Warga Lawas Duwet Gelar Ruwatan dan Sedekah Bumi untuk Keselamatan Tanjakan Silayur
SEMARANG[BahteraJateng] – Warga RW 04 Silayur Lawas Duwet, Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, kembali menggelar tradisi sedekah bumi dan ruwatan sebagai ikhtiar budaya sekaligus doa bersama untuk memohon keselamatan di kawasan Tanjakan Silayur pada Sabtu (16/5).
Kegiatan yang sempat lama vakum ini digelar menyusul maraknya kecelakaan di jalur tersebut, yang belakangan viral dengan sebutan “tanjakan tengkorak”. Sedekah bumi diawali dengan doa bersama dan tahlil, disertai penyajian tumpeng, buah-buahan, serta gunungan makanan tradisional di tengah warga.

Ketua RW 04 Silayur Lawas Duwet, Arsondi, menjelaskan bahwa tradisi ruwatan telah berlangsung sejak era Mbah Kromo pada 1960-an, yang kala itu menjabat sebagai Kepala Dukuh Silayur.
“Ruwatan dilakukan setiap bulan Apit atau Dzulqa’dah. Ini warisan leluhur yang sempat terhenti dan kini kami hidupkan kembali,” ujarnya.
Selain doa bersama, warga juga menggelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon Wahyu Ketentreman sebagai bagian dari rangkaian ritual budaya.
Sekretaris Camat Ngaliyan, Soegiman, mengapresiasi inisiatif masyarakat dalam melestarikan tradisi lokal yang sarat nilai spiritual dan kebersamaan.
“Kami menyambut positif upaya warga nguri-uri budaya. Semoga ruwatan ini membawa keselamatan bagi pengguna jalan dan masyarakat sekitar,” katanya.
Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya Jawa, tetapi juga simbol harapan masyarakat agar wilayah Silayur terhindar dari musibah serta tetap aman dan tenteram bagi generasi mendatang.

