Nasaruddin Umar
Menag RI, Nasaruddin Umar, saat memberikan orasi ilmiah dalam acara silaturahmi Menteri Agama bersama para kiai dan santri pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, di Masjid Annur, komplek pesantren Futuhiyyah pada Jumat (6/2).(Dok. Ponpes Futuhiyyah)
|

Menag Nasaruddin: Pesantren Harus Berani Refleksikan Ilmu Yang Terintegratif

SEMARANG[Bahtera Jateng] – Menteri Agama RI Prof. Nasarudin Umar, mendorong para kiai pesantren agar berani mengambil langkah-langkah inovatif dan merefleksikan kejayaan Islam pada era Baitul Hikmah (700 – 1.200 M) di Baghdad sebelum dihancurkan Hulagu Khan (Mongolia).

“Dulu pada era Baitul Hikmah, saat itu, integrasi ilmu berlangsung sangat luar biasa, banyak lahir ilmuwan-ilmuwan yang kompeten dan ilmunya terintegratif, ” kata Prof Nasaruddin saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara silaturahmi Menteri Agama bersama para kiai dan santri pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, di masjid Annur, komplek pesantren Futuhiyyah pada Jumat (6/2).


Ilmuwan yang ilmunya terintegrasi itu, diantaranya adalah Ibnu Rus, seorang dokter spesialis bedah yang setiap pagi melakukan praktek memberikan layanan kesehatan dan seorang penulis einsklopedi kedokteran yang hingga sekarang bukunya masih jadi rujukan.

Siang harinya, Ibnu Rus dikenal sebagai filosuf yang mensyarahi pemikiran Plato dan Aristoteles, kemudian sore harinya mengkaji perbandingan madzhab dalam fikh, dan pada malam harinya mendalami dan menulis ilmu tasawuf.


Menurutnya, itu baru sebagian contoh era kejayaan keilmuan saat itu, agar pesantren mampu mewujudkan hal itu maka dibutuhkan keberanian untuk mengambil langkah-langkah atau setidaknya berfikir inovatif sebagaimana yang dilakukan orang Eropa yang berani melakukan transformasi ideologi dan gerakan pembaharuan sehingga bisa mengubah masyarakat yang semula konsumtif menjadi produktif.

“Pesantren tidak boleh takut untuk berfikir inovatif. Apalagi agama adalah faktor yang dominan di masyarakat, maka perlu diciptakan metode kajian yang mendalam agar pesantren dapat melahirkan pemikir dunia yang mampu menjawab tantangan zaman,” ujarnya.

Menag Nasaruddin yang juga imam besar masjid Istiqlal Jakarta mengapresiasi langkah-langkah pengasuh pesantren Futuhiyyah Mranggen yang dari generasi ke generasi terus berinovasi dalam memberikan layanan kepada masyarakat dan melestarikan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh ulama.

Sebelumnya, pengasuh pesantren Futuhiyyah Mranggen KH Faizurrahman Hanif, saat menyampaikan sambutan selamat datang mengatakan, pesantren Futuhiyyah didirikan oleh KH Abdurrahman bin Qosidil Haq pada tahun 1901 dan dilanjutkan putranya KH Muslih.

Pada tahun 1970 KH Muslih mengambil langkah inovatif dengan mendirikan lembaga pendidikan formal, SMP di komplek pesantren Futuhiyyah yang saat itu dianggap aneh, padahal langkah ini mengikuti langkah pesantren Tebuireng Jombang yang mendirikan SMP pada tahun 1962.

“Langkah inovatif KH Muslih juga diikuti oleh generasi berikutnya, saat ini pesantren Futuhiyyah mengelola lembaga pendidikan mulai dari pra sekolah hingga Ma’had Aly, kami mohon doa dan dukungan agar upaya melanjutkan perjuangan yang dirintis para masyayikh senantiasa mendapat ridlo dan berkah dari Allah SWT,” tuturnya.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *