Dugderan
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dalam tradisi tahunan Dugderan 2025.(Dok. Humas Pemkot)
|

Festival Dugderan 2026: Akulturasi Barongsai dan Tradisi Islam Warnai Pesta Rakyat Semarang

SEMARANG[BahteraJateng] – Pemerintah Kota Semarang memastikan tradisi tahunan Dugderan 2026 digelar lebih meriah pada Senin (16/2) mendatang, dengan mengusung tema “Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi.”

Karnaval budaya ini menjadi istimewa karena berlangsung berdekatan dengan perayaan Imlek dan melintasi sejumlah ikon religi lintas budaya di Kota Semarang.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan Dugderan bukan sekadar seremonial menjelang Ramadan, tetapi ruang inklusif yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

“Dugderan adalah simbol kebersamaan warga Semarang. Kami ingin tradisi ini menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk menikmati kekayaan budaya sekaligus mempererat persaudaraan,” ujarnya pada Jumat (13/2).

Untuk menjaga kekhidmatan prosesi, karnaval dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berupa Pawai Budaya Dugder yang melibatkan komunitas seni dan masyarakat dari Balai Kota menuju kawasan Alun-Alun Kauman.

Sesi kedua dilanjutkan rombongan bus wali kota menuju Masjid Agung Jawa Tengah melalui Jalan Wahid Hasyim tanpa iringan parade.

Beragam atraksi kesenian, termasuk tarian daerah hingga penampilan barongsai, akan ditampilkan dalam pawai. Pemerintah kota ingin masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam pengalaman budaya yang utuh.

Selain itu, pelibatan generasi muda dilakukan melalui Kirab Dugder Anak dengan rute dari SD Marsudirini menuju kawasan Thamrin Square. Ribuan pelajar dan pegiat seni dijadwalkan ikut serta sebagai upaya mengenalkan nilai historis dan spiritual Dugderan sejak dini.

Menurut Agustina, edukasi budaya melalui pengalaman langsung penting untuk menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap identitas kota.

Perayaan Dugderan 2026 diharapkan menjadi magnet wisata budaya yang mampu menarik kunjungan wisatawan nasional maupun mancanegara.

Integrasi nilai religi, seni, dan toleransi yang kental dalam tradisi ini dinilai mempertegas posisi Semarang sebagai kota dengan keberagaman yang harmonis.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *