Upaya Keselamatan Pendakian Gunung
WONOSOBO[BahteraJateng] – Faktor keamanan dan keselamatan pendakian gunung di Indonesia tengah menjadi sorotan dunia Internasional pasca tewasnya seorang pendaki gunung asal Negara Brasil dalam pendakiannya di Gunung Rinjani di pulau Lombok belum lama ini.
Pekan lalu, tepatnya pada hari Selasa dan Rabu (15-16 Juli 2025) penulis berkesempatan mengikuti kegiatan Direktorat Pengamanan Obyek Vital (Dit Pamobvit) Kepolisian Republik Indonesia Daerah (Polda) Jawa Tengah yang tengah mengaudit Standar Keamanan dan Keselamatan Pendakian Gunung Kembang di daerah Kabupaten Wonosobo, berupa kegiatan “Risk Assesment” kepada para pengelola Obyek Wisata Alam Gunung tersebut yang berbasis di Basecamp Blembem.

Kegiatan Tim audit sistem keselamatan dan keamanan kegiatan wisata alam ini dikomandani oleh AKBP Indriyanto dan pelaksanannya diketuai oleh AKP Tri Agung.
“Keberadaan Dit Pam Obvit Polda Jateng dalam hal ini merupakan bentuk kehadiran Negara dalam upaya menjaga dan menjamin terselenggaranya kenyamanan bagi segenap masyarakat di dalam melakukan aktivitasnya,” tutur AKBP Indriyanto.
Gunung Kembang
Gunung Kembang yang dalam sistem Administrasi Pemerintahan terdapat di wilayah Kabupaten Wonosobo ini memiliki titik puncak di ketinggian 2340 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Kawasan puncak gunung yang terdiri beragam vegetasi tanaman ini merupakan lahan hutan Negara yang dikelola Perum Perhutani Jawa Tengah di Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Wonosobo di bawah tata kelola administrasi Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara.
Melalui rute pendakian yang berangkat dari ttik awal (Basecamp) Blembem, para pendaki akan melewati sembilan titik pos peristirahatan yang dari masing-masiing jarak titik pemberhentian dengan letak ketinggiannya itu dapat diperkirakan standar waktu tempuhnya.
Dimulai dari Basecamp Blembem pada ketinggian 1300 MDPL sampai pos pertama bernama Gerbang 280 di ketinggian 1780 MDPL dapat ditempuh dengan jalan kaki nonstop sekira dua setengah (2,5) jam.
Rute ini berada di area kebun teh dengan jalan berlandasan susunan batuan yang dapat dilalui sepeda motor bebek dan biasa dilewati truk kecil pengangkut buruh petik daun teh.
Di kawasan kebun teh ini pula masih ada Pos transit pekerja Kebun Teh di ketinggian 1584 MDPL yang waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam berjalan kaki dari Basecamp Blembem.
Bagi pemula, atau pun mereka yang sudah manula mungkin, jarak dan waktu tempuh total 2,5 jam ini bisa jadi ajang berlatih persiapan fisik sebelum melakukan aktivitas pendakian gunung yang sesungguhnya.
Selanjutnya setelah masuk Gerbang 280 para pendaki akan melewati tiga titik pos berikutnya di dalam kawasan hutan perhutani, yaitu Pos Paleman (1878 MDPL), Pos Liliput (1839 MDPL), Kandang Coki, Ekor Naga (1998) dan Pos Simpang Tiga (2005 MDPL).
Keseluruhan waktu tempuh pendakian melalui kawasan hutan itu dapat ditempuh selama sekitar 1 jam berjalan kaki.
Kemudian setelah melewati titik Ekor Naga pendaki gunung Kembang akan memasuk kawasan vegetasi padang rumput Sabana dengan melaui sejumlah Pos yaitu Akar (2091 MDPL), Sabana 1 (2095 MDPL), Sabana 2(2177 MDPL), Pos Kreo (2284 MDPL), dan Tanjakan Mesra (2290 MDPL), untuk kemudian sampailah di puncak tertingginya Top (2340 MDPL). Perjalanan melewati padang sabana itu dalam kisaran waktu dua setengah jam.
Dengan demikian bagi setiap pendaki dengan kemampuan standar dapat mencapai puncak Gunung Kembang dengan berjalan kaki tanpa banyak istirahat selama 6 jam.
Skydoors
Terdapat dua jalur pendakian menuju puncak Gunung Kembang. Salah satu rutenya melalui rute Base Camp Blembem. Rute ini dikelola oleh Kelompok Pecinta Alam setempat berjuluk Sky Doors yang dipimpin oleh sosok bernama Iwan yang sukses mempelopori tradisi kebersihan di sepanjang jalur pendakian.
Semenjak dari Basecamp menuju puncak gunung sampai kembalinya para pendaki ke Basecamp keberangkatannya.
Bukan rahasia lagi bahwa secara umum nyaris di sepanjang jalur yang menjadi “track’ pendakian gunung di Indonesia akan sangat mudah dijumpai sampah yang berserakan yang “disebarkan” para pendakinya.
Adalah Iwan, sosok pria muda setempat yang merasa terpanggil untuk menjadi pelopor koreksi tradisi buruk itu agar budaya “derma sampah” di gunung itu dapat diakhiri.
Sekitar tujuh tahun lalu ia membentuk “Skydoors” yang kini beranggotakan 17 orang muda – mudi yang sejiwa dengannya itu guna merintis tradisi pendakian gunung yang tidak lagi mewariskan sampah di sepanjang rute pendakian sampai ke puncak gunungnya.
Ia pun memilih rute pendakian gunung Kembang berbasiskan “Base-camp” Blembem untuk mewujudkan tekad mulianya itu.
Ia pun menerapkan peraturan kepada semua pendaki gunung Kembang yang berangkat dari “Base-camp” Blembem agar membongkar seluruh bekal yang dibawanya dalam tas punggung (ransel) pendakiannya guna diperiksa dan dicatat setiap itemnya.
Catatan ini kemudian dicocokkan dalam pemeriksaan ulang sekembalinya para pendaki usai melakukan pendakiannya nanti.
“Kalau berangkatnya membawa rokok ya pulangnya harus membawa kembali bungkus rokok dan puntung rokoknya. Demikian juga dengan plastik pembungkus bekal makanan atau pun minumannya,sehingga dapat dipastikan seluruh sampahnya tidak ada yang berceceran di puncak gunung maupun di sepanjang jalan yang dilaluinya,” ungkap Iwan soal upaya cegah sampah di gunung itu.
Ia mengungkapkan adanya peraturan tersebut sempat dikeluhkan para pendaki namun kemudian mereka pun dapat menerimanya.
“Bahkan pada tahun pertama penerapan aturan itu banyak juga di antara para pendaki itu yang secara sukarela membawa turun sampah yang bukan dari bekalnya sehingga sangat membantu mengurangi timbunan sampah yang ditinggalkan para pendaki dari tahun-tahun sebelumnya,” tutur Iwan lagi.
Walhasil, sampai sekarang “track” Gunung Kembang via Blembem itu pun mendapatkan pujian banyak kalangan sebagai rute pendakian terbersih di Indonesia.
Risk Assessment
Kegiatan “Risk Asssessment” Obyek Wisata Pendakian Gunung Kembang yang diselengggarakan di “Base-camp” Blembem ini dilakukan guna mengetahui kelayakan obyek wisata tersebut.
“Ini merupakan keharusan sebagai persyaratan kelayakan sebuah obyek wisata sehingga dapat menekan serendah mungkin seluruh resiko kegiatan yang potensial menimbulkan kecelakaan maupun timbulnya korban jiwa,” papar AKBP Indriyanto DP dari Dit Pam Obvit Polda Jateng dalam paparannya.
Dikatakannya, kegiatan “Risk Assesment” itu merujuk kepada sejumlah peraturan perundangan yang berlaku di negeri ini. Untuk kemudian dalam pelaksaaan assessment dirumuskan ke dalam enam elemen kelayakan dengan total 130 point kriterianya.
Yaitu elemen Infrastruktur yang terdiri (2 kategori dengan 34 kriteria); Keamanan (2 kategori dan 22 kriteria); Keselamatan (2 kategori dan 25 kriteria); Kesehatan (3 kategori dan 15 kriteria); Sistem PAM (3 kategori dan 24 kriteria); dan Informasi dengan 1 kategori dan 10 kriteria.
Dari kegiatan assessment selama dua hari penuh yang dilaksanakan secara indoor maupun outdoor ini Obyek Wisata Gunung Kembang jalur Blembem itu meraih predikat kelayakan BRONZE yang diperolehnya dari skor penilaian 60 persen lebih.
“Masih mungkin untuk ditingkatkan predikatnya menjadi SILVER maupun GOLD apabila kemudian seluruh fasilitasnya dapat dipenuhi,” ujar AKP Tri Agung, selaku assessor dari Dit Pam Obvit Polda Jateng.
Peserta kegiatan assessment terdiri Kepala Departemen Sumberdaya Hutan Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah, Didik dengan sejumlah staf terkaitnya; Administratur Perum Perhutani KPH Kedu Utara, Ambar dengan sejumlah staf terkait, Asissten Perum Perhutani BKPH Wonosobo, Yosi dan sejumlah staf; Kelompok Pecinta Alam Skydoors dengan Iwan selaku Ketuanya beserta segenap anggota kelompoknya; Dinas Parwisata Wonosobo, Rohmat; serta Agus dari Polres Wonosobo. (sun)
Catatan Sugayo Jawama

