersediaan energi yang murah dan ramah lingkungan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat khususnya di pedesaan serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku fosil yang semakin mahal dan tidak ramah lingkungan.

Ketiga, mendukung ekonomi sirkular dengan mengubah limbah menjadi energi yang dapat dihasilkan dan bisa digunakan kembali oleh petani itu sendiri untuk mengeringkan hasil panen, menjalankan alat pertanian, atau sebagai keperluan rumah tangga sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan kemandirian energi serta mengurangi ketimpangan antara wilayah pedesaan dengan perkotaan dalam hal akses energi.

Dari sisi lingkungan, pemanfaatan limbah tongkol jagung sangat mendukung transisi menuju energi hijau karena bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus dapat mengurangi emisi karbon dan pembakaran terbuka yang menyebabkan polusi udara.

Jika bisa dimanfaatkan dengan baik secara luas dan berkelanjutan, potensi ini benar-benar menjadi peran penting dalam mencapai target emisi net zero di Indonesia dan mengurangi pembukaan lahan untuk energi konvensional seperti batu bara.

Tongkol jagung yang telah difermentasi juga bisa dijadikan sebagai kompos atau pupuk organik yang dapat menambah bahan organik tanah dan memperbaiki struktur serta kesuburan tanah sehingga mampu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis yang dapat merusak ekosistem tanah.

Salah satu studi kasus menarik datang dari Jorong Bandarejo, Nagari Lingkuang Aua, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman barat, Sumatera Barat. Disana, para petani jagung biasanya hanya membakar tongkol jagung sebagai limbah, tetapi kini mereka mengolahnya menjadi briket arang sebagai bahan bakar alternatif.

Inisiatif berawal dari pelatihan yang diberikan oleh Tim Pengabdian Departemen Kimia Universitas Negeri Padang (UNP), yang mengajarkan para petani dan pemuda setempat untuk mengubah tongkol jagung menjadi briket.

Dengan pelatihan ini, diharapkan dapat mengedukasi masyarakat untuk memanfaatkan limbah tongkol jagung sebagai salah satu bahan bakar energi terbarukan pengganti bahan bakar fosil dan berpotensi menjadi usaha baru yang ramah terhadap lingkungan.

Namun meskipun memiliki potensi yang besar, pemanfaatan tongkol jagung untuk energi hijau tidak terlepas dari berbagai macam tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan teknis yang dimiliki petani karena banyak petani yang masih menganggap limbah pertanian sebagai sampah saja, bukan sebagai sumber daya yang bernilai ekonomi.

Selain itu, minimnya infrastruktur dan teknologi pengolahan di tingkat desa atau petani. Pengolahan bioetanol juga masih menghadapi kendala efisiensi dan biaya produksi yang menjadikannya kurang kompetitif dibandingkan bahan bakar konvensional.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, banyak solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Pemerintah perlu memiliki kebijakan yang mendukung dengan mendorong program pelatihan dan penyuluhan kepada petani dan menggerakkan masyarakat mengenai potensi energi dari limbah pertanian.

Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan skema intensif seperti subsidi alat pengolahan biomassa sehingga menjadi langkah strategis untuk mendorong adopsi teknologi secara masif.

Peran perguruan tinggi dan lembaga penelitian juga diperlukan untuk lebih aktif dalam mengembangkan teknologi pengolahan yang ramah lingkungan dan tentunya murah.

Di sisi lain, diperlukan kolaborasi atau kerjasama yang lebih erat antara pihak pemerintah, swasta dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem inovasi yang relevan dengan berkelanjutan.

Tongkol jagung yang selama ini dianggap sebagai limbah tak bernilai, ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Di tengah ancaman krisis iklim dan energi, pemanfaatan limbah pertanian ini menjadi langkah cerdas dan strategis dalam mendukung transisi menuju energi hijau sebagai solusi lokal untuk persoalan global.

Walaupun dalam pemanfaatannya masih menghadapi tantangan, tetapi dengan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan menyebabkan tongkol jagung bukan hanya akan menyumbangkan ketahanan energi nasional, namun juga menjadi bagian dari solusi global dalam menanggulangi perubahan iklim.

Sudah saatnya kita memandang limbah sebagai peluang, bukan beban sehingga menjadi aset masa depan dalam menciptakan energi hijau yang adil dan inklusif dengan memberi manfaat nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan kita semua.

(Fadli Ananda Rizky adalah Mahasiswa Agribisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *