Tanah Bergerak Kembali Landa Pagentan Banjarnegara, Puluhan Warga Mengungsi
BANJARNEGARA[BahteraJateng] – Bencana tanah bergerak kembali terjadi di Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Peristiwa tersebut dilaporkan sejak Senin (5/1) dan berdampak pada tiga desa, yakni Desa Karangnangka, Gumingsir, dan Sokaraja.
Wilayah terparah berada di RT 05, 06, dan 07 RW 01 Desa Karangnangka. Berdasarkan data sementara, enam rumah mengalami kerusakan berat sehingga enam kepala keluarga atau 25 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi bangunan warga mengalami kerusakan signifikan. Lantai rumah tampak retak-retak, dinding bangunan mengalami pergeseran, dan sejumlah rumah mulai miring akibat pergerakan tanah yang masih berlangsung.
Selain itu, lahan pertanian warga rusak dan beberapa ruas jalan desa amblas total sehingga tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Material tanah yang terbawa aliran sungai turut meningkatkan risiko terjadinya longsor susulan. Peristiwa ini merupakan lanjutan dari bencana tanah bergerak yang sebelumnya terjadi pada 24 Oktober 2025.
Faktor pemicu utama diduga berasal dari curah hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang yang mengguyur wilayah Pagentan sejak Minggu (4/1) pagi hingga Senin dini hari.
Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 35 rumah terdampak dengan tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Hingga saat ini, tidak terdapat laporan korban jiwa.
Relawan gabungan dari TRC FPRB Pagentan, pemerintah desa, Destana, serta personel Koramil 18 Pagentan terus bersiaga di lokasi kejadian. Warga yang tinggal di zona merah diimbau tetap mengungsi karena potensi pergerakan tanah susulan masih tinggi.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan dan asesmen di lokasi terdampak.
“Jika pergerakan tanah masih berlangsung dan membahayakan, maka opsi relokasi menjadi langkah yang harus dipertimbangkan,” ujarnya.
BPBD Banjarnegara saat ini juga tengah mengkaji dan mencari lokasi yang aman secara geologis untuk penanganan lanjutan maupun relokasi permanen warga terdampak.(day)

