Pemkot Yogyakarta one village one sister corporation
Kerjasama sektor hotel dan UMKM dalam program Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta one village one sister corporation, Senin (25/5/2026). (Foto. BahteraJateng/HH)

Wisata Jadi Penggerak Ekonomi Kota Yogyakarta, Pemkot Perkuat Jalinan Hotel dan UMKM

YOGYAKARTA[BahteraJateng] – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta terus memperkuat keterkaitan antara sektor pariwisata dan ekonomi kerakyatan melalui program One Village One Sister Corporate. Program tersebut mendorong kolaborasi antara hotel dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan hingga tingkat kampung wisata.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, mengatakan sektor pariwisata masih menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah. Karena itu, seluruh elemen usaha pariwisata perlu terhubung dengan UMKM lokal untuk menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas.

“Karena itu semua elemen usaha jasa pariwisata dan UMKM harus bisa disinergikan untuk mengakselerasi pergerakan ekonomi sampai level kampung wisata,” kata Daning.

Berdasarkan data hingga 31 Desember 2025, sektor perhotelan menyumbang 21,04 persen terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Yogyakarta melalui Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT). Sementara jasa makanan dan minuman berkontribusi 11,76 persen, jasa kesenian dan hiburan 1,30 persen, serta retribusi wisata sebesar 1,26 persen.

Menurut Daning, program One Village One Sister Corporate menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan perputaran ekonomi dari sektor pariwisata tidak hanya dinikmati pelaku usaha besar, tetapi juga masyarakat di tingkat bawah.

Saat ini Kota Yogyakarta memiliki 46 kampung wisata dan 45 kelompok sadar wisata yang dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis pariwisata. Berbagai program kolaborasi pun terus dilakukan, termasuk menerima kunjungan kerja DPRD dari berbagai daerah di kampung-kampung wisata Kota Yogyakarta.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan program tersebut harus diwujudkan melalui langkah nyata, bukan sekadar konsep.

Hingga saat ini, tujuh UMKM telah menjalin kerja sama dengan tujuh hotel di Kota Yogyakarta. Produk-produk lokal yang dihasilkan UMKM mulai diarahkan untuk memenuhi kebutuhan hotel, mulai dari perlengkapan kamar hingga produk pendukung lainnya.

“Ini sebagai kick-off untuk memulai langkah nyata. Harapan saya, hotel-hotel bisa ikut mensejahterakan masyarakat di sekitarnya,” ujar Hasto.

Ia memastikan Pemkot Yogyakarta akan melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan kerja sama yang dibangun benar-benar berjalan dan memberikan manfaat bagi pelaku UMKM.

“Ini besok kita evaluasi, kita cek betul, jangan hanya omong saja. Kita cek mana UMKM yang membuat sabun, mana yang membuat sandal, supaya produknya bisa masuk ke hotel,” katanya.

Hasto juga menekankan pentingnya kualitas produk UMKM. Karena itu, proses kurasi dan penilaian terhadap tempat produksi akan dilakukan secara ketat agar produk yang masuk ke hotel memenuhi standar yang dibutuhkan.

Di sisi lain, Ketua DPD PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono menyambut baik program tersebut. Menurutnya, industri perhotelan memiliki tanggung jawab untuk ikut memberdayakan masyarakat di sekitarnya.

“Karena bagaimanapun juga masalah kualitas harus menjadi perhatian. Produk yang digunakan hotel akan dinikmati tamu. Jangan sampai tamu merasa kecewa, ini akan menjadi perhatian bagi kami,” jelas Deddy.

Melalui sinergi antara hotel, UMKM, dan kampung wisata, Pemkot Yogyakarta berharap sektor pariwisata dapat menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan bagi masyarakat. (day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *