Getuk Campusari: Kudapan Tradisional di Blora yang Bertahan Ditengah Perkembangan Zaman
BLORA[BahteraJateng] – Disudut timur perempatan Tugu Pancasila, Kabupaten Blora, masih dijumpai gerai lapak kudapan tradisional yaitu Getuk Campursari yang selalu ramai dikunjungi pembeli dari berbagai umur.
Gerai lapak yang buka setiap jam empat sore hingga jam sembilan malam, menjual getuk, gendar, lopis, klepon, jongkong, moto kebo, cenil, hingga tiwul dan sredek dengan harga yang cukup ekonomis sesuai kantong.

Pemilik usaha Getuk Campursari, Sri Wahyuni asal Kelurahan Jepon, Kecamatan Jepon, mengkisahkan perjalanan awal usahanya dua belas tahun lalu.
“Usaha ini merupakan warisan dari orangtua yang berjualan gendar lopis dan sebagainya diarea Pasar Jepon. Dan dua belas tahun lalu, saya jualan keliling kota Blora menggunakan sepeda motor, dan suami juga keliling ke desa-desa juga menggunakan motor,” ujar Sri Wahyuni pada bahterajateng pada Sabtu (16/5).
Perjuangan panjang Sri Wahyuni bersama suami mulai membuahkan hasil. Berbekal pengalaman dan kepercayaan dari pelanggan, lima tahun lalu mulai mendirikan gerai lapak di dua lokasi sekaligus serta mulai mempekerjakan tenaga dari lingkungan sekitar rumahnya.
“Kalau jualan di perempatan Tugu Pancasila dan Alun-alun Kota Blora, sekitar lima tahunan ini, Alhamdulillah selalu ramai dan dagangan habis,” kenangnya sambil tersenyum.
Usaha kudapan tradisional yang dijalaninya mulai berkembang, dalam satu hari, Sri Wahyuni membutuhkan 25 kilogram ketela, 7 kilogram tepung tapioka, 2 kilogram tepung terigu, beberapa kilogram tepung aren, dan beras ketan, serta pisang sebagai bahan utama pembuatan kudapan tradisionalnya.
Salahsatu tenaga penjualan Getuk Campursari, Muhammad Khasiran atau akrab dipanggil Pak Mat, yang sudah bekerja lebih dari lima tahun, merasa betah walau harus bolak-balik dari Jepon ke lokasi penjualan setiap harinya.
“Saya juga berasal dari Jepon, kesini (Gerai perempatan Tugu Pancasila, red.) jam empat, pulang jam sembilan malam. Dan biasanya sebelum jam sembilan sudah habis dan terkumpul dua ratus ribuan lebih dengan harga per kemasan plastik mika lima ribu rupiah,” ucap Pak Mat.
Pak Mat juga mengungkapkan bahwa upah yang diterimanya dari Sri Wahyuni setiap malam cukup untuk keluarga.(day)

